Jumat, April 25, 2008

Black Campaign!

Seorang kandidat pilkada menyampaikan keburukan lawan politiknya di panggung kampanye. Massa yang hadir tepuk tangan tanda setuju. Sorak sorai menyemangati sang kandidat. Kampanye negatif berketerusan. Massa, makin senang. Bahkan merasa calonnya yang paling hebat. Dan keputusannya sudah bulat. Coblos nomor pilihannya di hari pilkada nanti.

Itulah black campaign. Sering ini dilakukan karena frustrasi mau ngomong apalagi untuk menggaet suara sebanyak-banyaknya. Apalagi jika lawannya sudah di atas angin. Lajunya tak terbendung. Maka jurus pamungkasnya adalah membuka aib-aibnya. Targetnya adalah calon pemilih lawan politiknya beralih memilihnya. Atau minimal calon pemilih lawan politiknya jadi ragu.

Karena asyik melakukan kampanye negatif lawannya, dia jadi lupa menyampaikan visi misinya. Anehnya massanya ’ho-oh’ saja.

Black campaign rupanya tidak saja terjadi di dunia politik. Di dunia bisnis juga tak kalah serunya. Iklannya sudah menyerang pesaingnya. Pada iklan motor, ketika pesaingnya menyatakan irit bensin, maka muncul iklannya dengan ”ah, paling juga segini iritnya” sambil memegang sesendok bensin.

Ketika sebuah operator telepon seluler memasang tarif rendah dengan syarat tertentu. Yang lain mengatakan tarifnya asli rendah. Perhitungannya tidak njelimet. Tanpa syarat. Dan sebagainya. Haruskah menyampaikan keunggulan suatu produk dengan sekaligus merendahkan produk pesaing. Pemasangan papan iklanpun saling bersebelahan. Dengan tema saling menjelek-jelekkan. Iklan jadi seperti perang ’mulut’. Iklan itu seharusnya menampilkan keunggulan kepada konsumen. Bukan menampilkan kejelekan pesaingnya kepada konsumen.

Sambil menyelam minum air. Itu barang kali prinsip yang dianutnya. Sambil menyampaikan keunggulannya, menjelekkan produk pesaingnya. Anekdot katak berenang sangat cocok untuk jenis iklan demikian. Agar sang kodok bisa melaju ke depan. Dia harus menendang ke kanan kiri dan menyibakkan kaki depannya ke kanan kiri pula. Artinya sukses maju dengan menyingkirkan lawan-lawannya. Sukses bersama gagasan Aa Gym mungkin tak berlaku.

Seorang teman yang punya usaha jualan pulsa sampai pusing menjelaskan banyak pertanyaan pelanggannya tentang cara menghitung tarif pulsa. Saya sendiri daripada pusing memikirkan pulsa yang saya pakai, mendingan saya pakai prinsip bicara seperlunya saja. SMS jadi pilihan pertama jika ini dirasa cukup. Jika bisa menyampaikan pesan dengan dua kata kenapa harus lebih. “Never use three words when you can say it in two.” Kata seorang pakar komunikasi.

Jadi daripada termakan black campaign lebih baik kita pilih yang santun dan tawadhu’. Akhir-akhir ini banyak wirausahawan yang menjual dengan hati. Mengedepankan etika. Bahkan banyak memberi dan melayani. Rasulullah Muhammad SAW adalah pengusaha sukses. Dia mengajarkan umatnya berbisnis dengan jujur. Ketika pedagang kurma mencampurkan yang buruk dengan yang baik, Rasulullah menegurnya. Maka beriklan bahkan tidak hanya menyampaikan kebaikan produknya, tapi juga kekurangannya sehingga calon pembeli tidak over expectation. Kandidat pimpinan daerah juga demikian. Kampanye seharusnya menyampaikan visi dan misinya. Sampaikan time schedulenya. Sampaikan tahapan-tahapannya untuk mencapai apa yang dijanjikan itu. Menyampaikan syarat-syaratnya. Rasional. Tidak di awang-awang. Apalagi sibuk mengupas tuntas keburukan musuhnya.

Dalam hal ini sang kandidat bisa belajar dari wirausahawan dalam membuat bisnis plan. Tentu saja dari wirausahawan yang jujur pula. Yang membuat proposal bisnisnya bukan untuk mengemplang bank.

Saatnya kejujuran menjadi panglima di negeri ini. Agar berkah Allah turun dari langit dan bumi.

Cikarang Baru, 25 April 2008