Sedianya aku bertekat menulis setiap langkah persiapanku menuju Ramadhan. Untuk menyemangati diri sendiri bahwa aku memang harus serius mengisinya dengan ibadah berkualitas.
Tapi lagi-lagi kesoksibukan melenakan saya. Sehingga jangankan menuliskan persiapan saya, mempersiapkan diripun aku tak bisa mendefinisikan. Apa yang telah kusiapkan. Tak ada data apa yang telah disiapkan dan apan yang belum. Sebagaimana ketika kita hendak pergi jauh. Daftar barang yang mau dibawa kita buat rapih, sehingga ketahuan mana yang sudah ada dan mana yang belum.
Padahal pengetahuan bahwa Ramadhan penuh berkah, sudah sering kita dengar. Dan kita percaya benar sebagai orang beriman. Tapi rasanya saya mau mencapainya saja tanpa cukup mempersiapkannya.
Juga Ramadhan yang penuh maghfirah. Siapa yang akan menolak dosanya yang bejibun diampuni Allah. Siapa lagi yang mengampuni dosa kita jika bukan Allah. Maka Choirul siapkan dirimu memenuhi panggilan Ramadhan. Menjemput ampunan-Nya.
Lalu Allah membebaskan kita dari Api neraka. Wow, api rokok saja kita tak sanggup menahannya. Apatah lagi api neraka yang panasnya sampai 70 kali lipat panas api dunia. Lalu apa yang akan kita siapkan untuk menyambut tawaran ini. Sami’na wa atho’na. Ya Allah aku mau. Siapa yang tak mau. Bimbinglah aku mendapatkannya.
Oh, kesempatan yang sayang jika lewat begitu saja. Kapan lagi kita bisa mendapatkannya kalau bukan sekarang.
Beberapa menit lagi Ramadhan datang. Itupun belum tentu umur kita sampai, apatah lagi menunggu Ramadhan tahun depan.
Tertunduk hatiku memohon lagi kepada Allah
Allahumma ballighna Ramadhan.....
Allahumma ballighna Ramadhan....
Allahumma ballighna Ramadhan....
Cikarang Baru, 12 September 2007
Rabu, September 12, 2007
Allahumma Ballighna Ramadhan
Ramadhan Countdown -2
6 Hari Lagi
Semakin dekat, semakin terasa
Tak bakal bisa ditolak kehadirannnya
Betapapun berat hati menerimanya
Dia pasti datang menjelang
Maka kenapa kita tak siap-siap saja menyambutnya
Kalau di dalamnya banyak Allah menjanjikan kebaikan bagi kita
Kenapa tak kita tangkap saja kebaikan itu
Kenapa tak kita siapkan saja syarat-syaratnya
Demikian guruku selalu mengajarkan
Tapi persiapanku pun tak kunjung lengkap
Rasanya aku selalu menyiapkan diri
Tapi selalu saja aku tak percaya diri
Ketika ruhiyah harus diasah
Tetap saja banyak aktifitas yang kulakukan justru menumpulkannya
Ketika hatiku bertekat menghadap Allah malam hari
Selalu saja nafsuku membisik-bisiki
Tidur lebih baik agar besok segar mencari rizki
Ketika harus berlatih menahan diri sepekan dua kali
Susah benar bangun sahur karena semalaman tidur larut sekali
Ketika kutahu Rasulullah manusia mulia
Susah payah mempersiapkan diri sejak dua bulan sebelumnya
Oh, siapakah saya merasa ringan dengan kedatangan bulan mulia ini
Cikarang Baru, 7 September 2007
Serial Peluang Korupsi - 6:
Di Jalan Raya (2)
Ketika coba-coba jualan kayu untuk palet, pada pengiriman pertama saya ikut menumpang truk. Sekitar jam sembilan malam truk masuk ke sebuah pintu tol. Baru saja truk meluncur setelah menerima tiket tol, sopir telah menginjakkan lagi kakinya di pedal rem. Truk berhenti tepat di belakang mobil polisi yang dari tadi berhenti di bahu jalan sambil menyalakan lampu sirine polisinya. Sopir truk turun menuju mobil polisi. Tidak lama, karena semuanya sudah disiapkan. Sopir truk mengulurkan sejumlah uang. Selesai.
Ketika truk kembali berjalan saya menanyakan apa yang dia lakukan tadi. Katanya, ini hal yang biasa. Setiap lewat jalan ini sopir truk harus menghentikan truknya meskipun tidak distop polisi. Lampu sirinenya yang menyala dan berputar-putar adalah sinyal keberadaannya. Sopir truk yang mengerti pasti berhenti, turun dan setor sejumlah uang. Jika tidak pasti dikejarnya dan akan menghadapi masalah yang lebih besar. Yang bermakna uangnya harus lebih besar untuk berdamai.
Ketika saya tanya berapa uang yang disetor? Jawabnya hanya lima ribu rupiah. Angka ini juga sudah menjadi kesepakatan tak tertulis. Jika sopir memberikan lebih banyak, justru polisi akan curiga. Barang berharga apa yang ada di truk ini kok sopirnya royal banget.
Saya hanya tersenyum kecut, sambil membayangkan jika semalam ada seratus truk yang lewat berarti besok pagi pak Polisi akan membawa pulang lima ratus ribu rupiah. Uenak tenan……..
Dalam perjalanan, pak sopir menceritakan bahwa sebenarnya perusahaan transportasi tempatnya bekerja sudah menyetor sejumlah dana bulanan kepada pejabat kepolisian setempat. Tapi, katanya –sebagaimana pengakuan polisi di lapangan- dana itu tidak sampai muncrat ke lapangan, karena itu yang di lapanganpun mengutip lagi.
Kali ini saya tersenyum lagi, sambil berkata dalam hati kepada pengusaha transportasi .... “kacian deh lu........”
Jumat, September 07, 2007
Serial Peluang Korupsi - 5:
Di Jalan Raya (1)
Untuk menambah mengepul dapur istri, saya memberdayakan mobil carry saya dengan mengangkut anak-anak sekolah. Hitung-hitung sekalian mengantar anak saya sekolah juga. Sekitar lima tahun saya menjalankan usaha hidup seperti ini. Alhamdulillah bisa menggaji sopir dan membuat mobil saya bisa berjalan karena ada uang bensin dan oli lebih dari cukup. Tidak ada halangan berarti, sampai suatu ketika mobil saya dicegat oleh polantas. Mobil saya ditilang karena tidak memiliki izin usaha bus sekolah. Saya yang buta dengan perundang-undangan yang banyak sekali itu mempertanyakan sejak kapan kita harus punya izin usaha bus sekolah. Ternyata ada Perda-nya. Ya sudah saya mengalah. Maka saya ditilang. Untuk membantu program pemerintah (padahal sebenarnya karena saya kesal) saya sampaikan ke petugas yang menilang saya. Bahwa kalau memang mau menegakkan perturan, polantas tidak perlu berpanas-panas di jalan raya. Cukup nongkrong aja di depan sekolah. Pasti puluhan mobil tertangkap. Sekalian bisa memberi pencerahan kepada para sopir, bahwa usaha antar jemput anak sekolah harus berizin. Saya menyebutkan 3-4 sekolah di Cikarang yang banyak menggunakan jasa antar jemput untuk murid-muridnya. Tapi sang petugas hanya tersenyum kecut. Entah apa artinya hanya dia dan Allah yang tahu.
Ketika mendatangi persidangan pada tempat yang disebutkan dalam surat tilang, sopir saya di arahkan ke kantor polisi tertentu. Ternyata STNK mobil saya ada di sana. Untuk menebusnya tidak perlu sidang. Cukup sopir saya menyerahkan uang 80 ribu dan STNK pun sudah berpindah tangan! Ketika dilapori hal ini sore harinya, kali ini saya yang tersenyum kecut!
Lho, apa gunanya surat tilang. Apa gunanya saya patuh tidak memberikan uang damai, kalai ujung-ujungnya uang saya toh tidak masuk ke kas negara. Tapi jadi bancaan kantong petugas!
Suatu Sabtu saya naik motor dari Cikarang ke Cibitung. Di perjalanan ada razia surat-surat kendaraan dan SIM. Merasa surat saya lengkap saya berhenti dengan santai. Ketika saya membuka dompet saya, ternyata saya hanya menemukan SIM C saya. STNK-nya tidak saya temukan, meskipun saya sudah teliti membuka lembar-lembar struk ATM dari dompet saya. Saya teringat, bahwa STNK tertinggal di salah satu kantong baju saya yang saya pakai beberapa hari yang lalu. Kejadiannya ketika parkir motor di suatu pertokoan, saya harus menunjukkan STNK kepada petugas ketika meninggalkan tempat parkir. Setelah itu saya tidak mengembalikannya ke dompet saya, tapi ke kantong baju. Karena tidak disiplin menempatkan sesuatu pada tempatnya maka sekarang saya menerima akibatnya. Saya ditilang karena tidak bisa menunjukkan STNK.
Kata Polisi seharusnya kalau tidak punya STNK, yang ditahan adalah motornya tapi Pak Polisi dengan kebijaksanaannya cukup menahan SIM C saya, meskipun saya sebenarnya merelakan motor saya ditahan. Setelah itu Polisi mengeluarkan kebijaksanaan lagi, bahwa kalau keberatan ikut sidang bisa menitipkan uang Rp 75.000,- kepadanya. Karena pengalaman terdahulu, saya memilih titip uang saja. Toh sama-sama ujung-ujungnya uang tilang masuk kantong petugas. Tapi karena saya masih harus meneruskan perjalanan, saya minta tanda bukti bahwa saya sudah ditilang. Kalau tanpa tanda bukti, saya khawatir di depan ada tilang lagi, saya jadi tekor kor. Apa jawaban Pak Polisi? ”kalau gitu, Bapak sidang aja, deh.” Wow, ngambek ni yee.... Karena curiga, ujung-ujungnya uang saya ditilep juga, maka saya minta diberi kemudahan. Karena menggunakan bahasa Jawa, maka akhirnya saya diarahkan untuk menebus SIM saya di Polres Kabupaten Bekasi yang ada di Cikarang, dekat rumah saya.
Pada hari H saya ambil SIM saya. Setelah membuka data base yang berisi besarnya denda setiap kesalahan, ternyata benar saya harus bayar Rp. 75.000,- Saya coba menawar. Akhirnya petugas memberikan diskon Rp. 5.000,-. Jangan tanya kuitansi, karena sudah saya tanyakan, dan ternyata tidak ada. Oh kasihan negeriku, banyak enterpreneur di kantor pemerintahnya.
Rabu, September 05, 2007
Ramadhan Countdown
8 Hari Lagi
Hari ini 23 Sya’ban 1428H, bertepatan dengan 5 September 2007.
Menurut hisab, Ramadhan akan jatuh tanggal 13 September ini.
Berarti delapan hari lagi.
Enam atau tujuh hari lagi ahli ru’yat akan melakukan aktifitasnya menjadi saksi munculnya hilal bulan Ramadhan.
Apapun keputusannya, Ramadhan bakal datang.
Tinggal apakah kita sempat menemuinya atau tidak, wallahu’alam.
Karena itu saya selalu berdoa dan berharap agar usia saya sampai pada Ramadhan tahun ini.
Allahumma ballighna Ramadhan...
Ya Allah, sampaikan umurku pada Ramadhan....
Ketika membaca do’a ini, saya menghadirkan suasana Ramadhan yang sayang jika terlewat.
Ramadhan yang penuh barakah. Sayang sekali kalau tak diisi ibadah.
Pahalanya berkelipatan. Sayang sekali kalau kualitas ibadahku asal-asalan.
Bertebaran hikmah di dalamnya. Sayang sekali kalau kita tidak memaknainya.
Waktunya Cuma sebulan. Sayang sekali kalau terlewatkan.
Menjadikannya sama dengan bulan-bulan lain.
Oh, alangkah meruginya saya.
Ramadhan yang penuh maghfirah. Allah menjanjikan ampunan-Nya kepada siapa saja
yang berpuasa dan menegakkan Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan.
Wow, kalau setiap Ramadhan menghapus dosa-dosa kita tahun sebelumnya.
Berarti dosa ku yang berusia 42 tahun ini sama saja dengan dosa adikku yang berusia 36 tahun.
Yang tercatat hanya setahun terakhir saja. Dan segera akan terhapus begitu memasuki hari raya.
Oh, Maha Pengasihnya Allahu Rabbuna. Oh, Maha Penyayangnya Allah.
Tapi, jika aku melewati Ramadhan tanpa isi apa-apa?
Betapa menumpuknya dosaku. Sedangkan sepertinya tiada amalan lain
yang bisa menghapuskannya melebihi amalan-amalan Ramadhan.
Sangat wajar, jika bisa meraih ampunan dari Allah, berarti dosa-dosa kita menjadi minimal.
Maka wajar pula Rasulullah berkata dengan Ramadhan Allah akan membebaskan kita dari api neraka.
Oh, kesempatan yang sayang jika lewat begitu saja. Kapan lagi kita bisa mendapatkannya kalau bukan sekarang.
Delapan hari kedepan saja, belum tentu umur kita sampai, apatah lagi menunggu Ramadhan tahun depan.
Tertunduk hatiku memohon jawaban
Allahumma ballighna Ramadhan.....
Allahumma ballighna Ramadhan....
Allahumma ballighna Ramadhan....
Cikarang Baru, 5 September 2007

