Senin, Maret 03, 2008

Lompatan Gito Rollies

Sepulang sholat jum’at 29 Februari 2008, sambil menikmati makan siang saya menyalakan TV. Sebuah televisi swasta menayangkan berita kematian Gito Rollies, alias Bangun Sugito sehari sebelumnya. Meski mendengar berita kematian adalah hal yang biasa, sewajar kematian bagi kehidupan, saya sempat kaget juga mendengarnya. Ada perasaan sedih dan gembira. Sedih karena seorang Gito Rollies dengan segala cerita pertaubatannya berarti sudah tak akan pernah saya dengar lagi. Gembira. Bagaimana tidak. Seakan akhir kehidupan yang indah telah ada di depan mata. Siapa yang tak tahu masa muda Gito Rollies. Sebagai public figure, rasanya tak ada yang tak kenal sepak terjangnya di dunia gelap narkoba saat kejayaannya bermusik. Dan akhir perjalanan itu kini telah dilaluinya. Dalam terang benderang hidayah Ilahi. Dunia gemerlap semu dalam kegelapan dunia hura-huranya telah diganti dengan dunia gemerlap yang sesungguhnya yaitu terang benderang cahaya Islam. Subhanallah. Dan inilah sekali lagi yang menggemberikan saya. Sekaligus menjadi muhasabah bagi kehidupan saya. Akhir kehidupan yang indah itu belum ada pada saya. Apapun bisa terjadi pada akhir kehidupan saya. Meskipun saya sangat berusaha dan terus berdoa agar akhir kehidupan yang indah itu akan saya alami nanti.

Indahnya akhir kehidupan atau khusnul khotimah adalah cita-cita setiap orang yang beriman. Karena akhir kehidupan dunia adalah awal kehidupan akhirat. Kehidupan yang sesungguhnya. Oh, betapa indah kehidupan akhirat yang diawali oleh indahnya akhir kehidupan dunia. Oh, betapa meruginya kehidupan akhirat kita jika diawali oleh buruknya akhir kehidupan dunia.

Baik dan buruknya kehidupan dunia diukur dari cara pandang tujuan hidup di dunia ini. Banyak orang bisa mengisi kehidupan dunianya dengan berkualitas karena visi yang jauh ke depan, bahkan sampai ke kehidupan akhirat. Sedangkan banyak kehidupan dunia yang diisi dengan aktivitas jangka pendek, yaitu kehidupan di dunia ini saja, karena pendeknya visi sebatas sampai di dunia fana saja. Maka kerja eksploitatif, memupuk kekayaan pribadi, tanpa menebar kebaikan bagi bekal akhirat, menjadi kegiatan yang menghabiskan waktu-waktunya.

Menyaksikan siapa yang melayat kematian Gito Rollies, tergambar itulah teman-temannya di lembaran-lembaran akhir hayatnya. Panggung-panggung da’wah menjadi saksi amalnya. Jauh lebih bermartabat daripada panggung-panggung hiburan yang dulu sepertinya tak lepas dari kehidupannya.

Menyaksikan akhir yang indah milik orang lain, tinggal aku memanggil untuk diriku sendiri, semoga akupun mendapatkan akhir yang indah itu. Karena kalau kematian saja kita tak dapat menghindar, kemanakah lagi kita lari saat mati nanti. Maka tiada pilihan lain selain menuju ke kehidupan yang terindah. Apalagi kalau bukan kembali bertemu Allah, Sang Pemilik alam semesta.

Kalau pejuang mujahid Indonesia pada zaman pergerakan kemerdekaan selalu memekikkan Merdeka atau Mati! Pasti itu maksudnya adalah Isy kariman au mut syahidan. Hidup merdeka sehingga menjadi manusia mulia, atau mati sebagai saksi dan disaksikan sebagai pejuang kebenaran itu sendiri.

Kalau ini yang dialami oleh Allahuyarham Bangun Sugito, berarti dia telah mengalami Quantum Leap ”minadz dzulumati ila annuur”. Insya Allah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Allahummaghfirlahu warhamhu, wa’afihi wa’fu ’anhu.

2 komentar:

Deddy Armunanto mengatakan...

Saya juga "makdeg" pakdhe, ngeliat berita meninggalnya Gito Rollies...

begitu banyak Allah memberikan kejadian demi kejadian kepada manusia di seluruh muka bumi ini, termasuk jalan kehidupan Gito Rollies, agar kita bisa berpikir dan mengambil ibroh sebanyak2nya atas kejadian2 itu..
Semoga Allah selalu memberikan kekuatan lahir dan batin utk selalu istiqomah di jalanNYA. Amien.

Choirul Asyhar mengatakan...

Ya, doa kita selalu mendapatkan khusnul khotimah. Selalu mengingat firman Allah : wa la tamuutunna illa wa antum muslimun. Jangan mati kecuali dalam keadaan muslim.