Selasa, Agustus 21, 2007

Tangan di Atas


Oleh: Choirul Asyhar

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Demikian salah satu ajaran Islam, demi memotivasi agar umatnya lebih banyak menjadi pemberi. Dan sebaliknya malu menjadi penerima. Apalagi sebagai peminta-minta. Bertebaran ayat Al Quran mengajarkan agar kita menginfakkan sebagian rizki kita. Bahkan hampir selalu berdampingan dengan perintah menegakkan sholat. Sebuah kewajiban yang identik dengan Islam itu sendiri. Meskipun banyak muslim yang tak sholat akan marah bila disebut kafir. Padahal Rasulullah mengatakan yang membedakan muslim dan kafir adalah sholatnya.

Kembali ke laptop! Eh... kembali ke topik. Berarti memberi adalah suatu amalan yang tinggi derajatnya. Karena perintahnya selalu disandingkan dengan perintah sholat.
Tapi betapa banyak kita tak peduli dengan ajaran ini. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Banyak pengemis di mana-mana. Di perumahan pengemis banyak berdatangan. Hampir setiap hari 2-3 pengimis mampir ke rumah saya. Apalagi kalau kita beri beberapa rupiah, bisa dipastikan besok atau lusa akan datang lagi.

Rasulullah mengatakan mengemis diperbolehkan jika benar-benar tidak ada yang dimakan untuk hari ini. Artinya boleh dalam keadaan darurat saja. Jadi tidak boleh dijadikan profesi. Apalagi sampai-sampai dengan mengemis bisa menabung, membiayai kebutuhan lainnya, bahkan membangun rumah.

Ngomong-ngomong membangun rumah, kabarnya di salah satu sudut Jawa ada desa yang sebagian besar penghuninya berprofesi sebagai pengemis di kota. Tapi kalau kita mampir ke sana, kita akan berdecak kagum. Ternyata rumah-rumah mereka di sana jauh lebih luas dan indah dibandingkan rumah kita sendiri yang sering mereka kunjungi.

Ada satu lagi gejala baru. Tidak hanya rumah pribadi yang dibangun dengan mengemis. Banyak rumah Allah yang dibangun dengan mengemis di jalanan. Panitia menyebar petugas-petugas yang siap dengan jaring untuk menangkap uang yang dilempar oleh pengemudi dan penumpang mobil yang lewat di jalan raya. Tidak jauh dari tempat mesjid akan dan sedang dibangun, di sana juga ada seorang yang bertindak sebagai MC untuk menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya ‘jaringan amal’ ini. Serta menyemangati pengguna jalan untuk beramal dengan segala imbalan do’a-do’anya.

Anda sedang memasuki daerah Jaringan Amal. Kalimat ini memang pernah saya baca ketika melintasi sebuah daerah di pantura. Saya kaget istilah apa pula ini. Teman saya memelesetkan dengan Amal Network. Padahal maksud jaringan adalah menangkap sedekah yang dilempar oleh pengendara mobil dengan sebuah jaring yang biasa dipakai anak-anak untuk menangkap kupu-kupu itu.

Mengemis atau tangan di bawah ternyata tidak Cuma dilakukan oleh orang miskin (yang lalu jadi kaya) dan panitia pembangunan masjid. Di banyak tempat juga banyak pengemisnya. Di kantor-kantor pemerintah maupun di kantor swasta.

Ketika memasuki kantor kelurahan, siapkan uang kecil sebagai uang lelah pak sekdes mengetik surat. Kalau tidak dikasih, kemungkinan besar –saya tidak berani mengatakan ‘pasti’- beliau cemberut. Kata anak muda, ”minta sih enggak, tapi kalau nggak ngasih ‘awas lo!”. Di kantor kecamatan juga demikian. Mengurus KTP, kita tidak bisa memberi uang sekedarnya. Meskipun itu berarti 5-10 ribu yang berarti sudah lebih dari biaya sebenarnya. Sudah ada tarip tak resmi tapi besarannya pasti. Kalau ini jelas-jelas diminta oleh petugas. Di kantor polisi ketika melapor kehilangan dompetpun, kita diminta uang administrasi. Padahal uang kita sudah hilang bersama dompetnya. Di kantor bea cukai apalagi. Setiap dokumen berarti uang. Mengeluarkan barang minta uang, memasukkan barang minta uang.

Di kantor swasta juga banyak pengemis. Kalau mau dagangan kita dibeli, bagian pengadaan barang minta komisi. Tidak ada komisi, tidak ada repeat order.

Tapi yang menggembirakan adalah adanya komunitas yang semangat untuk menjadi tangan di atas. Saking semangatnya bahkan karyawan atau buruh yang terima gaji bulanan itu disebut kelompok tangan di bawah. Karena selalu menerima uang dari majikan setiap bulan. Bayangkan, menerima gaji setiap bulan sebagai hak saja disebut kelompok tangan di bawah. Apalagi yang sengaja minta-minta pungli dan komisi. Entah apa mereka menyebutnya.

Mental tangan di bawah apalagi yang berarti mengemis, malak, minta komisi, pungli dan sebagainya harus sedikit demi sedikit dikikis. Diganti dengan mental beramal, berikhtiar dan berdo’a. Selalu memberi. Tidak selalu meminta. Dengan menyebut komunitas tangan di atas mereka punya cita-cita menjadi orang yang menggaji. Bukan lagi jadi orang yang terima gajian setiap bulan. Mereka pengen menjadi pengusaha yang menebar rahmat bagi umat. Apa ada? Lihat aja di: http://www.tangandiatas.com/.

Semoga Allah selalu membimbing mereka menggapai cita-cita mulia.

Cikarang Baru, 21 Agustus 2007