Tanggal 28 Agustus 2007 ada peresmian 4500 rumah untuk pekerja di Kompleks Kota Serang Baru, Cikarang. Saya, pak RW 07 Cikarang Baru dan seorang Ibu pengurus majlis taklim di wilayah kami mendapat undangan menyaksikan acara ini. Tidak tanggung-tanggung acaranya. Yang mengundang bukan pihak pengembang tapi Kementrian Perumahan Rakyat. Yang meresmikan juga pejabat nomor wahid negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Presiden SBY.
Dalam sambutannya, Pak SBY mendorong pengusaha perumahan atau pengembang agar terus membangun rumah bagi rakyat setingkat rumah sederhana sehat (RSS), agar para buruh dapat hidup tetang dan tentram di rumahnya sendiri. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk keperluan itu tahun ini pemerintah memberikan subsidi bagi rumah sederhana sehat (RSS) sebesar 300 milyar rupiah. Dan tahun depan subsidi ditingkatkan hampir 300% menjadi 800 milyar rupiah.
Wow, subsidi? Terlintas pertanyaan dalam hati: kok di Cikarang harga jual rumah tipe 21 dengan luas tanah 60 m2 masih berkisar 50 jutaan. Ini adalah harga biasa. Malah kalau pengembang menjual tanah saja dan kita membangun sendiri, dengan uang sebanyak itu insya Allah akan mendapatkan rumah yang sedikit lebih baik kualitasnya. Tapi buruh mana punya uang kontan untuk membangun sendiri. Wal hasil dapatlah rumah kredit dengan kualitas seadanya. Jadi siapa yang merasakan subsidi itu? Jangan-jangan pengembang perumahanlah yang mendapatkannya karena mereka menjual dengan harga pasar dengan kualitas seadanya.
Dalam brosur-brosur penjualan rumah, disebutkan bahwa subsidi dalam bentuk bunga bank yang lebih kecil daripada rumah tipe 45 ke atas. Jadi selisih bunga itulah yang akan ditalangi oleh pemerintah kepada bank penyedia dana. Oh, terima kasih Pak SBY dengan subsidinya. Tapi apakah mencapai sasaran?
Dalam perjalanan pulang, saya bertemu seorang guru teman istri saya. Dengan anggapan saya banyak duit (Alhamdulillah, semoga anggapan ini menjadi doa bagi saya. Amin), dia mengompori saya untuk membeli 3 unit untuk membuka usaha sekolah TK. Praktek demikian memang sudah lazim dilakukan oleh para pengusaha. Toko material sering membeli 2-3 rumah di sudut yang sering ada kelebihan tanahnya. Jalan-jalan strategis sudah diborong pengusaha retail dan rumah makan sehingga 1-2 tahun kedepan disulap fungsinya menjadi pertokoan.
Pengembang sering tutup mata terhadap hal ini. Bahkan cenderung menyambut baik. Dengan banyak berdirinya pertokoan ini, maka warga akan mudah mendapatkan barang-barang kebutuhannya. Warga tidak perlu keluar perumahan untuk belanja kebutuhan sehari-harinya. Belum lagi jika investor minimarket waralaba mulai menjejakkan kakinya. Warga akan beruntung mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah plus hadiah-hadiah pada even-even khusus.
Pengusaha ini pasti membeli rumah dengan harga yang sama dengan harga rumah untuk buruh pabrik itu. Jadi mereka juga menerima subsidi yang diberikan pemerintah. Subsidi yang semestinya untuk buruh dan rakyat yang uangnya pas-pasan. Bukan untuk mereka yang sebagain di antaranya membangun tokonya ini bukan sebagai toko pertama. Di mana ada perumahan baru dibuka, mereka segera menjadi pembeli pertama di jalan-jalan protokol.
Bagaimana pengembang tidak tutup mata terhadap kedatangan mereka. Pengembang jualan rumah. Dan mereka adalah pembeli rumah. Mana ada penjual menolak pembeli. Apalagi keberadaan pengusaha-pengusaha ini justru dapat menarik pembeli-pembeli rumah selanjutnya. Rumah-rumah jadi laku terjual. Maka tak heran jika sebentar lagi akan terpasang spanduk di pintu gerbang yang mengumumkan bahwa rumah-rumah tahap I telah terjual habis dan pembangunan tahap kedua segera dimulai. Plus himbauan: Segera booking sebelum harga naik!
Kalau toko-toko suka mempromosikan bahwa harga barangnya turun, demi menarik pembeli. Tidak demikian dengan pengembang rumah. Mereka justru menjadikan kenaikan harga sebagai alat promosi untuk menarik pembeli. Lalu kalau harga rumah naik, maka apalah arti subsidi itu.
Para pengusaha yang mengambil hak rakyat untuk mendapatkan rumah murah itu, bukan saja merebut hak rakyat, tapi justru menaikkan harga rumah rakyat. Maka yang belum kebagian pada pembagunan tahap pertama, akan gigit jari pada tahap selanjutnya.
Jadi pemerintah harus mencari jalan, bagaimana agar subsidi yang dikucurkan benar-benar dinikmati oleh rakyat. Bukan oleh pengembang dan pemilik toko. Terlintas dalam benak saya, kalau untuk mendapatkan keringanan biaya rumah sakit, pasien harus membawa surat miskin. Tidak ada salahnya juga untuk mendapatkan rumah rakyat harus melampirkan surat sejenis pada aplikasi kreditnya.
Cikarang Baru, 30 Agustus 2007
Kamis, Agustus 30, 2007
Rumah Untuk Rakyat
Rabu, Agustus 29, 2007
Serial Peluang Korupsi - 4:
Di Pabrik (3)
Di Bagian Logistik bisa juga hal ini terjadi. Banyak perusahaan cargo dan freight forwarder dimiliki oleh beberapa manajer logistik dari beberapa perusahaan asing. Seorang Manajer Bagian logistic PT. XYZ bersama dengan Manajer Bagian Logistik PT. MNO dan Manager Bagian logistic PT. RST plus seorang praktisi freight forwarding berkongsi mendirikan perusahaan freight forwarding. Apa yang terjadi? Minimal semua aktivitas ekspor impor ketiga PT itu diserahkan pengelolaannya kepada freight forwarder milik ketiga manager tadi. Wow, uenaak tenaannn……. Ketika menjadi asisten manajer logistic saya pernah ditawari kongsi semacam ini oleh seorang rekan yang sudah malang melintang di dunia freight forwarding. Saya menolak karena terbayang betapa kepala saya akan pusing ketika harus memutuskan vendor yang harus menangani aktivitas ekspor impor yang saya komandani, karena konflik kepentingan yang berkecamuk di kapala saya.
Komisi, uang terima kasih, hadiah, profit sharing, apapun namanya selalu jadi hantu yang menyenangkan bagi siapa saja yang menduduki jabatan sebagai pembuat keputusan. Baik itu di instansi pemerintah maupun perusahaan swasta. Baik itu kepala bagian maupun petugas lapangan. Baik itu berhubungan langsung maupun tidak langsung asal masih bisa dihubung-hubungkan.
Hantu yang menyenangkan? Ya. Saya sebut hantu karena selalu terjadi di ’kegelapan’. Pembicaraan gelap di ruang tertutup, hubungan gelap melalui telepon yang penuh dengan kusak-kusuk, transfer gelap ke rekening gelap. Tapi menyenangkan, karena semua kegelapan itu berarti uang. Yang meskipun kadang-kadang jumlahnya tidak banyak, tapi mampu menggenapkan yang sedikit menjadi banyak. Rumah kontrakan menjadi milik. Kamar kumuh menjadi kamar mewah. HP butut menjadi bluetoeth. Motor kredit menjadi lunas. Mobil tua menjadi muda kembali. Warung tetangga yang hampir bangkrut diakuisisi jadi garasi mobil. Kubangan becek di belakang rumah menjadi kolam renang. Pekarangan dan rumah tetangga menjadi lapangan tennis.
Ternyata transaksi B to B beranak menjadi transaksi B to P (Business to Person) atau bahkan P to P (Person to Person). P to P terjadi ketika seorang sales merelakan sebagian komisi penjualan yang diterimanya untuk diberikan kepada penanggungjawab dari pihak pembeli. Karena kalau tidak demikian dapurnya tidak bisa mengepul karena sales itu hidup dari komisi penjualan.
B to P terjadi karena Perusahaan supplier telah mafhum bahwa bertransaksi dengan perusahaan lain, jika mau langgeng harus dilakukan pendekatan personal dengan menejernya atau siapapun yang menjadi decision maker. Istilah teman saya yang pengusaha palet kayu, harus ada dana untuk me-maintain orang dalam agar paletnya bisa langgeng diterima di dalam. Besarnya bisa 5% dari nilai invoice. Jadi syarat barang bisa masuk dalam teori marketing disamping quality, quantity, delivery, payment term juga ada maintainance fee. Susunan urutan ini tidak mencerminkan prioritas. Bisa jadi maintenance fee menjadi kunci pembuka, yang selanjuti diikuti dengan payment term, delivery, quantity dan quality. Atau apapun yang penting maintenance fee ada diurutan pertama. Karena itu harus dibahas di depan agar tidak kecele di kemudian hari.
Siapa yang kecele? Bisa supplier bisa juga buyer.
Supplier yang alergi dengan maintenance fee biasanya tidak mau membicarakan hal ini, karena khawatir bisnisnya akan gagal sebelum order pertama. Dia menghindari pembicaraan menyerempet ke hal-hal ini. Kalau toh ada biasanya dengan bahasa yang abu-abu. Tidak tegas ada atau tidak.
Buyer yang ‘malu-malu’ juga demikian. Kalau malu saja bolehlah dipertahankan karena malu itu sebagian dari iman. Karena malu jadi tidak minta. Rasa malunya membuatnya terhindar dari permintaan uang hangat ini. Rasa malu membuat dia bersih.
Tapi kalau malu tapi mau membuat buyer tidak berani blak-blakan. Sindiran sering terlontar agar suplier dengan antenanya yang bagus bisa menangkap sinyal-sinyal yang dikeluarkan dari mulut si buyer. Sayangnya supplier meskipun antenanya bagus dan sudah menangkap signal maksud supplier, pura-pura tidak bisa menangkap sehingga jawabannya masih belum nyambung.
Walhasil, jika demikian setelah transaksi bisnis kedua-dua akan kecele. Supplier kecele karena apa yang selama ini dianggapnya berhasil memasarkan barang tanpa maintenance fee, terkaget-kaget ketika saat invoice dicairkan ternyata buyer minta persenan.
Buyer juga bisa kecele, karena bisa jadi ternyata supplier yang menurutnya sudah mengerti bahasa sandinya, ternyata benar-benar (pura-pura) tidak faham sehingga tidak ada persenan yang masuk ke kantong buyer.
Jika salah satu di antara dua ini terjadi maka supplier jangan harap akan ada repeat order, karena buyer pun juga telah sesumbar dengan kalimat yang sama, ”awas lu, jangan harap ada repeat order”. Meskipun kalimat ini hanya ada dalam hati tapi itu bisa terealisasi.
Saya pernah mengalami hal ini ketika menjadi supplier produk pendidikan ke sebuah koperasi sekolah. Ketika melakukan transaksi B to B ke koperasi, sudah disepakati adanya profit sharing dengan lembaga koperasi. Hal ini dilakukan karena koperasi adalah lembaga profit center juga. Tapi setelah transaksi ternyata pengurus juga minta bebarapa persen setelah invoice cair. Jadi saya tidak menerima pembayaran senilai invoice yang saya buat. Karena sudah dipotong untuk pengurus koperasi sekolah. Jadi profit selain diterima oleh koperasi yang nantinya menjadi SHU yang dibagikan kepada anggota, juga ada profit lain yang tak dibukukan yang masuk ke kas pengurus sebagai individu-individu. Maka itu ada yang bilang koperasi apapun semuanya KUD juga. Ketua Untung Duluan. Saya tersinggung karena saya juga pernah jadi ketua sebuah koperasi karyawan. Jangankan untung malah pemakaian pulsa HP saya nambah karena harus sering menggunakan HP untuk menghubungi supplier maupun anggota dalam kegiatan saya.
Karena itu maintenance fee harus dibicarakan di awal sebelum transaksi pertama dilakukan. Ada atau tidak. Kalau buyer ngotot harus ada maintenance fee maka supplier dapat segera memutuskan. Go ahead atau go back! Kalau keduanya faham dan sepakat tidak perlu ada maintenance fee, maka bersyukurlah bahwa transaksi bisnis yang murni bakal terealisasi. Memang kesepakatan yang kedua ini sudah langka, tapi insya Allah masih ada di jaman sekarang ini. Dan semoga makin tumbuh dan berkembang karena meningkatnya kinerja KPK. Dan seiring itu bertumbuhanlah pula rasa malu yang berarti bunga-bunga iman sudah mulai bermekaran di taman hati para eksekutif.
Selasa, Agustus 21, 2007
Tangan di Atas
Oleh: Choirul AsyharKembali ke laptop! Eh... kembali ke topik. Berarti memberi adalah suatu amalan yang tinggi derajatnya. Karena perintahnya selalu disandingkan dengan perintah sholat.
Tapi betapa banyak kita tak peduli dengan ajaran ini. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Banyak pengemis di mana-mana. Di perumahan pengemis banyak berdatangan. Hampir setiap hari 2-3 pengimis mampir ke rumah saya. Apalagi kalau kita beri beberapa rupiah, bisa dipastikan besok atau lusa akan datang lagi.
Rasulullah mengatakan mengemis diperbolehkan jika benar-benar tidak ada yang dimakan untuk hari ini. Artinya boleh dalam keadaan darurat saja. Jadi tidak boleh dijadikan profesi. Apalagi sampai-sampai dengan mengemis bisa menabung, membiayai kebutuhan lainnya, bahkan membangun rumah.
Ngomong-ngomong membangun rumah, kabarnya di salah satu sudut Jawa ada desa yang sebagian besar penghuninya berprofesi sebagai pengemis di kota. Tapi kalau kita mampir ke sana, kita akan berdecak kagum. Ternyata rumah-rumah mereka di sana jauh lebih luas dan indah dibandingkan rumah kita sendiri yang sering mereka kunjungi.
Ada satu lagi gejala baru. Tidak hanya rumah pribadi yang dibangun dengan mengemis. Banyak rumah Allah yang dibangun dengan mengemis di jalanan. Panitia menyebar petugas-petugas yang siap dengan jaring untuk menangkap uang yang dilempar oleh pengemudi dan penumpang mobil yang lewat di jalan raya. Tidak jauh dari tempat mesjid akan dan sedang dibangun, di sana juga ada seorang yang bertindak sebagai MC untuk menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya ‘jaringan amal’ ini. Serta menyemangati pengguna jalan untuk beramal dengan segala imbalan do’a-do’anya.
Anda sedang memasuki daerah Jaringan Amal. Kalimat ini memang pernah saya baca ketika melintasi sebuah daerah di pantura. Saya kaget istilah apa pula ini. Teman saya memelesetkan dengan Amal Network. Padahal maksud jaringan adalah menangkap sedekah yang dilempar oleh pengendara mobil dengan sebuah jaring yang biasa dipakai anak-anak untuk menangkap kupu-kupu itu.
Mengemis atau tangan di bawah ternyata tidak Cuma dilakukan oleh orang miskin (yang lalu jadi kaya) dan panitia pembangunan masjid. Di banyak tempat juga banyak pengemisnya. Di kantor-kantor pemerintah maupun di kantor swasta.
Ketika memasuki kantor kelurahan, siapkan uang kecil sebagai uang lelah pak sekdes mengetik surat. Kalau tidak dikasih, kemungkinan besar –saya tidak berani mengatakan ‘pasti’- beliau cemberut. Kata anak muda, ”minta sih enggak, tapi kalau nggak ngasih ‘awas lo!”. Di kantor kecamatan juga demikian. Mengurus KTP, kita tidak bisa memberi uang sekedarnya. Meskipun itu berarti 5-10 ribu yang berarti sudah lebih dari biaya sebenarnya. Sudah ada tarip tak resmi tapi besarannya pasti. Kalau ini jelas-jelas diminta oleh petugas. Di kantor polisi ketika melapor kehilangan dompetpun, kita diminta uang administrasi. Padahal uang kita sudah hilang bersama dompetnya. Di kantor bea cukai apalagi. Setiap dokumen berarti uang. Mengeluarkan barang minta uang, memasukkan barang minta uang.
Di kantor swasta juga banyak pengemis. Kalau mau dagangan kita dibeli, bagian pengadaan barang minta komisi. Tidak ada komisi, tidak ada repeat order.
Tapi yang menggembirakan adalah adanya komunitas yang semangat untuk menjadi tangan di atas. Saking semangatnya bahkan karyawan atau buruh yang terima gaji bulanan itu disebut kelompok tangan di bawah. Karena selalu menerima uang dari majikan setiap bulan. Bayangkan, menerima gaji setiap bulan sebagai hak saja disebut kelompok tangan di bawah. Apalagi yang sengaja minta-minta pungli dan komisi. Entah apa mereka menyebutnya.
Mental tangan di bawah apalagi yang berarti mengemis, malak, minta komisi, pungli dan sebagainya harus sedikit demi sedikit dikikis. Diganti dengan mental beramal, berikhtiar dan berdo’a. Selalu memberi. Tidak selalu meminta. Dengan menyebut komunitas tangan di atas mereka punya cita-cita menjadi orang yang menggaji. Bukan lagi jadi orang yang terima gajian setiap bulan. Mereka pengen menjadi pengusaha yang menebar rahmat bagi umat. Apa ada? Lihat aja di: http://www.tangandiatas.com/.
Semoga Allah selalu membimbing mereka menggapai cita-cita mulia.
Cikarang Baru, 21 Agustus 2007
Senin, Agustus 20, 2007
Uang BOS
BOS diberikan kepada sekolah-sekolah. Jumlahnya sebanding dengan jumlah muridnya. Jadi uang yang diterima setiap sekolah adalah perkalian dari sejumlah uang tertentu dengan jumlah total murid setiap sekolah. Jadi setiap sekolah menerima uang BOS sejumlah itu. Untuk SD menerima Rp 19.000 x jumlah murid sekolah tersebut. Atau setiap murid SD menerima 19.000 rupiah per bulan.
Untuk SD swasta uang tersebut bisa dipakai untuk mensubsidi SPP siswa yang rata-rata di atas 75.000 per bulan. Untuk SD Negeri karena SPP-nya gratis, uang BOS bisa digunakan sebagai pengganti uang POMG, sumbangan ini-itu, uang buku dan lain-lain. Seperti diketahui umum meskipun katanya sekolah gratis, SD Negeri ternyata tidak sepi dari tarikan biaya ini itu. Jadi gara-gara si BOS, murid sekolah atau orang tuanya bisa bernapas lebih lega. Semua mendapat bantuan BOS sehingga dana untuk bayar sekolah bisa dipakai untuk menambah belanja bumbu dapur dan lauk-pauk di rumah.
Tapi dasar BOS, memberi sesuatu tapi penggunaannyapun ditentukan. Tujuannya agar tidak salah pakai atau disalahgunakan. Misalnya untuk memperbaiki dapur rumah guru. Itu sangat menyimpang, meskipun gara-gara dapur rumah guru bocor, bu guru jadi tidak nyaman masaknya, sehingga masakannya masih setengan matang, lalu bikin sakit perut kalau dimakan, selanjutnya guru tidak bisa mengajar karena berbaring sakit. Akibatnya murid di sekolah memperpanjang jam main bolanya karena kelasnya tidak dihadiri guru.
Belakangan, di Kabupaten Bekasi, uang BOS serentak dipakai untuk mensubsidi harga buku yang selama ini terkenal mahal karena penerbit ambil untung 50% lebih. (Sssst.... ini sih katanya juga untuk kesejahteraan guru, karena yang 30% dikembalikan untuk guru yang capek-capek mengepak buku untuk murid-muridnya. Sssstt..... lagi.... 10% untuk oknum kepala sekolah atau bagian pengadaannya yang tanpa persetujuannya penerbit Anu tidak akan bisa menjual bukunya langsung ke sekolah).
BOS datang maka orang tua sedikit terbantu dengan masalah harga buku. Paling tidak ada satu atau dua buku gratis. Karena sudah dibayar dengan uang si BOS. Agar uang BOS yang sedikit itu bisa dapat buku murah maka Diknas menjalin kerjasama dengan penerbit untuk mendapatkan harga khusus. Akses langsung penerbit buku ke sekolah dikurangi. Juga sebaliknya akses sekolah langsung ke penerbit juga berkurang. Paling tidak dari 12 buku per anak, tinggal 10 buku yang dijual oleh sekolah. Dua gratis, karena sudah dibayar oleh Diknas menggunakan uang BOS.
Orang tua murid senang, guru tersenyum meski agak kecut. Bisa karena omset kurang, bisa juga karena kualitas isi buku gratis itu kurang bagus. Ada penerbit-penerbit anyar muncul sebagai rekanan Diknas dalam pengadaan buku gratis itu. Gurupun bertanya-tanya apa criteria pemilihan buku atau penerbit tersebut.
Untuk menjembatani hal-hal yang kurang sehat, Diknas yang bijaksana membolehkan sekolah memilih sendiri buku gratisnya. Deal dengan penerbit dengan harga BOS. Nanti bukti pembayarannya ditukarkan dengan uang BOS di kantor Diknas. Bagus… Transparan… Harga juga terkontrol sehingga sekolah tidak main mark up harga.
Dengan kesepakatan itu maka di Cikarang ada seorang kepala sekolah yang dikenal jujur dan lurus melaporkan pembeliannya kepada kantor Diknas untuk ditukar uang BOS. Seharusnya semuanya lancar jika kesepakatan diikuti. Tapi petugas menolak, karena nama penerbit buku yang dibeli sang kepala sekolah tidak ada dalam list kantor Diknas. Sang kepala sekolah baru tersadar ternyata ada kesepakatan lain yang harus diteken antara penerbit dengan kantor Diknas.
Cikarang, 31 Juli 2007
Pertaruhan Menentang Tuhan
(renungan buat pengidap Sipilis)
Oleh: Choirul Asyhar
Sekelompok orang pintar berkata
Dengan akal ciptaan Allah Tuhan seluruh alam semesta
Bahwa Allah telah mengutus Jibril membawa wahyu Nya
Namun Jibril salah alamat menyampaikannya
Lalu penerima wahyu yang disebut Nabi itu salah kutip pula
Maka Quran tidak steril dari salah omong Sang Nabi
Karena itu dia bukan lagi kitab suci
Jadilah Islam bukan agama paling benar
Lalu semua agama baik dan benar adanya
Sebenarnya takut berkata semua agama salah
Bahkan yang benar tak adalah agama itu
Atau setiap saat siapa saja bisa menciptakan agama
Kebebasan beragama diubah jadi kebebasan berkeyakinan
Tak ada bimbingan wahyu
Maka yang ada hanyalah bimbingan nafsu
Taruhan sudah diletakkan di meja
Genderang perang sudah di tabuh berkali-kali
Manusia melawan Tuhan
Berbekal akal pikiran pemberian-Nya
Akal yang terbatas mau meraba Allah.
Allah Pengasih meskipun Perkasa
Allah Pengampun meski murka-Nya bisa sangat dahsyat
Akal dianugerahkannya sebagai amanah
Tapi manusia menukarnya untuk kemewahan
Kehidupan dunia yang setetes dari selautan isi akhirat
Tapi itu kan kata Nabi
Kata sahabat fulan melalui bapaknya fulan
Dari sahabatnya fulan lagi, dari dari dari
Wow banyaknya rantainya
Itu rantai manusia yang bisa lupa
Maka muncul tanya
Benarkah Nabi berkata demikian
Belajarlah pada ulama salaf
Ilmunya segudang sebelum menafsirkan sabda Tuhan
Zuhudnya tak tertandingi sehingga steril dari kepentingan dunia
Oh siapa pula mereka?
Mereka manusia juga
Bisa salah bisa lupa, bisa ngaku-ngaku
Suhanallah!
Sedang Nabi dicurigai kesuciannya
Firman Allah dilecehkan kemurniannya
Apatah lagi para sahabat
Apatah pula para ulama salaf
Begitu juga fatwa-fatwanya
Apalagi ulama sesama anak bangsa
Seumur teman sepermainan
Main gundu bersama sekarang mengeluarkan fatwa
Akal sama-sama pemberian Sang Pencipta
Sama?
Tidak!
Ulama punya akal pemberian Allah dan tidak tergadai
Sedang para penentang tak lagi punya apa-apa
Karena akalnya telah digadaikan
Dengan rumah dan mobil mewah
Dengan beasiswa dan biaya hidup
Dengan kawalan polisi penjaga keselamatan
Ketika masa mengamuk mau bertamu ke sarangnya
Ketakutan bibir hatinya bergetar
Adakah polisi bisa menjaganya dari datangnya Izrail?
Kepuasannya pada dunia yang sudah digenggamannya
Tanda kekerdilan, padahal akhirat lebih baik dan kekal
Puih!
Itu kan kata Quran
Sedangkan Quran keluar dari mulut Muhammad
Sedang Muhammad manusia biasa yang bisa salah
Lalu dimana agama kalau semua perangkatnya diprasangkakan?
Agama adalah akal, kata Nabi
Maka akal tidak boleh dikekang apalagi diadili
Lho, sekarang mengakui ucapan Nabi
Pilih mana yang cocok lalu pakai
Buang saja mana yang tak sesuai
Pilih pakai apa?
Pakai akal anugerah Allah!
Tapi kemudian Allah tidak diperlukan lagi
Dan sekarang sedang duduk di meja pertaruhan
Kalau Allah kalah, betapa hebatnya akalnya
Kalau Allah menang kemana mereka hendak berlari
Sedang semua jengkal tanah
Semua petak oksigen
Semua deburan ombak
Seluruh hembusan angin
Setetespun air dalam genggaman-Nya
Sedangkan tidak ada selembar daunpun gugur
Kecuali dalam sepengetahuan Allah
Ah, itu kan kata para fundamentalis
Toh, pertaruhan belum selesai
Biarkan langit, bumi, nyamuk, semut,
Virus HIV, setan dan jin yang menyaksikan
Puih.
Air liur dan ludah muncrat bebas keman-mana
Sengaja biar gratis bisa ke Amerika dan dicintai dunia
Manjakan akal hendak menggoyang pohon
Yang akarnya menghunjam dalam ke bumi
Dan batangnya tinggi menembus langit
Buahnya tumbuh setiap saat
Menebar manfaat bagi umat
Lupa shalat dan lupa berzikir
Itu kecil dan barang remeh temeh
Tapi jangan lupa berhitung setiap proposal
Berapa dollar akan dibayar
Mengaku ilmuwan tapi tanpa ilmu menutup cahaya
Mulutnya, tangannya, tulisannya dan baunya
Sekuat tenaga sebesar berapa bayarannya
Hendak menutup cahaya Allah
Tapi Allah malah sempurnakan cahaya-Nya
Walau penyandang dana takkan pernah suka
Sedangkan menjadi manusia tanpa bayangan saja tak bisa
Apatah lagi mau menutup Sang Cahaya
Maka bayang-bayangnya selalu berbicara
Siapa dan apa di balik keberaniannya bertaruh
Dengan Sang Penguasa
Sebenarnya tak perlulah capek, kalau waktunya tiba
Allah akan memadamkan cahaya-Nya
Di liang lahat mereka sehingga proposalnya
Tak ada lagi yang menggubrisnya
Sekutunya yang selalu menyalakan periuknya
Takkan peduli lagi kalau corongnya telah mati
Tak berfungsi lagi
Cikarang Baru, 13 Maret 2007


