Senin, Juli 30, 2007

Bercanda


Mantan PM Singapore, Lee Kuan Yew, bercanda dengan mantan presiden RI, Soeharto, Kamis (26/7). Demikian tertulis dalam koran Republika, 27 Juli 2007, di bawah foto besar di halaman pertama.

Dalam foto terpampang wajah Soeharto mantan penguasa Orde Baru tersenyum sambil mengangkat tangan kirinya menempel di kening kirinya. Dari wajahnya sepertinya Pak Harto menikmati perjumpaan dengan kawan lamanya ini. Senyumnya lepas. Tak ada kesan yang kurang dalam kesehatannya kecuali garis-garis tua dan lemah sebanding dengan umurnya yang lebih 80 tahun itu.

Di Cendana sana, Pak Harto ngobrol dengan LKY penuh canda tawa. Saya tidak tahu apa yang dibicarakannya, karena Republika tak menurunkan beritanya kecuali berita gambar ini.

Bagi pembaca seperti saya ini, rasa syukur terlintas dalam hati karena melihat Pak Harto yang masih sehat wal afiat dalam usia setua itu. Saya membayangkan coba kalau beliau tidak menjadi ikon korupsi di negeri ini. Tentu beliau masih sering muncul di media masa. 32 tahun memerintah negeri besar Indonesia ini sangat layak menempatkannya menjadi nara sumber bagi berbagai masalah yang banyak kita hadapi akhir-akhir ini. Pengalamannya sangat berarti bagi kelanjutan pembangunan negeri ini. Kewibawaan dan kharismanya bisa ditularkan kepada para presiden penggantinya. Sehingga demokrasi tidak berarti menggerus kewibawaan presiden. Sehingga globalisasi tidak harus berarti ketundukan kepada negara adidaya. Lalu keamanan bersama dalam kehidupan di satu bumi tidak berarti merelakan sebidang tanah dan sepotong samudera bagi latihan perang-perangan negara lain.

Saya bayangkan Pak Harto dengan kebugarannya dan kemurahsenyumannya akan layak tayang di televisi swasta kita. Setiap acara talk show atau dialog interaktif di televisi yang ditingkahi perdebatan kusir seperti di pos ronda, penyampaian pendapat yang emosional dan berbagai konspirasi antara salah satu nara sumber dengan pembawa acara yang mudah ditebak, akan indah ketika ditutup oleh Pak Harto yang telah lengser menjadi Pandito.

Betul. Kita butuh pandito, guru bangsa, kiai, ulama yang omongannya didengar, tingkah lakunya bisa ditiru, fatwa-fatwanya diterima sebagai kebenaran yang mengantar kepada kebaikan di dunia dan akhirat, meskipun pahit dan sulit dilaksanakan. Karena omongannya, tingkah lakunya, fatwa-fatwanya hanya merujuk pada kebenaran saja. Bukan punya tujuan jangka pendek duniawi saja.

Kita tidak butuh guru, para ahli, ulama yang menyampaikan fatwa dan pendapat tanpa rujukan apa-apa. Bahkan hati nuraninya pun yang sebenarnya sudah installed dalan dirinya. Apalagi yang hanya berdasarkan bisikan gaib, baik dari makhluk gaib maupun yang bersembunyi di balik layar.

Tapi jarum jam tidak bisa diputar ulang. Waktu tidak bisa ditarik ke belakang. Reinkarnasi adalah keyakinan yang tak mungkin terjadi. Maka tulisan saya di atas hanya sekedar khayalan yang tak bakal terjadi. Mungkin pembaca ada yang berkomentar ”Bercanda, Lu! Tak mungkin itu terjadi. Telan saja kenyataan pahit ini.”
Maka saya jawab. Betul, saya telah telan kenyataan pahit ini. Setiap presiden tidak menjadi siapa-siapa lagi setelah lengser. Tidak ada kehormatan. Tidak ada salam ta’dzim. Apakah karena mereka tak pernah menanam benih kebaikan selama menjadi presiden? Tak mungkin. Pasti ada dan sangat banyak. Atau karena ketidaksempurnaannya sebagai manusia menyebabkan mereka sengaja atau tidak telah memercikkan keburukan yang ternyata meski sedikit bisa melunturkan susu sebelanga? Ya, mungkin saja.

Betul, saya telah bercanda. Sekedar menghibur hati yang sedang berduka. Memoles kenyataan yang tak seindah harapan. Bercanda agar tidak stress memimpikan sebuah bangsa yang punya panutan. Memimpikan bangsa yang tak bebas kebablasan. Tak terkendali seperti bangsa negara adidaya yang arogan dengan kepintarannya. Yang menganggap tak ada lagi kebenaran hakiki. Karena katanya kita bangsa manusia yang memiliki keterbatasan. Pikirannya relatif, kebenaran yang disampaikannya pun relatif. Yang mutlak hanya kebenaran yang disampaikan Tuhan langsung. Padahal Tuhan tidak turun dan bicara langsung kepada manusia. Kecuali melalui para rasul, diteruskan para sahabat, tabi’in, ulama dan para guru bangsa.

Saya becanda agar tidak stress. Bukan ngeledek atau satiris dengan keadaan bangsa ini. Sama juga seperti foto Soeharto-LKY itu. Mereka bercanda agar tidak stress di masa-masa tuanya. Bukan meledek pembaca: Bahwa meski tua mereka masih segar bugar. Malah justru memberi semangat: jagalah kebugaran Anda, sehingga kalau tua tidak sakit-sakitan.