Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 03, 2010

Ramadhan: Dirindukan Kedatangannya, Dicuekin Kepergiannya


Ketika Ramadhan datang umat Islam dari berbagai lapisan gembira menyambutnya. Itu jika dilihat dari antusiasme kita mendatangi masjid di hari-hari awal Ramadhan. Masjid yang luas terasa sempit. Mesjid yang sejuk jadi panas. Karena umat Islam tumplek bleg di Masjid. Tak jarang DKM menambah tenda di sayap kiri, kanan dan belakang masjid. Tikar tambahan dari wargapun dikumpulkan.


Ramadhan memang membawa magnet tersendiri. Seluruh kebaikan terkumpul di sini. Panggilan adzan menjadi panggilan paling menarik untuk dipenuhi. Dengan datang berbondong-bondong ke masjid. TV? Goodbye! Al Quran menjadi buku bacaan terfavorit. Koran....?? Sayonara!
Sehari, dua hari, sepekan dua pekan....
Lalu tiba-tiba pengunjung masjid mulai berguguran. Pembaca Al Quran mulai kecapekan. Seakan ada kebosanan dengan tamu Ramadhan yang tak kunjung pergi. Justru kita yang meninggalkan sang tamu.

Apalagi ketika anak-anak sekolah mulai libur. Karyawan mulai menerima THR. Ibu-ibu kembali sibuk di dapur dan mall untuk belanja keperluan lebaran. Sang Bapak juga absen dari masjid karena harus mengantar anak istri membeli keperluan mudik.

Kita meninggalkan tamu kita, justru pada saat sang tamu belum pergi. Bahkan saat sang tamu baru hadir separuh dari waktu yang disepakati. Seakan kita sudah capek menjamunya. Seakan kita sudah bosan dengan kehadirannya. Seakan sang tamu pantas untuk dibiarkan pergi saja.

Bosan... Capek.... Kangen ingin segera menjalani kehidupan seperti sebelum Ramadhan lagi.
TV... koran... majalah....
Sinetron... infotainment .... gosip...

Ooh.... sepertinya kita lupa bagaimana dulu kita menyambut kedatangannya.
Maka kini kita cuek saja dengan kepergiannya. Karena THR sudah di tangan. Karena tiket mudik sudah di tangan. Karena baju baru sudah ditangan....???

Terngiang tausiyah Ustadz, bagaimana para sahabat menginginkan seandainya saja semua bulan dalam setahun itu menjadi Ramadhan. Karena mereka merasakan kenikmatan Ramadhan dan bertaburannya kebaikan dan pahala di bulan ini.

Tidak kita merasakan hal yang sama???

Rabu, September 09, 2009

Segelas Es Kelapa Muda

“Assalamu’alaikum….!” Terdengar suara teriakan anak kecil di depan pagar. Pak Fulan yang berada di ruang tamu langsung bangkit menuju pagar.

“Silakan, Pak….” Kata si anak kecil itu. Tanpa menunggu pagar dibuka, tangannya langsung molos melalui celah-celah pagar. Pak Fulan refleks menerimanya, juga tanpa basa-basi membuka pagar misalnya. Bisa kejepit tangan si anak kecil itu.

Beberapa saat kemudian segelas es kelapa muda berpindah tangan dari tangan si kecil ke tangannya.

Beberapa menit kemudian, terdengar adzan maghrib dari TV. Setelah membaca basmalah, Pak Fulan menyeruput es kelapa muda yang masih belum lepas dari tangannya itu. Dia merasakan benar nikmatnya berbuka puasa hari ini. Segelas es kelapa muda benar-benar membuatnya ‘hidup’ kebali. Bagai tanaman kering mendapat siraman air. Nilainya mungkin cuma dua ribu rupiah. Tapi kali ini Pak Fulan menganggap tak ternilai harganya. Karena dia hadir pada saat sangat dibutuhkan.

Pak Fulan bukanlah seorang miskin. Dia seorang pensiunan PNS yang dari penampilannya, pangkatnya terakhir cukup lumayan. Dia memiliki rumah tipe 45 yang sudah direnovasi cukup bagus. Dia punya motor keluaran baru. Tak ada tanda-tanda berkekurangan.

Sore itu dia sendirian di rumah menunggu adzan maghrib. Tak ada persiapan apa-apa untuk berbuka puasa. Istrinya sedang sibuk menyiapkan takjil di masjid dekat rumah. Di masjid ini setiap hari ada acara berbuka bersama. Beberapa warga mendapatkan giliran menyediakan makanan takjilnya. Rencananya Bu Fulanah tidak lama di masjid. Hanya menyerahkan sedekah berbuka bersama. Lalu pulang mengurus suaminya.

Ternyata di masjid kekurangan orang untuk melayani berbuka warga yang sudah berkumpul di sana. Bu Fulanah yang ringan tangan langsung turun membantu. Lupa bahwa di rumah belum disiapkan takjil untuk suaminya.

Maka kedatangan anak kecil membawa segelas es kelapa muda, bagai air hujan yang turun di musim kemarau yang panjang. Kesegaran bakal didapatkannya begitu azan maghrib tiba nanti. Segelas es kelapa muda, tak peduli hanya dua ribu rupiah, seperti tak ternilai harganya jika datang pada saat yang tepat. Jika diterima oleh orang yang benar-benar membutuhkan.

Maka terngiang sabda Rasulullah tentang anjuran beliau salallahu ‘alaihi wasallam
Agar kita berlomba-lomba menyediakan makanan berbuka bagi mukmin yang berpuasa. Disisi Allah pahalanya sama dengan pahala yang diterima orang yang berpuasa yang diberi makanan berbuka itu tanpa mengurangi hak pahala orang tersebut sedikitpun.

Ini amalan mulia yang terbuka bagi siapa saja. Tak perlu menunggu kaya untuk menjamu makanan berbuka. Karena menunya tak harus mahal. ……… Si kecil –mungkin atas perintah orang tuanya, nampaknya sedang berlatih memberi sedekah berbuka….walau dengan segelas es kelapa muda.

……… Bahkan sabda sang Rasul SAW ”Walaupun dengan sebiji kurma, walaupun dengan seteguk air.”

Sebuah kemudahan yang sayang jika ditinggalkan.

Cikarang Baru, 18 Ramadhan 1430H/8 September 2009

Minggu, Agustus 23, 2009

Wah, kok banyak …………?

Sabtu, tanggal 22 Agustus 2009. Dhuhur. Saya seperti biasanya mengajak anak terkecil saya, Adnan (5), ke masjid untuk shalat berjamaah.


“Wah, kok banyak orang…?” itu kata-kata yang terlontar spontan dari mulutnya. Sesaat setelah kakinya melewati pintu masjid. Rupanya dia heran kenapa dhuhur ini jamaah sholat dhuhur sampai lebih dari 3 shaf. Berarti lebih dari 75 orang. Biasanya cuma satu shaf. Baik hari libur maupun hari kerja.


“Iya, Awal Ramadhan banyak yang shalat di masjid.” Jawab saya spontan dan tak sempat menutup-nutupi kenyataan ini. Padahal bisa saja saya jawab “Iya, kan hari libur… mungkin banyak yang tidak bepergian jadi sempat sholat dhuhur berjamaah.”. Entah kenapa justru jawaban jujur itu yang saya berikan.


Oke, apapun itu. Ini pelajaran berharga bagi kita orang dewasa. Betapa anak sekecil Adnan ternyata memperhatikan betul keadaan lingkungannya. Dia memperhatikan betul kondisi masjid di siang hari di hari-hari biasa. Maka sekarang ini adalah luar biasa!

Biasanya dia selalu dapat shaf depan meskipun dating terlambat. Karena shafnya cuma satu! Kini dia ada di paling belakang.


Dan ‘konyol’nya kok saya terus terang saja memberikan jawaban. Karena awal Ramadhan banyak orang merindukan masjid. Mereka masih dipenuhi dengan euphoria suasana ruhiyah yang tinggi. Sehingga kaki ringan saja melangkah ke masjid, meskipun sebenarnya tidur di rumah lebih enak. Perut lapar, hawa panas, emang enakan tidur atau shalat di kamar yang ber AC. Tapi berkah Allah di bulan Ramadhan inilah yang menyebabkan mereka ringan-ringan saja keluar rumah dan shalat berjamaah di masjid. Suatu hal yang jarang dilakukan kebanyakan orang.


Melihat suasana ini, biasanya hati saya terharu….. Oh, indahnya masjid kita jika terus dihiasi oleh kedatangan warga sekitar masjid setiap adzan dikumandangkan. Mesjid indah tidak hanya oleh ornamen keramik, kaligrafi, karpet indah dan mahal, ventilasi berprofil kaligrafi, podium khotib yang artistic, kaca lukis, atau suara imam plus sound system yang menghasilkan suara teduh menyentuh kalbu. Tapi juga oleh banyaknya trafik jamaah datang pergi setiap waktu shalat.


Shaf-shaf shalat yang tersusun penuh dan lurus. Shaf-shaf yang penuh dari barisan terdepan sampai terbelakang. Gemuruh takbiratul ikhram yang mengikuti takbir sang imam. Suara “Amiin” yang indah, merdu dan bergemuruh memenuhi ruang-ruang kosong masjid. Juga ruang-ruang kosong kalbu. Seirama dengan suara “Wa ladhldhoooollin” yang sebelumnya dilantunkan sang Imam. Lalu gerakan serentak para makmum mengikuti gerakan imam. Rukuk, I’tidal. Sujud –duduk-sujud. Lalu berdiri lagi. Serentak bergerak memenuhi aba-aba takbir dari Sang Imam. Kemudian terakhir serentak pula salam ke kanan dan ke kiri.


Inilah keindahan masjid yang sesungguhnya yang saya bayangkan. Bagaimana indahnya ketika setiap pengunjung masjid saling bersalaman saat dating dan pergi. Menanyakan kabar dan kesehatan. Saling mengelus kepala anak-anak kita. Wah, benar-benar silaturahim yang menyemangati dan memanjangkan umur.


“Ayah… kok masih banyak yang sholat?” tanya Adnan tadi malam saat shalat maghrib pada hari yang sama, 22 Agustus 2009. Aku terhenyak dengan pertanyaan spontannya. Rupanya dia menggarisbawahi benar jawaban saya saat dhuhur itu. Dalam jawaban saya terkesan jelas banyaknya jamaah shalat di masjid hanya di awal-awal saja. Dan masalahnya, bagi Adnan dari dhuhur sampai maghrib adalah waktu yang lama. Karena selama menunggu maghrib itu dia beberapa kali merengek lapar dan haus menahan puasanya.


Mungkin logika Adnan, setelah sekian lama berlalu, seharusnya jumlah warga yang sholat berjamaah di masjid kembali normal lagi. Tak sebanyak ini.


Cikarang Baru, 23 Agustus 2009

Choirul Asyhar

Berharap keindahan masjid terjaga sepanjang waktu.

Senin, Agustus 17, 2009

Dua Momen Besar di Bulan Ini

Ada dua momen besar di bulan Agustus tahun 2009 ini. Yang pertama hari ulang tahun kemerdekaan RI dari penjajahan colonial Belanda dan Jepang. Setelah hidup terjajah lebih dari 350 tahun. Lalu yang kedua yang tak kalah pentingnya adalah datangnya bulan Ramadhan 1430H.


Yang pertama adalah momen penting bagi kehidupan kita berkebangsaan. Telah 64 tahun kita merdeka. Artinya kita bebas mengatur nasib kita sendiri. Tanpa campur tangan asing. Tanpa pesan sponsor asing yang mendikte bahkan mencocok hidung kita. Ini patut disyukuri. Allah telah menganugerahkan kemerdekaan kepada kita sejak 64 tahun yang lalu. Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, kita bebas melaksanakan sholat lima waktu. Dan keempat rukun islam lainnya. Tak ada lagi penjajah yang mendikte kita untuk menghadap dan menghormat kearah tertentu seperti pada jaman Jepang dulu.


Sekali lagi ini patut disyukuri. Maka suka cita menyambut hari kemerdekaan menjadi hal yang wajar. Sebagai bentuk syukur kita atas anugerah kemerdekaan yang diberikan oleh Allah melalui darah para syuhada yang berjuang melawan dan mengusir tentara penjajah.


Yang kedua momen besar itu adalah datangnya bulan Ramadhan pada bulan Agustus ini. Bulan yang patut kita rindukan kedatangannya. Karena dia bak tamu agung yang penuh dengan kebaikan di dalamnya.


Bayangkan kalau kita kedatangan tamu yang ternyata membawa keberkahan bagi kehidupan kita. Dia memberikan kita pekerjaan. Atau mengajak berbisnis dengan keuntungan yang pasti. Atau membantu biaya anak kita yang sedang dirawat di rumah sakit. Atau bahkan hanya sekedar menghibur kita yang sedang dirundung kesedihan. Pasti kita suka cita menyambutnya. Kita berterima kasih atas kunjungannya. Kita enggan melepasnya ketika sang tamu berpamitan. Dan kita sangat mengharapkan sang tamu mampir lagi ke rumah kita kapan saja dia mau.


Itu tamu yang baik hati. Yang menyenangkan kehidupan kita di dunia.

Bagaimana jika tamu itu adalah tamu agung yang bakal memberi keberkahanan tak hanya di dunia. Tapi juga di akhirat? Sudah sepantasnyalah kita merindukannya.


Bahkan amat sangat merindukannya!


Betapa tidak, di bulan Ramadhan ini amal ibadah kita dilipatgandakan pahalanya. Sebaliknya dosa-dosa diampuni. Tak hanya itu, doa-doa kita diijabah oleh Allah. Artinya…. Saat inilah kita mendulang banyak kebaikan. Timbangan amal kebaikan kita bakal ‘njomplang’ keberatan. Jauuuuuhh lebih berat daripada dosa-dosa kita. Dosa-dosa kita yang setiap hari kita tak luput melakukannya. Tiba-tiba dengan kemurahan-Nya Dia mengampunkan kita di bulan ini. …….. asal kita tahu batas-batasnya. Yaitu amalan apa yang harus dikerjakan selama bulan ini. Dan apa yang harus kita tinggalkan.


Ada dua momen besar di bulan ini.

Dari dua momen itu, manakah yang kita lebih suka cita menyambutnya?


Cikarang Baru, 16 Agustus 2009, jam 10:43

"di lapangan sayup-sayup suara hura-hura makin menghilang... tanda hari sudah malam... besok subuh di masjid mudah-mudahan jangan kesiangan."

Selasa, Oktober 23, 2007

Serangan 1 Syawal

Ketika memasuki bulan syawal biasanya ada dua perasaan yang berkecamuk dalam diri kita. Yang pertama perasaan gembira karena besok kita berbuka alias tidak puasa lagi. Di mana karena merasa telah melaksanakan ibadah Ramadhan sebaik-baiknya maka kita merasa berhak atas kemenangan dan kesucian jiwa. Setelah sebulan penuh mengalami pembinaan dan penggemblengan di bulan Ramadhan, wajar jika kita bergembira menyambut kedatangan idul fitri. Sabda Rasulullah SAW bahwa dua kebahagiaan orang yang berpuasa adalah ketika berbuka dan ketika berjumpa Allah di surga nanti.

Perasaan yang kedua adalah sedih karena kenikmatan Ramadhan telah berlalu. Saat-saat Allah menurunkan berkah dan pahala yang berlimpah-limpah telah berlalu. Banjir berkah, rahmat dan pembebasan dari api neraka telah lewat. Saat-saat mendebarkan mengharapkan lailatul qadar tak ada lagi. Ya, semuanya tak ada lagi sampai Ramadhan tahun depan. Sedangkan kita tak pernah tahu apakah kita bisa merasakan kenikmatan itu tahun depan. Jangankan setahun lagi, apa yang terjadi pada diriku setelah mengakhiri tulisan inipun saya tak pernah tahu. Maka sedih ditinggal Ramadhan adalah perasaan yang wajar ada pada diri kita, jika kita pandai-pandai memaknainya.

Pengalaman 27 kali berpuasa ternyata tidak hanya dua perasaan itu yang saya alami.
Sering saya merenung, sebenarnya selama Ramadhan itu siapa yang sedang digembleng. Orang-orang yang beriman atau syetan? Sering saya merasakan justru syetan makin hebat ketika bulan syawal tiba. Dan kita semakin loyo menghadapinya. Penggemblengan yang kita alami selama sebulan tidak membuat kita semakin digdaya menghadapi godaan syetan. Atau karena kita kelelahan? Sehingga pas 1 Syawal kita kedodoran menghadapi serangan syetan.

Serangan macam apa?
Salah satu serangan yang tampak memukul kita secara telak adalah pada subuh 1 Syawal. Banyak adzan Subuh tidak dikumandangkan dari corong masjid. Masjid yang setiap subuh selama sebulan di bulan Ramadhan selalu ramai tiba-tiba jadi senyap. Sebagian kita ternyata sedang terlelap di atas kasur di balik selimut. Atau erat memeluk guling atau istri tercinta. Sebagian kita yang tadinya giat bangun sahur lalu berbondong-bondong berjamaah sholat subuh, tiba-tiba jadi pemalas. Bahkan dengan memaklumi diri sendiri bahwa ini semua adalah kewajaran setelah sebulan capek berperang memerangi hawa nafsu demi melaksanakan pengabdian kepada Allah dengan mengabaikan kesenangan-kesenangan duniawi yang sebelumnya erat melingkupi kita.

Lalu, dalam kondisi demikian syetan melakukan serangan fajar 1 Syawal. Kita semua bagai disirep. Banyak diantara kita terbagun dari tidur pulas karena harus sholat iedul fitri. Bukan karena harus sholat subuh. Sayang kalau baju baru yang semalam telah rapi disetrika tak dipakai dalam kegembiraan menuju lapangan untuk melaksanakan sholat ied. Lalu kenapa syetan yang telah sebulan dibelenggu, tak mendapatkan jatah makan dan minum dari kita, karena selalu diisolasi oleh kegiatan puasa kita menjadi sedemikian perkasa membelenggu kita tepat pada 1 Syawal sehingga kita malas memenuhi panggilan demi panggilan shalat.
Bukan itu saja, tepat tanggal 1 Syawal kita melepas kekangan hawa nafsu kita. Semangat mengabdi kepada Allah di bulan Ramadhan segera berganti dengan semangat memenuhi hawa nafsu kita. Mata yang selama Ramadhan tak lepas dari kitab suci, kini lalu lekat pada televisi. Mulut yang selama Ramadhan ramai melantunkan ayat-ayat suci, kini tak sepi oleh gosip membicarakan saudara sendiri. Pendengaran yang selama Ramadhan tak putus mendengarkan tausiyah setiap malam dan subuh, kini gemar menguping-nguping kenapa si Fulan kaya dan kenapa si Fulanah kini jadi istri penggede. Hati yang selama Ramadhan ditata dan dijaga, tiba-tiba ditumbuhi jamur kedengkian ketika ketemu kerabat yang lebih sukses saat pulang kampung.

Ketika Ramadhan kita bisa dengan ikhlas meninggalkan aktivitas halal hanya karena Allah melarangnya, mengapa ketika Ramadhan berlalu, selain yang halal yang harampun kembali akrab kita singgahi. Artinya tak ada lagi bedanya halal haram. Lalu semua jadi abu-abu atas rekayasa kita sendiri.

Katanya Ramadhan adalah kawah candradimuka bagi kita. Ramadhan akan meningkatkan derajat kita menjadi manusia beriman sekaligus bertaqwa. Tapi ternyata Ramadhan juga memberi kesempatan syetan dalam istirahatnya menyusun strategi untuk menggagalkan kita menjadi manusia bertaqwa.

Tidak perlu menjadi kafir. Cukuplah serangan 1 Syawal itu dikatakan berhasil jika syetan telah membawa kita kembali ke titik yang sama pada posisi sebelum kita memasuki Ramadhan. Cukuplah serangan itu disebut berhasil jika tak ada sisa-sisa tarbiyah Ramadhan dalam aktivitas kita sehari-hari. Selama Ramadhan bolehlah iman kita melejit naik. Asalkan setelah Ramadhan kita menjadi manusia yang sama saja dengan sebelum Ramadhan.

Jika demikian, siapa yang pantas menyebut dirinya ‘minal aidzin wal faizin’?

Senin, Oktober 22, 2007

Mudik: Perlukah?



Mudik bagi sebagian orang adalah saat yang ditunggu-tunggu. Tapi bagi sebagian yang lain acara ini sangat menegangkan bahkan menakutkan. Dengan berbagai alasan para penggemar acara mudik menganggap ini sebagai ajang silaturahim dengan orang tua dan kaum kerabat di kampong. Di saat yang sama bisa dijadikan ajang ’menyiarkan’ nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya dengan kelimpahan rezki. Karena itu mereka rela berdesakan di terminal bis dan kereta, antri tiket, berjubel di dalam bis dan kereta, lalu bermacet-macetan di jalanan. Bagi yang mengemudikan mobil pribadinya, cape di jalan rasanya akan segera terobati dengan kangennya berlabuh di kampung halaman.

Saya sendiri termasuk kelompok yang merasakan ketegangan dan ketakutan ketika harus mudik. Bayangan kemacetan di jalan; panas karena mobil saya tanpa AC; atau ketakutan mobil mogok; dengkul lemas karena kaki sibuk menyeimbangkan kopling dan gas, selalu mengahantui saya satu dua hari sebelum berangkat. Belum lagi urusan packing barang bawaan. Meskipun yang ini sudah bisa di handle istri. Maka paling tidak sehari sebelum berangkat saya harus banyak tidur di rumah. Bahkan sampai 3 jam menjelang berangkat saya masih berusaha tidur pulas. Meskipun agak susah karena stress.

Paling tidak dua tahun sekali saya harus mengemudikan mobil dari Bekasi ke Surabaya. Memang tidak ada rebutan ke ortu atau mertua, karena sudah ada jatahnya masing2. Jika tahun ini ke mertua di Tangerang, maka tahun depan ke ortu di Surabaya. Sangat melelahkan, lha wong nyopir 20-21 jam meskipun diselingi total istirahat 3-4 jam. Tapi apa boleh buat. Untuk ketemu ortu dan kerabat memang inilah saatnya, karena libur panjang ya saat inilah musimnya. Meskipun kita TDA, anak-anak kita kan punya libur sekolah panjang ya hari-hari gini. Dan musim liburan inilah saat efektif ketemu banyak kerabat, karena mereka semua juga liburan ke ortu dan mertua yang sama. Jadi masalah pemborosan, masih bisa diperdebatkan.


Bekasi-Surabaya PP bisa menghabiskan bensin saja sekitar 900 ribu sampai sejuta. Tapi di Surabaya kita bisa silaturahim ke banyak kerabat. Bayangkan jika kita mudik di luar lebaran. Dengan biaya yang sama mungkin hanya ketemu ortu saja. Akhirnya dengan pikiran demikian, meski melelahkan, menegangkan dan bahkan menakutkan kami toh mudik juga. Wal hasil jalanan tumpah ruah oleh para pemudik. Baik yang gembira maupun yang ketakutan.


Belakangan dengan bertambahnya ilmu, yang meresahkan saya adalah kenapa liburan panjang ada pada saat iedul fitri? Kalau bisa sih digeser di iedul adha.


Kenapa demikian? Karena sebelum idul fitri, konsentrasi kita di 10 hari terakhir ramadhan akan terpecah. Antara apakah meningkatkan kualitas ibadah ramadan dengan i'tikaf, misalnya. Ataukah menyiapkan segala sesuatunya untuk bekal mudik, pakaian dan kue-kue lebaran? Yang pertama dijanjikan lailatul qadar sebagai bekal bagi mudik ke kampung akhirat, yang kedua dijanjikan ketemu keluarga di kampung dunia. Kalau jujur, pasti kita memilih bekal bagi kampung akhirat.


Makanya bagaimana agar mudik jalan terus, dan ramadhan kita tetap terjaga? Maka saya bermimpi libur panjang digeser ke idul adha. Selain pulang kampung mengunjungi kerabat dan ortu, kita bisa melaksanakan ibadah qurban di kampung halaman yang mungkin lebih membutuhkan daripada di kota-kota besar, tempat kita mengais rezeki.


SELAMAT IDUL FITRI 1428H

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum,Shiyamana wa shiyamakum.

Mohon maaf lahir dan batin.

Semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan tahun depan.

Jumat, September 21, 2007

Sahur Heboh

Hari ke delapan Ramadhan ini benar-benar heboh. Tahun ini adalah tahun kedua bagi anak kami untuk menjalankan puasa Ramadhan. Umurnya baru 7 tahun, tapi sudah belajar puasa penuh. Karena itu harus bangun sahur jam setengah empat pagi dan berbuka ketika maghrib tiba. Ya tahun ini adalah tahun ke dua baginya. Dan hari ini adalah hari ke delapan dia harus bangun sahur.

Tujuh hari telah dilaluinya dengan mulus. Tapi pagi ini anak kami benar-benar bikin heboh. Paling tidak, heboh bagi ibunya. Awalnya saya tidak tahu persis. Karena tiba-tiba istri saya membangunkan saya sambil berkata: “Ayah, tuh temenin Athaya untuk sahur. Mungkin bisa lebih tenang.” Jadi saya bangun paling belakangan. Begitu saya ke ruang (tamu yang disulap jadi ruang) makan, saya lihat Athaya sedang merengek. Di depannya sudah ada semangkuk mie instant. Saya menyimpulkan, pasti tadi dia minta mie ini. Sedangkan ibunya meskipun tidak setuju, akhirnya mengabulkan juga. Tapi anehnya, justru mie di depannya pun tak disentuhnya. Istri terus bicara, bahwa kalau makan mie saja, pasti besok puasanya gak kuat. Jadi harus makan nasi dan telor ceplok juga.

Saya hanya berkata dalam hati: Mie-nya saja belum dimakan sudah disuruh makan nasi dan ceplok juga. Tapi saya tidak bicara apa-apa karena kalau saya nimbrung pasti sahur pagi ini makin heboh.

Berkali-kali istri mengingatkan dengan nada tinggi bahwa jamnya jalan terus. Anak kami berdalih bahwa Ibu juga tidak sahur, cuman makan minuman organik saja. Istri saya memang sedang melaksanakan terapi obesitasnya dengan makan makanan organik saja ketika sahur. Istri saya membela diri, bahwa ini berbeda. Makanan ini memang mengenyangkan, tapi rasanya tidak enak, sehingga Athaya pasti tidak suka. Karena itu ia tidak menganjurkan Athaya untuk ikut-ikutan sahur makanan organik saja.

Sekali lagi istri saya berkata untuk menakut-nakuti Athaya bahwa jamnya jalan terus. Athaya gak ngerti jam, sih, jadi nyantai aja. Juga kata-kata lain yang tidak mudah untuk menuliskannya dengan pilihan bahasa yang lembut. Karena mungkin amarah sudah semakin meningkat menguasai dirinya. Mungkin kesal akan tingkah laku sang anak membuat beberapa kata meluncur tanpa pikiran jernih.

Diam-diam kulirik jam dinding. Sudah jam empat kurang lima menit. Berarti sudah hampir setengah jam Athaya ngambek. Tak ada komunikasi lagi dari mulutnya kecuali suara rengekan. Lalu dia pindah menelungkup di lantai di depan kamar. Rengekannya masih berlanjut. Mungkin dia berharap kita sebagai orangtuanya mestinya tahu apa maksud tangisannya. Orang tua kan serba tahu. Tapi kenapa sekarang tidak paham juga. Istri saya malah menjawabnya dengan ”Athaya, Ibu mana tahu dengan apa yang ada dalam hatimu. Ayo, Athaya mau apa, sih?” Dia sekali lagi menjawab dengan rengekan.

Tangisan makin keras ketika istriku mengatakan bahwa meskipun dia tidak makan sahur hari ini dia tetap harus puasa. Saya meraba-raba bahwa kekesalan karena kebuntuan komunikasi menimbulkan keputusasaan sehingga melahirkan ’ancaman’ ini. Sebuah ’ancaman’ yang saya sendiri takut mendengarnya. Padahal sebelumnya saya hendak menengahi dengan mengatakan sebaliknya. Kalau tidak makan sahur, berarti tidak puasa. Saya yakin ’ancaman’ saya ini juga efektif. Karena anak kami paling takut kalau tidak puasa penuh. Tapi ’ancaman’ istri lebih dulu terdengar. Maka Athaya menangis makin keras mendengarnya. Mungkin dia takut kelaparan. Sementara tidak puasa juga ketakutan tersendiri baginya.

Saya terus menyelesaikan makan sahurku. Sama sekali tidak hendak memperkeruh suasana pagi yang penuh berkah ini. Dalam hati saya terus berdoa, agar tidak keluar dari mulut istriku ancaman dan omongan yang lebih tidak baik lagi.

Perlahan Athaya bangkit dari posisi telungkupnya. Dia harus bangkit untuk melihat jam dinding, karena pandangannya terhalang lemari kayu tuaku. Ternyata dia mengerti jam. Buktinya dia segera menuju meja (tamu yang disulap menjadi meja) makan. Diambilnya sepiring nasi dan telor ceplok yang sudah disiapkan setengah jam yang lalu. Dua puluh menit lagi masuk waktu imsya’. Seperti biasa, dia makan dengan pelan. Ibunya sudah masuk kamar setelah menyelesaikan ’makan’ sahurnya. Mengaji atau menyiapkan diri untuk shalat Subuh. Sesekali saya ingatkan agar dia makan lebih cepat. Kalau tidak keburu imsya’. Meskipun saya tahu bahwa imsya’ hanya tanda waktu berhati-hati sebelum masuk waktu Subuh dimana kita baru benar-benar harus mengakhiri sahur kita.

Benar juga. Nasinya habis pas waktu imsya’ tiba. Tapi dia belum minum segelaspun, tangannya justru meraih semangkok mie yang sudah dingin itu. Saya tidak melarangnya. Masih ada waktu 10 menit sebelum masuk Subuh. Dia lahap sekali menyeruput mie dinginnya. Celakanya, azan Subuh di masjid dikumandangkan lebih cepat tiga menit oleh Muazin. Mungkin jam di masjid lebih cepat 3 menit. Anakku masih menikmati mie-nya. ”Teruskan, masih ada waktu tiga menit” kata saya. Dia menghabiskan kuah mie-nya. Lalu menyeruput segelas air. Dalam hati saya berkata “Masih banyak waktu untuk kamu mengerti kewajiban agama ini”.


Cikarang Baru, 20 September 2007/ 8 Ramahan 1428 H.

Rabu, September 05, 2007

Ramadhan Countdown

8 Hari Lagi

Hari ini 23 Sya’ban 1428H, bertepatan dengan 5 September 2007.
Menurut hisab, Ramadhan akan jatuh tanggal 13 September ini.
Berarti delapan hari lagi.
Enam atau tujuh hari lagi ahli ru’yat akan melakukan aktifitasnya menjadi saksi munculnya hilal bulan Ramadhan.

Apapun keputusannya, Ramadhan bakal datang.
Tinggal apakah kita sempat menemuinya atau tidak, wallahu’alam.
Karena itu saya selalu berdoa dan berharap agar usia saya sampai pada Ramadhan tahun ini.

Allahumma ballighna Ramadhan...
Ya Allah, sampaikan umurku pada Ramadhan....

Ketika membaca do’a ini, saya menghadirkan suasana Ramadhan yang sayang jika terlewat.
Ramadhan yang penuh barakah. Sayang sekali kalau tak diisi ibadah.
Pahalanya berkelipatan. Sayang sekali kalau kualitas ibadahku asal-asalan.
Bertebaran hikmah di dalamnya. Sayang sekali kalau kita tidak memaknainya.
Waktunya Cuma sebulan. Sayang sekali kalau terlewatkan.
Menjadikannya sama dengan bulan-bulan lain.
Oh, alangkah meruginya saya.

Ramadhan yang penuh maghfirah. Allah menjanjikan ampunan-Nya kepada siapa saja
yang berpuasa dan menegakkan Ramadhan dengan iman dan penuh perhitungan.
Wow, kalau setiap Ramadhan menghapus dosa-dosa kita tahun sebelumnya.
Berarti dosa ku yang berusia 42 tahun ini sama saja dengan dosa adikku yang berusia 36 tahun.
Yang tercatat hanya setahun terakhir saja. Dan segera akan terhapus begitu memasuki hari raya.
Oh, Maha Pengasihnya Allahu Rabbuna. Oh, Maha Penyayangnya Allah.
Tapi, jika aku melewati Ramadhan tanpa isi apa-apa?
Betapa menumpuknya dosaku. Sedangkan sepertinya tiada amalan lain
yang bisa menghapuskannya melebihi amalan-amalan Ramadhan.

Sangat wajar, jika bisa meraih ampunan dari Allah, berarti dosa-dosa kita menjadi minimal.
Maka wajar pula Rasulullah berkata dengan Ramadhan Allah akan membebaskan kita dari api neraka.
Oh, kesempatan yang sayang jika lewat begitu saja. Kapan lagi kita bisa mendapatkannya kalau bukan sekarang.
Delapan hari kedepan saja, belum tentu umur kita sampai, apatah lagi menunggu Ramadhan tahun depan.

Tertunduk hatiku memohon jawaban
Allahumma ballighna Ramadhan.....
Allahumma ballighna Ramadhan....
Allahumma ballighna Ramadhan....

Cikarang Baru, 5 September 2007

Kamis, Agustus 30, 2007

Bulan Itu Datang Lagi

Oleh: Choirul Asyhar

Aku lupa umur berapa aku memasuki usia aqil baligh. Anggap saja umur 15 tahun. Berarti sudah 26 kali aku menjalani kewajibanku melaksanakan shaum Ramadhan. Dua puluh enam kali bukanlah jumlah yang sedikit untuk mengangkat derajatku menjadi manusia bertaqwa. Manusia yang paling mulia. ”Inna akramakum ’indallaahi atqaakum” Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian.

Tapi di bulan Sya’ban ini, di mana separuh awal telah kita lewati, aku belum apa-apa dari kalimat taqwa itu sendiri. Empat belas hari lagi aku akan memasuki tahap ke-27 penggemblenganku menjadi manusia taqwa. Seingatku, paling tidak sepuluh tahun terakhir aku selalu bersemangat menyambutnya. Mempersiapkan diri agar aku lulus menjalani training Ramadhan ini.

Kusiapkan fisik, dengan berlatih melaksakan puasa sunnah Senin-Kamis. Sayang persiapan sering terganggu dengan kesenangan duniawi. Karena ngobrol lama sepanjang malam Senin atau malam Kamis, sering membuat aku tak terbangun sahur. Sehingga puasaku gagal esok harinya. Akhirnya latihanpun seadanya. Kadang puasa Senin saja, kadang Kamis saja. Kadang full Senin-Kamis dalam sebulan, tapi sering Cuma tiga-empat hari saja.

Kusiapkan juga ruhiyahku. Alhamdulillah di masjid-masjid mulai banyak diadakan kajian tarhib Ramadhan satu atau dua bulan sebelumnya. Ilmu tentang ibadah Ramadhan di ajarkan di dalamnya. Semangat ruhiyah menjalani Ramadhan lebih baik dari tahun kemarin senantiasa muncul setiap tahun. Tapi pelaksanaanya selalu harus di kawal kiri kanan agar tak luntur di tengah jalan.

Untuk melatih ketahanan semangat sholat lima waktu di masjid dan shalat tarawih selama Ramadhan, aku juga harus mencanangkan tekad sholat lima waktu di masjid dan sesekali tahajud semaksimal mungkin. Tanpa latihan, mustahil tiba-tiba kita mahir selama Ramadhan nanti.

Tilawah Al Qur’an juga harus dilatih lebih kenceng, kalau mau berhasil mengisi hari-hari sepanjang Ramadhan dengan tilawatul Quran. Karena kita tahu bulan Ramadhan disebut juga dengan syahrul Quran. Bulan di turunkannya Al Quran. Aku selalu bertekad menghatamkan Al Quran minimal sekali dalam bulan Ramadhan ini. Karena itu mulai beberapa bulan yang lalu, tak ada nyala cahaya warna warni dari tabung TV di rumahku. Karena acara TV ini yang sering membuat kita gagal mencapai tujuan-tujuan ruhi.

Kesiapan financial. Ini kata ustadzku juga harus disiapkan. Dalam sebuah hadits disampaikan bahwa selama Ramadhan Rasulullah bersedakah seperti angin yang bertiup kemana-mana setiap saat. Ini menggambarkan, beliau cepat sekali mendistribusikan hartanya sebagai sedekah. Seakan tak ada waktu bagi hartanya untuk ngendon di pundi-pundi hartanya. Tak ada deposito. Apalagi yang berjangka panjang. Karena bagi beliau salallahu’alaihi wasallam, harta miliknya adalah harta yang telah diinfakannya. Dengan infak dia telah menabungnya di akhirat, melalui teller-teller kaum miskin, fakir, dan anak yatim. Yang tidak diinfakkan, bukanlah milik kita karena setiap saat bisa hilang digondol maling. Yang didepositokan bisa dibawa kabur bankernya ke Singapur. Yang ditanamkan sebagai modal usaha bisa lenyap karena krismon dan lesunya dunia usaha.

Subhananallah. Kesiapan ini yang sangat sulit aku miliki. Meski tak banyak, aku masih punya uang untuk diinfakkan. Tapi secepat angin yang menerobos ke segala penjuru relung-relung kantong-kantong fakir-miskin-yatim? Bisakah aku? Teller-ku masih di perutku, keluargaku, renovasi rumahku, motor baruku, asuransi keluargaku, usaha baruku, baju lebaranku, buka puasa yang enak-nikmat-mewah di rumahku, persiapan mudikku dan angan-anganku, dan angan-anganku, dan angan-anganku lainnya

Oh, deposito Muhammad Rasulullah Salallahu ’alaihi wa sallah ternyata berjangka sangat panjang sampai masa keabadian di sisi Allah. Depositonya tak bisa ditarik. Bukan tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun. Tapi sampai masa jatuh temponya tiba. Bertemu muka dengan-Nya di surga. Depositoku .... tak tahulah aku kenapa aku menyimpannya di situ.

Tidak! Aku sudah tahu sebabnya. Iman yang tipis menakut-nakutiku melihat masa depan. Itulah jawabannya. Maka sekali lagi aku bertekad dalam tarbiyah ke-27 bulan Ramadhanku ini aku ingin meningkatkan imanku itu. Kalau sampai mencapai taqwa, pastilah itu karena karunia Allah yang tak terkira semata.

La’allakum tattaqun..... Menjadi angan-anganku berikutnya. Oh, indahnya menjadi manusia mulia di sisi-Nya.

Allahumma bariklanaa fii Sya’ban wa ballighnaa Ramadhan.

Cikarang, 17 Sya’ban 1428/30 Agustus 2007