Sabtu, April 05, 2008

Gagal Karena Jujur

Tanggal 26 Maret 2008 saya pergi ke Solo dalam satu missi. Menjemput anak saya dari pesantrennya. Pasalnya, sebulan yang lalu saat saya menengok anak laki-laki saya di pesantrennya, dia minta pulang barang beberapa setelah mid test-nya selesai tanggal 27 Maret 2008 besok. Maka hari ini saya datang karena hendak minta izin untuk membawanya pulang barang 5-7 hari. Istirahat setelah mid test, dan melepas rindu setelah 5 bulan berpisah.

Dalam perjalanan saya menganggap ini misi yang mudah. Saya akan datang kepada seorang ustadz, lalu meminta izin mengajak anak saya pulang. Dengan alasan apa adanya, tidak dibuat-buat dan mengada-ada. Dan saya menganggap saya tidak akan menghadapi hambatan apa-apa. Karena alasan yang saya sampaikan manusiawi dan mudah dimaklumi.

Maka Kamis pagi 27 Maret 2008 saya tiba di Solo. Tanpa strategi khusus, apalagi merekayasa alasan agar tujuan saya terlaksana. Pagi itu anak saya akan menjalani hari terakhir mid test. Saya menghabiskan waktu di Masjid dengan membaca buku dan tilawah al Quran. Sampai ba’da dhuhur seorang Ustadz naik ke mimbar dan mengatakan bahwa tidak ada izin pulang, kecuali sakit dan membutuhkan perawatan di luar, sayapun masih menganggapnya ini masalah yang remeh temeh. Dulu setelah ulangan semester juga demikian. Tertulis di pintu ruang Kesantrian dengan huruf kapital ”TIDAK ADA IZIN PULANG KAMPUNG”, toh ternyata menurut cerita anak saya dari 19 teman sekamarnya tinggal 8 orang yang tidak pulang, termasuk anak saya. Ketika saya tanya, ”Lho, kok bisa? Apa alasannya pulang?” jawab anak saya, kebanyakan menggunakan alasan sakit setelah datang ke UKP (Unit Kesehatan Pondok). Jadi para santri ngaku sakit agar bisa dapat izin pulang.

Saya katakan kepada anak saya, ”Nak, sehat itu mahal. Ini nikmat Allah. Jangan menukar nikmat sehat ini dengan berpura-pura sakit demi mendapatkan izin pulang kampung.” Kalau nikmat sehat itu dicabut oleh Allah, pasti kita akan menyesal.

Maka setelah mendengar pengumuman itu saya tenang-tenang saja. Saya akan datang menghadapnya dengan alasan apa adanya. Dan kejujuran saya, insya Allah saya mendapatkan hasil yang baik.

Ternyata menemui sang Ustadz tidak mudah. Tampaknya sang Ustadz sengaja menyembunyikan diri karena sudah bisa menduga akan banyak orang-orang tua seperti saya yang merengek-rengek datang minta kebijaksanaan diizinkan membawa anaknya pulang. Maka hari itupun saya tidak meneruskan perburuan saya, ketika istri dan anaknya mengatakan dia sedang istirahat. Dan baru keesokan harinya ba’da shalat subuh saya berhasil menemuinya.

Saya menyampaikan alasan apa adanya. Dan ternyata saya gagal mendapatkan izin itu. Saya menyampaiakn alasan demi kepentingan saya dan anak saya. Sang Ustadz menyampaikan alasannya tidak memberi izin berdasar sudut pandangnya: tidak ada kepentingan bagi pesantren. Dan pesantren yakin larangan santri pulang demi kebaikan santri dan keberhasilan proses belajar di pesantren. Intinya: Tidak ada kompromi. Tidak ada jalan tengah. Dan yang ada saya harus mengalah. Karena kalau Ustadz mengatakan ’pokoknya tidak’, tidaklah mungkin saya menjawabnya ”pokoknya saya akan bawa anak saya”. Apalagi lalu saya bawa kabur anak saya. Hanya demi mendapatkan liburan 5-7 hari. Itu tidak mungkin.

Jadi akhirnya saya mengalah. Maka ketika saya menyampaikan masalah ini kepada anak saya. Tampak menggelayut kekecewaannya. Agaknya sejak kemarin dia optimis bahwa saya akan mendapatkan izin mengajaknya pulang. Ternyata tidak. Apalagi setelah saya mengatakan bahwa inilah yang terbaik dari Allah. Buah dari kejujuran, dengan alasan yang seadanya, dan ternyata gagal membawanya pulang. Mungkin susah dimengerti oleh anak saya. Teman-temannya yang tak jujur mengaku sakit padahal wajahnya segar bugar lolos mendapatkan izin pulang, sementara dia dan ayahnya yang jujur justru gagal mendapatkan izin. Di mana kebaikannya?

Allah Maha Tahu dan memberikan kebaikan bagi hamba Nya. Maka saya yakinkan anak saya bahwa Allah pasti memberi kebaikan dibalik kegagalan saya membawanya pulang kampung.

Tidak mungkin kejujuran yang kita junjung tinggi menyengsarakan kita. Sebaliknya ketidakjujuran ternyata berhasil mengantarkan kita mencapai tujuan, bukanlah itu berarti cara yang harus ditempuh. Karena hikmah itu adalah apa yang terjadi dibalik kejadian. Kegagalan dibalik kejujuran akan kita dapat hikmahnya nantinya. Demikian juga keberhasilan karena ketidakjujuran akan kita unduh akibatnya.

Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat tiba’a. Wa arinal bathila bathila warzuqnat tinaaba.

Cikarang Baru, 5 April 2008