Jumat, September 21, 2007

Sahur Heboh

Hari ke delapan Ramadhan ini benar-benar heboh. Tahun ini adalah tahun kedua bagi anak kami untuk menjalankan puasa Ramadhan. Umurnya baru 7 tahun, tapi sudah belajar puasa penuh. Karena itu harus bangun sahur jam setengah empat pagi dan berbuka ketika maghrib tiba. Ya tahun ini adalah tahun ke dua baginya. Dan hari ini adalah hari ke delapan dia harus bangun sahur.

Tujuh hari telah dilaluinya dengan mulus. Tapi pagi ini anak kami benar-benar bikin heboh. Paling tidak, heboh bagi ibunya. Awalnya saya tidak tahu persis. Karena tiba-tiba istri saya membangunkan saya sambil berkata: “Ayah, tuh temenin Athaya untuk sahur. Mungkin bisa lebih tenang.” Jadi saya bangun paling belakangan. Begitu saya ke ruang (tamu yang disulap jadi ruang) makan, saya lihat Athaya sedang merengek. Di depannya sudah ada semangkuk mie instant. Saya menyimpulkan, pasti tadi dia minta mie ini. Sedangkan ibunya meskipun tidak setuju, akhirnya mengabulkan juga. Tapi anehnya, justru mie di depannya pun tak disentuhnya. Istri terus bicara, bahwa kalau makan mie saja, pasti besok puasanya gak kuat. Jadi harus makan nasi dan telor ceplok juga.

Saya hanya berkata dalam hati: Mie-nya saja belum dimakan sudah disuruh makan nasi dan ceplok juga. Tapi saya tidak bicara apa-apa karena kalau saya nimbrung pasti sahur pagi ini makin heboh.

Berkali-kali istri mengingatkan dengan nada tinggi bahwa jamnya jalan terus. Anak kami berdalih bahwa Ibu juga tidak sahur, cuman makan minuman organik saja. Istri saya memang sedang melaksanakan terapi obesitasnya dengan makan makanan organik saja ketika sahur. Istri saya membela diri, bahwa ini berbeda. Makanan ini memang mengenyangkan, tapi rasanya tidak enak, sehingga Athaya pasti tidak suka. Karena itu ia tidak menganjurkan Athaya untuk ikut-ikutan sahur makanan organik saja.

Sekali lagi istri saya berkata untuk menakut-nakuti Athaya bahwa jamnya jalan terus. Athaya gak ngerti jam, sih, jadi nyantai aja. Juga kata-kata lain yang tidak mudah untuk menuliskannya dengan pilihan bahasa yang lembut. Karena mungkin amarah sudah semakin meningkat menguasai dirinya. Mungkin kesal akan tingkah laku sang anak membuat beberapa kata meluncur tanpa pikiran jernih.

Diam-diam kulirik jam dinding. Sudah jam empat kurang lima menit. Berarti sudah hampir setengah jam Athaya ngambek. Tak ada komunikasi lagi dari mulutnya kecuali suara rengekan. Lalu dia pindah menelungkup di lantai di depan kamar. Rengekannya masih berlanjut. Mungkin dia berharap kita sebagai orangtuanya mestinya tahu apa maksud tangisannya. Orang tua kan serba tahu. Tapi kenapa sekarang tidak paham juga. Istri saya malah menjawabnya dengan ”Athaya, Ibu mana tahu dengan apa yang ada dalam hatimu. Ayo, Athaya mau apa, sih?” Dia sekali lagi menjawab dengan rengekan.

Tangisan makin keras ketika istriku mengatakan bahwa meskipun dia tidak makan sahur hari ini dia tetap harus puasa. Saya meraba-raba bahwa kekesalan karena kebuntuan komunikasi menimbulkan keputusasaan sehingga melahirkan ’ancaman’ ini. Sebuah ’ancaman’ yang saya sendiri takut mendengarnya. Padahal sebelumnya saya hendak menengahi dengan mengatakan sebaliknya. Kalau tidak makan sahur, berarti tidak puasa. Saya yakin ’ancaman’ saya ini juga efektif. Karena anak kami paling takut kalau tidak puasa penuh. Tapi ’ancaman’ istri lebih dulu terdengar. Maka Athaya menangis makin keras mendengarnya. Mungkin dia takut kelaparan. Sementara tidak puasa juga ketakutan tersendiri baginya.

Saya terus menyelesaikan makan sahurku. Sama sekali tidak hendak memperkeruh suasana pagi yang penuh berkah ini. Dalam hati saya terus berdoa, agar tidak keluar dari mulut istriku ancaman dan omongan yang lebih tidak baik lagi.

Perlahan Athaya bangkit dari posisi telungkupnya. Dia harus bangkit untuk melihat jam dinding, karena pandangannya terhalang lemari kayu tuaku. Ternyata dia mengerti jam. Buktinya dia segera menuju meja (tamu yang disulap menjadi meja) makan. Diambilnya sepiring nasi dan telor ceplok yang sudah disiapkan setengah jam yang lalu. Dua puluh menit lagi masuk waktu imsya’. Seperti biasa, dia makan dengan pelan. Ibunya sudah masuk kamar setelah menyelesaikan ’makan’ sahurnya. Mengaji atau menyiapkan diri untuk shalat Subuh. Sesekali saya ingatkan agar dia makan lebih cepat. Kalau tidak keburu imsya’. Meskipun saya tahu bahwa imsya’ hanya tanda waktu berhati-hati sebelum masuk waktu Subuh dimana kita baru benar-benar harus mengakhiri sahur kita.

Benar juga. Nasinya habis pas waktu imsya’ tiba. Tapi dia belum minum segelaspun, tangannya justru meraih semangkok mie yang sudah dingin itu. Saya tidak melarangnya. Masih ada waktu 10 menit sebelum masuk Subuh. Dia lahap sekali menyeruput mie dinginnya. Celakanya, azan Subuh di masjid dikumandangkan lebih cepat tiga menit oleh Muazin. Mungkin jam di masjid lebih cepat 3 menit. Anakku masih menikmati mie-nya. ”Teruskan, masih ada waktu tiga menit” kata saya. Dia menghabiskan kuah mie-nya. Lalu menyeruput segelas air. Dalam hati saya berkata “Masih banyak waktu untuk kamu mengerti kewajiban agama ini”.


Cikarang Baru, 20 September 2007/ 8 Ramahan 1428 H.