Jumat, Juni 06, 2008

Bea Cukai, Bersiap-siaplah


Saya memberi judul ini karena memang inilah saatnya BC kena batunya. Sebagai seorang mantan karyawan yang dulu banyak berhubugan dengan BC saya sangat bersyukur dengan kinerja KPK menyatroni salah satu Kantor Pelayanan BC yang berada di Tanjung Priok beberapa hari yang lalu. Temuan Rp 500 juta hanya dari satu kantor BC, harus melecut KPK menggeledah kantor-kantor lainnya. Tentu dengan cara yang lebib canggih, karena BC pasti sangat hati-hati setelah temuan ini.

Tadi pagi saya menyaksikan keterangan seorang wakil KPK di TV. Dia mengatakan adanya temuan bahwa kerja orang BC dalam korupsi sudah terkoordinir rapi. Ada yang bertindak sebagai pengumpul lalu mendistribusikan kepada semua staf BC. Dan ini sudah berlangsung lama, katanya.

Saya tidak asing lagi dengan penjelasan itu. Ketika bekerja di bagian ekspor di sebuah perusahan asing di kawasan industri EJIP di Cikarang, saya sering menyaksikan pemandangan yang kini diekspos oleh KPK di berbagai media itu. Tidak hanya menyaksikan bahkan mengalami pemalakan-pemalakan setiap mengurus dokumen PIB di kantornya di Purwakarta. Ketika memasukkan material rutin untuk keperluan produksi tidak ada masalah karena pabrik kami berstatus Kawasan Berikat. Lancar-lancar aja. Tapi ketika memasukkan mesin-mesin baru misalnya. Langsung mata petugas hanggar menjadi ijo. Mereka melihat ini sebagai proyek. Maka hitung-hitungan berapa rupiah per container pun muncul.

Setiap pengusaha Kawasan Berikat di pintu gerbangnya berkantor petugas BC. Setiap truk keluar masuk pabrik pasti melalui pemeriksaan BC. Lalu setiap forwarder yang keluar masuk pabrik itu pun dikenai tarip oleh oknum BC yang taripnya ditetapkan per container. Terbayang jika setiap bulan ada 200 kontainer, dengan tarip Rp. 10.000,- per container, dua juta rupiah harus dikeluarkan oleh perusahaan forwarding untuk petugas BC itu. Itu untuk satu kantor hanggar BC. Bagaimana jika forwarder tersebut juga melayani pabrik-pabrik lain yang di dalamnya juga nongkrong petugas BC? Biaya siluman BC yang ditanggung oleh forwarder pada gilirannya pasti juga akan dibebankan kepada pabrik. Jika tidak ingin gulung tikar. Pabrikpun lalu menghitungnya sebagai faktor biaya produksi. Lalu harga jual menjadi tidak kompetitif.

Bukan itu saja yang ditanggung pabrik. Setiap mengeluarkan barang untuk penjualan ke DPIL, dikenai biaya pemeriksaan yang kami bayar setiap bulan di luar honor bulanan.

Cerita tentang pemeriksaan dokumen di pelabuhan Tanjung Priok maupun Soekarno Hatta juga memuakkan. Petugas BC lebih banyak memeriksa adakah uang disisipkan di dokumen atau tidak. Jika tidak ada, dokumen tidak diperiksa. Jika ada, dokumenpun lolos. Kata petugas forwarding “saking banyaknya dokumen, laci BC tidak pernah sempat tertutup.” maksudnya untuk memasukkan uang pelicin.

Cerita rebutan kue barang bekas/scrap juga menyebabkan pengelola barang bekas atau sampah pabrik memilih berdamai dengan menyisihkan uang bulanan bagi BC.

Berita terakhir, BC tidak malu-malu minta uang melalui SMS dan sejenisnya. Saya teringat beberapa tahun lalu, petugas hangar setiap bulan menulis surat tagihan kepada setiap perusahaan yang berada di bawah pengawasannya. Pernah petugas BC membuat surat tagihan yang diketik rapi, lalu titipkan ke staf saya untuk difax ke perusahaan forwarder. Tagihan apa? Tagihan bulanan uang pemeriksaan, uang lelah selama sebulan, dan kalau perlu THR dan bonus tahunan.

Ketika awal-awal reformasi, kami pengusaha Kawasan Berikat membentuk forum untuk bersama-sama melawan kedzaliman BC. Salah satunya menyeragamkan tarip pungli –kami belum berani menghapusnya sama sekali. Meskipun sempat membuat BC ketakutan, tapi ternyata forum ini tak berumur panjang, karena belum ada political will dalam pemberantasan korupsi pada masa pemerintahan Gus Dur itu. Bahkan praktek korupsi pejabat, justru membangkitkan kembali ketamakan BC dengan berani mengancam penghambatan keluar masuknya barang ke/dari pabrik. Maka forumpun bubar. Layu sebelum berkembang.

Jadi langkah penggeledahan KPK sangat menggembirakan saya. Seakan tersalur kegemasan saya terhadap ketamakan mereka. Empat tahun bekerja di bagian ekspor impor, hampir setiap hari saya bertemu dengan mereka. Dan menyaksikan kebobrokan perilaku sebagian besar mereka. Meskipun sering berlindung dibalik peraturan dan perundang-undangan, akhirnya karena semua tampak telanjang: UUD ..... ujung-ujungnya duit.....!

Selamat bekerja KPK!
Bersihkan BC sehingga menjadi lembaga yang berwibawa.
Selamatkan generasi muda di BC agar tidak larut dalam arus kotor senior-seniornya.

Cikarang Baru, 5 Mei 2008

"Fighting corruption means that you are helping your citizens to live in a world that, if not completely egalitarian, is at least more fair, where people are rewarded on merit and effort and not because of their dishonesty." [Abdou Latif Coulibaly, TI 2005 Integrity Award Winner]

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Tulisan anda benar. Perbuatan kolusi terjadi ada kemauan, kesempatan, dan keterpaksaan (bekerja dalam system kolusi).
Tapi masih banyak pegawai bea cukai tidak mendapatkan kesempatan bekerja di Tj. Priok, Purwakarta, dst. Dan memeiliki intergritas yang tinggi untuk menolak KKN.

Choirul Asyhar mengatakan...

Betul, karena jumlahnya yang sedikit mereka menolak KKN untuk diri sendiri, tapi tak kuasa mencegah KKN yang dilakukan teman-temannya.

Juga banyak teman-teman generasi baru di BC yang masih bersih. Karena itu kalau KPK tidak bertindak saya khawatir darah BC ini akan tercemar juga nantinya.