Minggu, Januari 20, 2008

Ada Makan Siang Gratis (?)

(Sebuah upaya memaknai Silaturahim)


Banyak ungkapan yang memaknai bahwa di permukaan bumi ini tidak ada orang yang melakukan suatu perbuatan tanpa mengharap imbalan dari orang lainnya. Tidak ada yang dilakukan tanpa pamrih. Sedemikian skeptis sehingga setiap tindakan dianggap secara gebyah uyah memiliki tendensi tertentu. Maka siapa diantara kita yang tidak kenal dengan ungkapan :

“Ada udang dibalik batu”
“Tidak ada makan siang gratis”
”There is no free lunch”

Wow, sedemikian sumpeknya kah hidup kita sekarang?
Tidak adakah lagi persahabatan sejati? Tidak ada lagikah silaturahim sejati?

Ya… bahkan silaturahim pun bisa menjadi ajang pertemuan yang ujung-ujungnya adalah bagi-bagi rejeki proyek! Jadi ada udang di balik silaturahim. Pakai dalil lagi. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW, bahwa silaturahim akan memanjangkan umur dan membuka pintu rezeki.

Siapa yang nggak mau rezeki? Zaman krismon begini, Bung! Banyak karyawan di PHK. Lowongan kerja bagaikan lubang jarum bagi orang tua yang matanya sudah rabun. Memasukkan benang ke lubang jarum saja susah. Apalagi dengan mata yang rabun. Susah buanget, Rek! Ya… Susah mengisi lowongan kerja yang sempit bagi korban PHK yang tentu sudah berumur dibandingkan yang fresh graduate atau lulusan SMA yang masih terang benderang matanya. Lalu kalau ada yang menawarkan rezeki, maka sekali lagi, siapa yang nolak?

Lalu yang kedua: Siapa yang nggak mau umurnya panjang? Mati?… Hiii begitu menakutkan. Bekal dunia aja cupet, apatah lagi bekal akhirat. Mungkin telah terhapus oleh keluh kesah sumpeknya hidup. Mana sempat mencari bekal akhirat, kalau waktu kita habis untuk mengais-ngais rezeki 12 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, 12 bulan setahun. Kalau ada istirahat, itu karena badan sakit meriang radang tenggorokan masuk angin puting beliung. Kalau orang berduit istirahatnya menghambur-hamburkan uang untuk wisata baik jasmani maupun rohani sampai ke Tanah Suci. Orang miskin istirahatnya adalah menyetorkan uangnya ke rumah sakit, apotik dan warung obat.

Maka wajar kalau orang berbondong-bondong ‘melaksakan’ sunnah Rasul ini. Orang berbondong-bondong silaturahim demi mendapatkan rezeki. Kalau pepatah mengatakan ada udang di balik batu. Maka kini ada rizki dan umur panjang di balik silaturahim. Jadi, kalau udangnya adalah rizki dan umur panjang. Silaturahim lalu sama dengan batu. Keras, kaku, mati, bisu, dingin kalau saja tidak ada pembicaraan proyek dan bagi-bagi rizki di dalamnya. Licin, gampang pecah berkeping-keping, mudah menggelincirkan kalau tidak arif dan adil dalam membagi rizki dan proyek.

Maka bahasa keren dari silaturahim bergeser menjadi networking. Membuka jaringan. Jaringan usaha. Jaringan bisnis. Apa saja jaringan yang penting tujuannya adalah rizki. Kalau rizki maknanya dipersempit menjadi ’uang’ saja, maka jaringan justru diperluas maknanya bahkan sampai menjadi jaringan kolusi, korupsi dan nepotisme. Ya... bahkan silaturahim menjadi ajang membuka jaringan KKN!

Pasti kita tidak jarang mendengar seorang bertamu ke rumah atau kantor pejabat. Layaknya tamu yang datang pembicaraannya bisa dibagi menjadi tiga bagian. Pembukaan, isi dan penutup. Ketika dipersilakan duduk, sang tamu membuka pembicaraan bahwa “pertama-tama tujuan kedatangan kami adalah untuk silaturahim”. Selanjutnya…. Sang tamu akan menyampaikan apa ’udang’nya. Bisa menawarkan barang atau jasa. Bisa minta proyek, minta restu ini itu. Lalu penutupnya adalah janji cipratan rizki sana-sini yang akan mengalir ke pundi-pundi sang pejabat. Maka silaturahim yang kaku seperti batu kalau tanpa udang, berubah menjadi lentur, hangat, hidup, cair dengan adanya udang yang berupa proyek bagi-bagi rizki itu.

Ini bikin hidup lebih hidup. Bikin umur makin panjang dan lama. Lalu serasa nikmat banget hidup di dunia. Gimana gak uenak.... Umur panjang, rezeki banyak. Lalu silaturahim yang demikian membuat kita malah lupa, ... atau tepatnya : nggak mau mengingat mati.

Maka pada gilirannya hadis Rasul yang menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang sering ingat akan kematian, menjadi hadis yang tidak populer. Jauh kalah populer dengan hadis silaturahmi membawa rizki dan umur panjang itu. Yang pertama mengingatkan kematian, yang kedua menjanjikan kamakmuran hidu. Bisa dipastikan kita lebih mencintai hidup daripada kematian. Kita lebih banyak merencanakan kehidupan yang layak daripada kematian yang penuh ampunan. Meskipun kita hafal peringatan Allah :

(17) والآخرة خير وأبقى (16) بل تؤثرون الحياة الدنيا

Tetapi kamu memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’laa : 16-17)

Benarkah istilah silaturahmi telah mengalami degradasi makna sedemikian rendahnya? Karena dia telah menjadi bahasa akademis dalam dunia marketing? Menjadi salah satu kiat dalam membesarkan bisnis?Do silaturahim! Do networking!

Lalu bagaimana kalau silaturahim itu ternyata tidak menawarkan proyek dan duit?
Silaturahim hanya untuk menjaga nasab agar kita dan sanak saudara kita tidak ’kepaten obor’? Kepaten obor adalah bahasa jawa yang dipakai untuk mengungkapkan kondisi dimana kita tidak tahu lagi silsilah keluarga dan kerabat. Ketika bertemu di jalan, kita panggil saja mereka dengan Pak, Om, Mas atau Dik. Karena kita tidak tahu detail siapa mereka sebenarnya dan di mana posisinya dalam hubungan kekerabatan keluarga besar kita.

Ya... ternyata silaturahim demikian ternyata tidak menarik. Kaku, bisu, dingin dan .... lucu! Lucu karena meskipun judulnya silaturahim ternyata malah diam-diaman saja dengan teman duduk yang ada di sebelahnya.

Ada lagi yang lebih lucu. Judulnya silaturahim ditambah dengan embel-embel silaturahim nasional atau silaturahim akbar nasional. Acaranya pun diumumkan di mana-mana. Sepanjang jalan sekian kilometer menuju gedung silaturahim terpasang puluhan umbul-umbul dan spanduk. Dihadiri oleh peserta seluruh negeri, terhormat dan berkedudukan. Tapi hasilnya adalah lempar-lemparan kursi dan caci maki. Kemudian esoknya muncul di surat kabar nasional adanya kepengurusan tandingan! Lalu berebut kantor pimpinan. Lalu berperkara di pengadilan. Sekali lagi, karena tidak ada ‘udang’-nya maka silaturahim menjadi seperti batu yang keras, licin, gampang pecah dan menggelincirkan kita terpeleset jatuh dalam perpecahan.
Lho, bagaimana dong! Silaturahim harus disyaratmutlaki adanya bagi-bagi proyek?

Ternyata tidak!

Rasulullah benar-benar menjalin silaturahim dengan para sahabat tanpa proyek bagi-bagi duit. Tanpa prospek bisnis yang segera harus ditindaklanjuti. Silaturahim benar-benar menyambung kasih sayang seperti halnya makna dari silaturahim itu sendiri. Silaturahim adalah mengucapkan salam sesama muslim. Silaturahim adalah saling bertegur sapa di masjid selepas shalat berjama’ah. Silaturahmi adalah bertegur sapa dengan tetangga. Silaturahim adalah menengok, mendoakan dan menghibur orang sakit. Silaturahmi adalah bahkan memandikan, menyolatkan jenazah dan mengantarkannya ke kuburnya.

Silaturahim adalah ketika Rasulullah setiap hari mendatangi dan memberikan roti kepada pengemis Yahudi buta yang justru setiap hari mulutnya mencaci maki kegiatan da’wah Rasulullah. Maka hasil silaturahim adalah masuk Islamnya si pengemis buta itu. Karena sepeninggal Rasulullah, sahabat Abu Bakar melanjutkan kebiasaan silaturahim itu. Tapi sang pengemis Yahudi ini mencaci rasa roti buatan Abu Bakar. Kenapa rasanya tidak selezat roti yang selama ini diterimanya. Abu Bakarpun menjelaskan bahwa pembuat roti lezat yang selama ini mengantarkannya sendiri kepadanya telah meninggal dunia. Karena itu Abu Bakar menggantikannya. Dan pembuat roti lezat yang rajin mengunjunginya itu adalah Rasulullah yang selama ini dicaci maki kegiatan da’wahnya oleh si pengemis buta itu. Maka hasil silaturahim adalah datangnya pengemis Yahudi itu ke pangkuan Islam.

Silaturahim adalah ketika Fatimah menyedekahkan gaun pengantin buatan ayahanda Rasulullah yang akan dikenakannya esok pagi kepada seorang pengemis yang mengetuk pintunya minta sekeping dua keping sedekah untuk mengganjal perutnya. Maka hasilnya adalah kedatangan seseorang yang mengantarkan gaun pengantin mewah, yang tidak lain adalah Jibril alaihis salam.

Silaturahim adalah ketika Ali Bin Abi Thalib mendapatkan beberapa dirham uang yang diperolehnya dari berhutang di pasar demi mengepulkan asap dapurnya, tapi lalu disedekahkan kepada sabahatnya yang ternyata dianggapnya ‘lebih’ membutuhkannya. Maka hasil silaturahim adalah Ali Bin Abi Thalib pulang tanpa membawa sepeser uangpun untuk Fatimah di rumah. Tapi dengan penuh keterperangahan Ali melihat bahwa telah tersedia hidangan masakan istimewa dari Surga sebagai ganti sedekahnya di pasar tadi.

Silaturahim adalah ketika Umar Bin Khattab sang pemimpin negara memanggul sendiri dengan punggungnya sekarung gandum demi meredakan tangis anak-anak warga negaranya yang capek menunggu matangnya beberapa burtir batu yang direbus oleh ibunya. Maka hasil silaturahim adalah kesejahteraan rakyatnya dan lecutan bagi Umar agar menjadi pemimpin yang lebih peduli lagi dan melayani rakyatnya.

Agaknya silaturahim demikian terjadi karena didasari oleh minimal kedua hadis Nabi di atas. Menjaga kehidupan tapi terus menginvestasikannya bagi kematian yang menjadi pintu gerbang menuju akhirat. Karena faham benar bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati.

Adakah silaturahim demikian? Sekarang?

Tidak sama persis memang. Tapi saya mendapatkan nuansanya. Ada makan siang gratis. Tak ada pamrih proyek atau prospek.

Tanggal 11 Januari 2008, dalam kunjungan saya menengok anak saya di pesantren Assalam di Solo, saya meluncur ke kantor seorang aktivis TDA Joglo. Tak ada komunikasi dan tatap muka sebelumnya kecuali melalui email. Sampai di kantornya, teman tadi tidak ada di tempat. Kabarnya baru tadi pagi subuh pulang ke rumah. Berarti jam sebelas siang ini pasti beliau masih istirahat di rumahnya. SMS dan telpon saya ke HP-nya pun tak berbalas. Sampai akhirnya saya harus pamit karena sebentar lagi masuk waktu sholat jum’at.

Ba’da shalat Jum’at, Hp saya berdering tanda ada SMS masuk. Sang teman menanyakan saya ada di mana dan dia mau menjemput saya. Tak lama kemudian dengan mengendarai motor dia memasuki halaman masjid. Meski belum pernah ketemu, saya hafal wajahnya setelah dia membuka helmnya. Karena saya beberapa kali menyaksikan wajahnya di weblognya. Blog yang berisi aktivitsnya membina dan bersama beberapa kelompok tani. Pemberdayaan dan advokasi petani. Siapa yang tak kenal dengan Pak Riza ini.

Setelah bertegur sapa, saya pun nyengklak ke jok belakang motornya menuju sebuah rumah makan. Kita makan siang dulu, katanya. Yang diiyakan oleh perut saya yang memang sudah mulai berasa lapar.

Makan siang nasi dan sayur asem serta ikan lele goreng plus sambel demikian nikmatnya. Obrolan pun berlangsung gayeng, sampai kemudian bergabung seorang bujangan yang energik dan aktif. Seorang koordinator TDA Solo, Mas Sangaji, yang katanya pengen menikah tahun ini.

Tak terasa obrolan silaturahim ini berlangsung satu setengah jam. Dan saya sudah harus pulang karena tiket bus sudah di tangan. Mas Sangaji pun dengan bermotor ria mengantar saya ke pool bis yang akan mengantar saya menuju Cikarang.

Ini pertemuan silaturahim murni. Tidak ada pembicaraan proyek, karena saya belum jadi pebisnis seperti Pak Riza dan Mas Sangaji. Tak ada bagi-bagi rizki apalagi komisi. Yang ada hanyalah menambah persaudaraan sehingga nanti saya akan mampir ke sini lagi saat menengok anak saya sebulan lagi. Syukur bisa menumpang tidur, sehingga uang penginapan saya bisa jadi uang saku anak saya di pesantren selama sebulan.

Lumayan, di sini ada makan siang gratis. Tumpangan gratis ke pool bis. Belajar ilmu sosiologi pertanian gratis. Belajar ilmu agribisnis gratis. Dan pertemanan yang sudah pasti gratis. Mudah-mudahan bulan depan ditambah numpang tidur gratis. Khas TDA. Hasil silaturahim ini telah saya rasakan saat itu juga berupa rasa syukur kepada Allah karena ada kesempatan yang diisi pertemanan yang tulus. Dan hasil silaturahim ini saya yakin nantinya juga akan saya rasakan lagi. Tidak harus berupa bisnis. Tapi juga tidak harus tidak berupa bisnis. Karena: Ini TDA, Bung!

Cikarang Baru, 19 Januari 2008
Atau 10 Muharram 1429H, saatnya mulai menjalin juga silaturahim dengan anak yatim dan dhuafa.

4 komentar:

Deddy mengatakan...

Jujur, memnag terjadi pergeseran arti silaturahim, spt yang ditulis oleh Pak CH.
Harus ada komitmen dan niat kita untuk melakukan silaturahmi tanpa pamrih, semua dilakukan dalam rangka ibadah...
Dan juga jangan sampai ada pikiran yang buruk (su'udzon) -ada udang dibalik batu-kepada saudara kita yg bila menelpon kita atau bertamu ke kita. Audzubillah...
Semoga kita tetap bisa komitmen dengan arti sebenarnya tentang Silaturahmi.
Pakdhe, terima kasih tulisannya.. cukup menggugah hati yang "tertidur" dan "terlupakan" dengan kata silaturahmi. SYukron!

Choirul mengatakan...

Terima kasih komennya Pak Deddy.
Setiap menulis sebenarnya saya sering merasa menasehati diri sendiri juga. Insya Allah, dan syukur kalau bemanfaat untuk semua pembaca.

Riza @ Solo mengatakan...

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Wah Cak Choirul sudah bikin catatan perjalanan Solo di sini. He he he telat taunya.

Tulisannya menarik sekali Cak. Memang kita harusnya selalu pegang kata "Lillah" dan "Billah". InsyaAllah semua nyaman.

Entar kalau ke Solo lagi bisa silaturahmi dengan teman-teman TDA Solo Cak. Seru sekali nanti.

Eh, kalau ke Solo lagi boleh nginap tempat saya lho. Don't worry be happy pokoknya.

Salam

Riza @ Solo

Choirul mengatakan...

Wa'alaikum salam Mas Riza,
Terima kasih buanyaaaak atas makan siang gratisnya dan tumpangan tidur gratis pada kunjungan saya berikutnya ke solo.

Salam silaturahim.

Indah... indah.... indah...

(Kok di Milad kemarin gak lihat sampeyan?)