Saat dengerin ceramahnya Pak Purdi dalam acara yang diadakan TDA Bekasi dan EU tanggal 2 Agustus 2009, saya sempat mencatat beberapa kamus singkatan dari Pak Purdi di antaranya:
BODOL = Berani Optimis (pakai) Duit Orang Lain
BONOL = Berani Optimis (pakai) Nama Orang Lain
BOTOL = Berani Optimis (pakai) Tenaga Orang Lain
BOWOL = Berani Optimis (pakai) Wajah Orang Lain
BISNIS = Berani Investasi Sedekah Nekad Insya Allah Sukses
BOSS = Berani Optimis Sedekah Sukses
Bahkan Optimis dan Pesimis itupun ada kepanjangannya…. Sayang saya lupa mencatat karena kecapekan ketawa dengar ‘kekonyolan’ Pak Purdi. Saking konyolnya sampai ada penanya yang mempertanyakan keseriusan Pak Purdi dalam seminar ini.
“Lho, saya serius ini…” katanya sambil tetap mengundang tawa.
Saat ditanya huruf E pada nama Purdi E. Chandra itu singkatan apa dengan enteng jawabnya itu artinya Entrepeneur! “Jadi, kalau Anda sudah sukses, boleh kasih huruf E di tengah nama Anda…”
Bener-bener Gila, kita jadinya….. eits bahkan bukunya yang berjudul Cara Gila Jadi Pengusaha itupun katanya gila itu maknanya ………….. (opo, yo … lagi-lagi aku lupa mencatat).
Intinya kita harus berani dalam bisnis. Jangan banyak hitung-hitungan…. Karena itu sekolah jangan pinter-pinter. Kalau pinter nanti setelah lulus, nglamar kerja pasti diterima. Kalau bodoh…. Gak diterima dimana-mana, ya jadilah Pengusaha akibat the Power of Kepepet!
Kalau sudah terjerumus jadi pengusaha gak usah mikir BEP, kapan baliknya modal…. Lha, jalan aja belum kok sudah mikir balik…. Sampai saat ini Pak Purdi juga gak mikir modal awalnya yang Rp 300 ribu itu sudah balik apa belum….. ha….ha…..
Lalu yang paling menyentuh saya adalah semangat bersedekah. Katanya:
“Hemat sedekah pangkal miskin. Boros sedekah pangkal kaya.”
Berboros-boroslah sedekah karena Allah jadi 'boros' ngasih rejeki sama kita. Weee lha enak tenan….. Enak toh…. (kata alm Mbah Surip).
Janji Allah, dia akan membalas sedekah kita minimal 10 kali lipat. Dan Allah tidak pernah menyalahi janjinya…. Karena janji itu hutang… maka Allah tidak mau berhutang sama kita…..
Dengan rumus-rumus itu kita bakal Sukses, insya Allah……
Sedang sukses itu sendiri ada tiga huruf S…. itu artinya Sedekah, sedekah, dan sedekah…
Tak lupa Pak Purdi minta kita mencatat rumus Sukses lainnya yaitu 9A. Semua yang hadir mencatat. No. 1 Action, ….. No 2. Juga Action, No. 3 …. Action lagi…….. Semua yang nyatet ketipu…….. Eits… ini bukan menipu karena action itu memang perlu! Tanpa Action kita tidak tahu apa yang terjadi atas rencana-rencana yang sudah kita susun.
Selamat Action dan Sukses Mulia!
Choirul Asyhar
Ps. Pak Eko Eshape, pinjam fotonya ya... tks.
Selasa, Agustus 04, 2009
Kamus Singkatan Ala Pak Purdi
Jumat, Juni 13, 2008
Do'a Attracts My LoA
Dalam rangka Milad II TDA, panitia mengadakan lomba menulis mimpi. Karena salah satu ajaran TDA adalah harus menuliskan mimpi secara detail, maka saya memaksakan diri menulisnya. Sekalian menguji seberapa hebat sih mimpi saya. Dengan menulis mimpi akan mudah bagi kita untuk menulis step-stepnya demi menggapai mimpi. Sekaligus untuk menguji teori Law of Attraction.
Maka tanggal 13 Januari 2007 saya kirim tulisan saya by email ke Bu Aning Harmanto sebagai salah satu anggota dewan juri sekaligus penggagas lomba ini.
27 Januari 2008
Saya menghadiri Milad II TDA. Acara yang sangat fantastis bagi saya. Banyak pencerahan saya peroleh. Juga silaturahim. Saya yang bukan siapa-siapa di belantara komunitas TDA ini, berani-beraninya datang ke kursinya Pak Wuryanano di barisan depan dan ngobrol lama dengannya. Mungkin obrolan tidak akan berhenti kalau saya tidak dikagetkan oleh suara Bu Aning (waktu itu namanya masih Bu Ning) yang memanggail nama saya sebagai pemenang hiburan lomba menulis mimpi.
Alhamdulillah, meskipun mimpi saya biasa-biasa saja saya dapat paket dari Mahkota Dewa sebagai hadiahnya. (he... he... atau karena tidak ada mimpi yang spektakuler dalam tulisan saya maka saya hanya dapat paket hiburan.....).
Di penghujung acara, dipandu oleh Pak Jusef Hilmy hadirin diminta memvisualisakan mimpinya masing-masing di kepalanya. Sayapun melakukannya. Diiringi suara beliau yang mengantar ke suasana khusuk dan syahdu.
Februari 2008
Saya diajak seorang teman TDA yang punya butik Aida untuk menghadiri seminarnya Pak Tung Desem Waringin. Pak Jamrianto namanya. Beliau baru membeli buku Financial Revolution dan mendapatkan 2 tiket seminar gratis di JaCC. Sebelum kenal TDA saya tidak kenal yang namanya Pak Tung dan buku-buku motivasi lainnya. Karena selama ini bagi saya buku-buku motivasi itu hanya menjual teori dan tak bisa dipraktekkan.
Karena penasaran dengan kompor panas di TDA yang sering saya hirup di milis TDA, maka saya mau saja diajak Pak Jamrianto. Apalagi seminarnya gratis.....
Pada sessi yang membahas Law of Attraction, Pak TDW minta hadirin berdiri dan memvisualisakan mimpinya. Saya pun menuliskan di buku kerja yang disiapkan TDW dan memasukkannya ke kepala saya. Ketika menulis target kapan mimpi saya terealisasi saya tulis September 2008. Mimpi yang saya tanam dalam kepala saya adalah sama persis dengan yang saya lakukan di Milad TDA. Dan sama juga dengan yang saya tulis di lomba menulis TDA.
Maret 2008
Suatu hari di bulan ini, nada SMS Hp saya berdering. Saya langsung buka. Isinya membuat saya kaget dan gembira. ”Rul, berapa uang DP ruko yang kamu perlukan?” demikian kira-kira bunyi SMS itu. Pesan singkat itu datang dari Kakak saya. Karena selama ini saya nyantai aja dalam merealisasikan mimpi saya, maka kini saya harus hunting cari informasi harga ruko.
Pertama-tama saya ajukan ruko satu lantai di dekat rumah. Pertimbangan saya, kalau saya buka toko, saya tetap bisa bolak-balik mengontrol usaha bimbingan belajar saya. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Cukup 3 menit naik motor. Ruko satu lantai jelas lebih murah dibandingkan dua lantai.
Ketika saya sampaikan kepada kakak saya, dia malah menunjukkan iklan yang ada di sebuah harian nasional. Ada ruko dua lantai di Cikarang Baru, katanya via SMS, lengkap dengan nomor telponnya. Akhirnya pilihanpun jatuh ke sebuah ruko dua lantai di Cikarang Baru. Lha... kok sesuai dengan impian saya, ya. Sayapun menelpon bagian marketingnya.
Dan di bulan ini pun disepakati harga, cicilan DP dan seterusnya.
Awal Mei 2008
Akad kredit dengan sebuah bank syariah selesai dilaksanakan. Beberapa hari kemudian kunci ruko sudah ada di tangan saya. Kini bola ada ditangan saya. Giliran saya harus memutar otak mengurus pemasangan listrik dan air, menyiapkan display, membuat dapur di belakang ruko dan selanjutnya, mencari karyawan untuk mengurus usaha bimbel saya karena ruko ini letaknya agak jauh dari tempat bimbel saya.
Juni 2008
Bulan-bulan ini saya harus membelanjakan uang cukup banyak. Display toko, folding gate, dapur, beli pompa air dan seterusnya. Juga belanja barang dagangan. Wow, lumayan terengah-engah juga.
Dalam kondisi demikian, saya hanya bisa bersyukur dan terus berdoa kepada Allah. Bersyukur karena mimpi saya semakin mendekati kenyataan. Saya yakin dengan bersyukur kepada-Nya akan menarik nikmat-nikmat-Nya yang lain. Terus berdoa karena hanya dengan do’a dan perkenan Allah-lah, mimpi-mimpi saya ini terwujud. Maka kini dalam kondisi terengah-engah karena semakin menipisnya modal saya, sayapun mengulangi kunci sukses saya sebelumnya. Yaitu berdoa: Ya Allah, ya Razzak, urzuqlana halalan thoyyiban wa waasi’an. Ya Allah, ya Wassi’, wassi’ razaqonaa wa wassi’ suduronaa... Amiin
Sabtu, Maret 22, 2008
Saling Memaafkan: Kunci Perdamaian
“Mohon maaf jika ada kata yang tak berkenan”
“Mohon maaf dan harap maklum”
“Mohon maaf apabila dari tulisan saya ada yang tersinggung.”
Demikian sebagian contoh kalimat penutup dalam beberapa posting atau tulisan di beberapa kesempatan. Baik tulisan yang berisi nasihat, maupun tulisan yang berisi respon terhadap tulisan sebelumnya. Baik permintaan maaf karena sikap tawaddu, basa-basi, maupun karena memang benar-benar merasa bersalah.
Ketika mengakhiri sambutannya sering kita dengar seorang pejabat menyampaikan permintaan maafnya jika ada kesalahan dalam bertutur kata. Demikian juga, bahkan seorang Ustadz, yang memberikan ilmu dan nasihatnya kepada kita, juga mengakhirinya dengan permintaan maaf. Saya melihat ini adalah suatu kebiasaan baik, bahwa setiap berpisah kita meminta maaf atas kesalahan yang timbul baik yang kita sengaja maupun tidak sengaja.
Ketika saya bekerja di perusahaan Jepang, betapapun mereka terkenal santun dalam bertutur kata dengan lawan bicaranya. Ketika menyampaikan kesan-kesannya saat mau pulang kembali ke Jepang, biasanya diakhiri dengan ucapan terima kasih atas kerjasama para bawahannya dan koleganya selama ini. Dan harapan agar kerjasama itu tetap diberikan kepada penggantinya. Itu saja. Tak ada pernyataan permintaan maaf dari mulutnya, meskipun selama 2-4 tahun menjadi atasan, pasti banyak kata-kata atau perintah yang disampaikan secara kasar kepada bawahannya. Atau ada keputusan-keputusannya yang menyakitkan beberapa orang. Tapi tidak ada permintaan maaf itu. Karena mereka yakin keputusan-keputusannya, perintah-perintahnya, penugasan-penugasannya itu semua adalah dalam kapasitas profesionalisme.
Demikian juga ketika saya membaca surat pamitan pejabat-pejabat bule. Isinya adalah, kesannya bekerja dan berinteraksi yang menyenangkan dalam kerja tim yang solid. Juga ucapan terima kasih atas dukungan positif dari berbagai pihak. Permohonan dukungan bagi penggantinya. Dan harapan dan doa kesuksesan di masa yang akan datang. Titik. Tidak ada permintaan maaf.
Berbeda dengan budaya kita. Sejak di lingkungan rumah, kita mengajarkan kepada anak-anak kita agar mereka segera minta maaf jika bersalah. Maka dalam budaya kita wajar jika permintaan maaf bertebaran di mana-mana. Dalam berbagai interaksi. Melaui surat, media elektronik, ceramah agama dan sebagainya. Baik karena suatu kesalahan yang spesifik, maupun yang tidak jelas. Maka kalimat ini sering kita temukan di berbagai kesempatan: ”Mohon dimaafkan atas segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang tak disengaja.” Dan peminta maafpun tak tahu kesalahan mana yang disengaja dan mana yang tak disengaja. Akhirnya permintaan maaf mudah disampaikan, meskipun tidak berarti kesalahan jadi mudah dilakukan.
Saya senang dengan budaya ini. Karena ajaran agama saya juga mengajarkan agar tidak terjadi hutang kesalahan dengan sesama, maka semuanya harus segera diselesaikan. Kalau tidak, akibatnya akan kita rasakan di pengadilan akhirat. Tetapi sayang saya jarang menemukan atau mendengar jawaban atas permintaan maaf yang disampaikan itu. Misalnya, ”Ya, saya maafkan kesalahanmu.” Apakah karena permintaan maaf sudah jadi basa-basi, sehingga yang dimintai maafpun tidak menjawab sepatah katapun. Berbeda dengan kejadian di rumah kita. Ketika anak-anak meminta maaf atas kesalahannya, sering kita spontan dengan tulus ikhlas menjawab ”Ya, Ayah maafkan. Jangan diulangi, ya...” Maka selesailah kasus itu.
Penasaran dengan maaf-memaafkan ini, maka saya cari di Digital Qur’an ver 3.2. Saya mendapatkan jawaban: 35 ayat yang mengandung kata maaf ini. Dan yang menarik dari ke-35 ayat ini, hanya 4 ayat yang berisi permintaan maaf kepada Allah. Sisanya yang 31 ayat tentang memaafkan yang terdiri dari 15 ayat berisi pemberian maaf dari Allah atas kesalahan hamba-Nya, dan sisanya 16 ayat berisi perintah Allah agar kita memaafkan orang lain atau sifat pemaaf sebagai ciri dari orang-orang yang bertakwa. Bahkan tanpa diminta pun!
Mari kita buka salah satu ayat, misalnya QS Ali Imran : 134
الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين الغيظ والعافين عن الناس والله يحب المحسنين
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Ayat di atas jika dihubungkann dengan ayat 133, menjelaskan kepada kita bahwa sifat pemaaf adalah salah satu ciri dari orang yang bertaqwa, yang mengharapkan ampunan dan surga Allah.
Maaf-memafkan biasanya berkaitan dengan sengketa atas suatu perkara. Maka sebelum maaf-memaafkan biasanya ada amarah. Orang yang bertaqwa dalam bersengketa mampu menahan amarahnya lalu memaafkan. Bahkan dalam surat Asy-Syu’ara : 37, orang-orang yang menjauhi dosa dan perbuatan keji mereka meredam kemarahannya justru dengan cara memaafkan.
والذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش وإذا ما غضبوا هم يغفرون
dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.
Maka semangat memberi lebih didahulukan dari pada menerima. Memberi dulu maka kita akan menerima. Pemberian maaf lebih mendekatkan kita kepada taqwa. Dalam berbagai ayat permintaan maaf lebih banyak ditujukan kepada Allah, sedang kepada sesama manusia kita diperintahkan lebih banyak memberi maaf. Saya memaknai, kita akan lebih mulia jika menjadi orang yang proaktif memaafkan kesalahan orang lain. Bahkan sebelum permintaan itu disampaikan. Dan ketika orang lain meminta maaf, segera kita meresponnya dengan perkataan yang baik dan memaafkannya secara ikhlas.
Perkataan yang baik dan santun bisa lebih mahal daripada sedekah yang diiringi dengan hal-hal yang menyakitkan. Maka tidak mengherankan ketika pujian disampaikan bercampur dengan sesuatu yang menyakitkan yang terjadi adalah kesalahpahaman. Demikian juga jika permohonan maaf disampaikan dengan cara yang justru membuka luka-luka perselisihan itu kembali, maka maaf-memaafkan tak akan menuju pada perdamaian.
Saya prihatin ketika membaca tulisan seseorang dalam upaya mengakhiri perselisihannya dengan temannya, dia menulis ”Sekali lagi mohon maaf. Saya tidak ada unsur melecehkan atau menyerang Bapak. Yang ada juga saya yg diserang dan dilecehkan... :P”
قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها أذى والله غني حليم
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. Al Baqarah : 263)
Memberi itu lebih baik dari pada meminta. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memaafkan lebih baik daripada meminta maaf. Apalagi jika semuanya disampaikan dengan tulus ikhlas.
Wallahu’alam bis Shawab.
Senin, Januari 28, 2008
Mengapa Saya Ikut Lomba Menulis Mimpi?
Gara-gara Bu Aning Harmanto ngojok-ojoki (bahasa kerennya: mem-provokasi) member milis TDA, maka saya memberanikan diri ikut lomba menulis mimpi dalam rangka MILAD ke-2 TDA Community ini.
Motovasi saya ada tiga. Pertama: Kasihan sama Bu Ning... eh Bu Aning, karena sebagai penggagas sekaligus juri, ide lomba menulis mimpi ini tidak selaku jualan jamunya. Waktu saya terojok-ojoki (cocok nggak ya untuk terjemahan dari kata ”terprovokasi”?) jumlah pesertanya belum sampai 15 orang. Padahal member milis ini ada 1600 orang lebih. Kalau yang sepertiga (optimis!) sudah gak punya mimpi lagi (ada nggak ya?) jadi gak minat ikut lomba ini, berarti seharusnya ada 1000-an peserta. Karena menulis itu gak seperti makan kacang goreng, yang lancar sampai ludes dan terus renyah sampai masuk kerongkongan, maka jika hanya 20% saja dari 1000 yang ikut lomba menulis, maka seharusnya ada 200 peserta. Tapi memang meski mimpi itu gratis, banyak orang yang takut bermimpi, maka wal hasil pesertanya Cuma 25 orang (kalau nggak salah, karena saat diumumkan kemarin saya sedang asyik ngobrok dengan Pak ’Luar Biasa Prima’ Wuryanano pemenang TDA Blogger Award pada Milad ke-2 ini)
Motivasi yang kedua adalah saatnya saya menulis mimpi saya! Siapa tahu gatel-gatel yang sering muncul pada kulit kaki saya bisa sembuh. Lho? Ya, katanya ahlinya sih, selain alergi makanan, gatel-gatel juga bisa muncul jika kita stress. Dan yang penting lagi, jika sudah ditulis akan tertanam dalam otak bawah sadar saya lalu kekuatan otak ini akan menggerakkan berbagai aktivitas menuju cita-cita itu.
Ketiga adalah hadiahnya. Paket herbalnya bu Aning Harmanto. Karena dulu saya sebenarnya pernah kontak dengan salesnya untuk menjadi resellernya. Sekarang pengen nyicipin gratis dulu. Hadiah selanjutnya adalah tulisan akan dimuat dan dibukukan oleh Pak Isdiyanto big boss-nya majalah Wirausaha dan Keuangan. Siapa tahu kalau berhasil jadi pemenang dan dimuat dan dibukukan menjadi pintu gerbang pembukuan tulisan-tulisan saya yang lain. Amiin.....
Duar!...... ternyata nama saya dipanggil diurutan paling akhir pengumuman yang disampaikan oleh Bu Aning.
Alhamdulillah, ternyata mimpi di balik tulisan tentang mimpi ini terealisasi. Saya jadi pemenang. Pemenang hiburan! Ya.... ini benar-benar menghibur saya. Di sela-sela ngobrol dengan Pak Nano yang ternyata sangat hangat menerima salam kenal saya yang selama ini belum pernah ketemu muka, kecuali sekedar kirim-kiriman foto di blog, nama saya dipanggil sebagai salah satu pemenang hiburan.... Ha... ha... ha... benar-benar menghibur saya dan semoga juga bisa menghibur pembaca majalahnya Pak Isdiyanto nanti.
Dan sebentar lagi mimpi di balik mimpi yang lain bakal terwujud juga yaitu dibukukannya tulisan para pemimpi ini. Dan tulisan saya menjadi salah satu diantaranya. Lalu gatel-gatel saya bakal sembuh. Lalu .... rasanya indah sekali kalau saya punya ruko sendiri. Semua aktivitas bisnis dan sosial dapat saya ’nakhodai’ dari markas saya ini. Karena dalam simulasi yang dibimbing oleh Pak Yusef Hilmi di akhir acara Milad kemarin, mimpi ini jugalah yang saya telah tanam dalam otak bawah sadar saya.
Semoga Allah membimbing selalu dalam mewujudkannya. Amiin. Amiin. Amiin.
Minggu, Januari 20, 2008
Ada Makan Siang Gratis (?)
(Sebuah upaya memaknai Silaturahim)
“Tidak ada makan siang gratis”
”There is no free lunch”
Wow, sedemikian sumpeknya kah hidup kita sekarang?
Tidak adakah lagi persahabatan sejati? Tidak ada lagikah silaturahim sejati?
Ya… bahkan silaturahim pun bisa menjadi ajang pertemuan yang ujung-ujungnya adalah bagi-bagi rejeki proyek! Jadi ada udang di balik silaturahim. Pakai dalil lagi. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW, bahwa silaturahim akan memanjangkan umur dan membuka pintu rezeki.
Siapa yang nggak mau rezeki? Zaman krismon begini, Bung! Banyak karyawan di PHK. Lowongan kerja bagaikan lubang jarum bagi orang tua yang matanya sudah rabun. Memasukkan benang ke lubang jarum saja susah. Apalagi dengan mata yang rabun. Susah buanget, Rek! Ya… Susah mengisi lowongan kerja yang sempit bagi korban PHK yang tentu sudah berumur dibandingkan yang fresh graduate atau lulusan SMA yang masih terang benderang matanya. Lalu kalau ada yang menawarkan rezeki, maka sekali lagi, siapa yang nolak?
Lalu yang kedua: Siapa yang nggak mau umurnya panjang? Mati?… Hiii begitu menakutkan. Bekal dunia aja cupet, apatah lagi bekal akhirat. Mungkin telah terhapus oleh keluh kesah sumpeknya hidup. Mana sempat mencari bekal akhirat, kalau waktu kita habis untuk mengais-ngais rezeki 12 jam sehari, 7 hari seminggu, 30 hari sebulan, 12 bulan setahun. Kalau ada istirahat, itu karena badan sakit meriang radang tenggorokan masuk angin puting beliung. Kalau orang berduit istirahatnya menghambur-hamburkan uang untuk wisata baik jasmani maupun rohani sampai ke Tanah Suci. Orang miskin istirahatnya adalah menyetorkan uangnya ke rumah sakit, apotik dan warung obat.
Maka wajar kalau orang berbondong-bondong ‘melaksakan’ sunnah Rasul ini. Orang berbondong-bondong silaturahim demi mendapatkan rezeki. Kalau pepatah mengatakan ada udang di balik batu. Maka kini ada rizki dan umur panjang di balik silaturahim. Jadi, kalau udangnya adalah rizki dan umur panjang. Silaturahim lalu sama dengan batu. Keras, kaku, mati, bisu, dingin kalau saja tidak ada pembicaraan proyek dan bagi-bagi rizki di dalamnya. Licin, gampang pecah berkeping-keping, mudah menggelincirkan kalau tidak arif dan adil dalam membagi rizki dan proyek.
Maka bahasa keren dari silaturahim bergeser menjadi networking. Membuka jaringan. Jaringan usaha. Jaringan bisnis. Apa saja jaringan yang penting tujuannya adalah rizki. Kalau rizki maknanya dipersempit menjadi ’uang’ saja, maka jaringan justru diperluas maknanya bahkan sampai menjadi jaringan kolusi, korupsi dan nepotisme. Ya... bahkan silaturahim menjadi ajang membuka jaringan KKN!
Pasti kita tidak jarang mendengar seorang bertamu ke rumah atau kantor pejabat. Layaknya tamu yang datang pembicaraannya bisa dibagi menjadi tiga bagian. Pembukaan, isi dan penutup. Ketika dipersilakan duduk, sang tamu membuka pembicaraan bahwa “pertama-tama tujuan kedatangan kami adalah untuk silaturahim”. Selanjutnya…. Sang tamu akan menyampaikan apa ’udang’nya. Bisa menawarkan barang atau jasa. Bisa minta proyek, minta restu ini itu. Lalu penutupnya adalah janji cipratan rizki sana-sini yang akan mengalir ke pundi-pundi sang pejabat. Maka silaturahim yang kaku seperti batu kalau tanpa udang, berubah menjadi lentur, hangat, hidup, cair dengan adanya udang yang berupa proyek bagi-bagi rizki itu.
Ini bikin hidup lebih hidup. Bikin umur makin panjang dan lama. Lalu serasa nikmat banget hidup di dunia. Gimana gak uenak.... Umur panjang, rezeki banyak. Lalu silaturahim yang demikian membuat kita malah lupa, ... atau tepatnya : nggak mau mengingat mati.
Maka pada gilirannya hadis Rasul yang menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang sering ingat akan kematian, menjadi hadis yang tidak populer. Jauh kalah populer dengan hadis silaturahmi membawa rizki dan umur panjang itu. Yang pertama mengingatkan kematian, yang kedua menjanjikan kamakmuran hidu. Bisa dipastikan kita lebih mencintai hidup daripada kematian. Kita lebih banyak merencanakan kehidupan yang layak daripada kematian yang penuh ampunan. Meskipun kita hafal peringatan Allah :
(17) والآخرة خير وأبقى (16) بل تؤثرون الحياة الدنيا
Tetapi kamu memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’laa : 16-17)
Benarkah istilah silaturahmi telah mengalami degradasi makna sedemikian rendahnya? Karena dia telah menjadi bahasa akademis dalam dunia marketing? Menjadi salah satu kiat dalam membesarkan bisnis?Do silaturahim! Do networking!
Lalu bagaimana kalau silaturahim itu ternyata tidak menawarkan proyek dan duit?
Silaturahim hanya untuk menjaga nasab agar kita dan sanak saudara kita tidak ’kepaten obor’? Kepaten obor adalah bahasa jawa yang dipakai untuk mengungkapkan kondisi dimana kita tidak tahu lagi silsilah keluarga dan kerabat. Ketika bertemu di jalan, kita panggil saja mereka dengan Pak, Om, Mas atau Dik. Karena kita tidak tahu detail siapa mereka sebenarnya dan di mana posisinya dalam hubungan kekerabatan keluarga besar kita.
Ya... ternyata silaturahim demikian ternyata tidak menarik. Kaku, bisu, dingin dan .... lucu! Lucu karena meskipun judulnya silaturahim ternyata malah diam-diaman saja dengan teman duduk yang ada di sebelahnya.
Ada lagi yang lebih lucu. Judulnya silaturahim ditambah dengan embel-embel silaturahim nasional atau silaturahim akbar nasional. Acaranya pun diumumkan di mana-mana. Sepanjang jalan sekian kilometer menuju gedung silaturahim terpasang puluhan umbul-umbul dan spanduk. Dihadiri oleh peserta seluruh negeri, terhormat dan berkedudukan. Tapi hasilnya adalah lempar-lemparan kursi dan caci maki. Kemudian esoknya muncul di surat kabar nasional adanya kepengurusan tandingan! Lalu berebut kantor pimpinan. Lalu berperkara di pengadilan. Sekali lagi, karena tidak ada ‘udang’-nya maka silaturahim menjadi seperti batu yang keras, licin, gampang pecah dan menggelincirkan kita terpeleset jatuh dalam perpecahan.
Lho, bagaimana dong! Silaturahim harus disyaratmutlaki adanya bagi-bagi proyek?
Ternyata tidak!
Rasulullah benar-benar menjalin silaturahim dengan para sahabat tanpa proyek bagi-bagi duit. Tanpa prospek bisnis yang segera harus ditindaklanjuti. Silaturahim benar-benar menyambung kasih sayang seperti halnya makna dari silaturahim itu sendiri. Silaturahim adalah mengucapkan salam sesama muslim. Silaturahim adalah saling bertegur sapa di masjid selepas shalat berjama’ah. Silaturahmi adalah bertegur sapa dengan tetangga. Silaturahim adalah menengok, mendoakan dan menghibur orang sakit. Silaturahmi adalah bahkan memandikan, menyolatkan jenazah dan mengantarkannya ke kuburnya.
Silaturahim adalah ketika Rasulullah setiap hari mendatangi dan memberikan roti kepada pengemis Yahudi buta yang justru setiap hari mulutnya mencaci maki kegiatan da’wah Rasulullah. Maka hasil silaturahim adalah masuk Islamnya si pengemis buta itu. Karena sepeninggal Rasulullah, sahabat Abu Bakar melanjutkan kebiasaan silaturahim itu. Tapi sang pengemis Yahudi ini mencaci rasa roti buatan Abu Bakar. Kenapa rasanya tidak selezat roti yang selama ini diterimanya. Abu Bakarpun menjelaskan bahwa pembuat roti lezat yang selama ini mengantarkannya sendiri kepadanya telah meninggal dunia. Karena itu Abu Bakar menggantikannya. Dan pembuat roti lezat yang rajin mengunjunginya itu adalah Rasulullah yang selama ini dicaci maki kegiatan da’wahnya oleh si pengemis buta itu. Maka hasil silaturahim adalah datangnya pengemis Yahudi itu ke pangkuan Islam.
Silaturahim adalah ketika Fatimah menyedekahkan gaun pengantin buatan ayahanda Rasulullah yang akan dikenakannya esok pagi kepada seorang pengemis yang mengetuk pintunya minta sekeping dua keping sedekah untuk mengganjal perutnya. Maka hasilnya adalah kedatangan seseorang yang mengantarkan gaun pengantin mewah, yang tidak lain adalah Jibril alaihis salam.
Silaturahim adalah ketika Ali Bin Abi Thalib mendapatkan beberapa dirham uang yang diperolehnya dari berhutang di pasar demi mengepulkan asap dapurnya, tapi lalu disedekahkan kepada sabahatnya yang ternyata dianggapnya ‘lebih’ membutuhkannya. Maka hasil silaturahim adalah Ali Bin Abi Thalib pulang tanpa membawa sepeser uangpun untuk Fatimah di rumah. Tapi dengan penuh keterperangahan Ali melihat bahwa telah tersedia hidangan masakan istimewa dari Surga sebagai ganti sedekahnya di pasar tadi.
Silaturahim adalah ketika Umar Bin Khattab sang pemimpin negara memanggul sendiri dengan punggungnya sekarung gandum demi meredakan tangis anak-anak warga negaranya yang capek menunggu matangnya beberapa burtir batu yang direbus oleh ibunya. Maka hasil silaturahim adalah kesejahteraan rakyatnya dan lecutan bagi Umar agar menjadi pemimpin yang lebih peduli lagi dan melayani rakyatnya.
Agaknya silaturahim demikian terjadi karena didasari oleh minimal kedua hadis Nabi di atas. Menjaga kehidupan tapi terus menginvestasikannya bagi kematian yang menjadi pintu gerbang menuju akhirat. Karena faham benar bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati.
Adakah silaturahim demikian? Sekarang?
Tidak sama persis memang. Tapi saya mendapatkan nuansanya. Ada makan siang gratis. Tak ada pamrih proyek atau prospek.
Tanggal 11 Januari 2008, dalam kunjungan saya menengok anak saya di pesantren Assalam di Solo, saya meluncur ke kantor seorang aktivis TDA Joglo. Tak ada komunikasi dan tatap muka sebelumnya kecuali melalui email. Sampai di kantornya, teman tadi tidak ada di tempat. Kabarnya baru tadi pagi subuh pulang ke rumah. Berarti jam sebelas siang ini pasti beliau masih istirahat di rumahnya. SMS dan telpon saya ke HP-nya pun tak berbalas. Sampai akhirnya saya harus pamit karena sebentar lagi masuk waktu sholat jum’at.
Ba’da shalat Jum’at, Hp saya berdering tanda ada SMS masuk. Sang teman menanyakan saya ada di mana dan dia mau menjemput saya. Tak lama kemudian dengan mengendarai motor dia memasuki halaman masjid. Meski belum pernah ketemu, saya hafal wajahnya setelah dia membuka helmnya. Karena saya beberapa kali menyaksikan wajahnya di weblognya. Blog yang berisi aktivitsnya membina dan bersama beberapa kelompok tani. Pemberdayaan dan advokasi petani. Siapa yang tak kenal dengan Pak Riza ini.
Setelah bertegur sapa, saya pun nyengklak ke jok belakang motornya menuju sebuah rumah makan. Kita makan siang dulu, katanya. Yang diiyakan oleh perut saya yang memang sudah mulai berasa lapar.
Makan siang nasi dan sayur asem serta ikan lele goreng plus sambel demikian nikmatnya. Obrolan pun berlangsung gayeng, sampai kemudian bergabung seorang bujangan yang energik dan aktif. Seorang koordinator TDA Solo, Mas Sangaji, yang katanya pengen menikah tahun ini.
Tak terasa obrolan silaturahim ini berlangsung satu setengah jam. Dan saya sudah harus pulang karena tiket bus sudah di tangan. Mas Sangaji pun dengan bermotor ria mengantar saya ke pool bis yang akan mengantar saya menuju Cikarang.
Ini pertemuan silaturahim murni. Tidak ada pembicaraan proyek, karena saya belum jadi pebisnis seperti Pak Riza dan Mas Sangaji. Tak ada bagi-bagi rizki apalagi komisi. Yang ada hanyalah menambah persaudaraan sehingga nanti saya akan mampir ke sini lagi saat menengok anak saya sebulan lagi. Syukur bisa menumpang tidur, sehingga uang penginapan saya bisa jadi uang saku anak saya di pesantren selama sebulan.
Lumayan, di sini ada makan siang gratis. Tumpangan gratis ke pool bis. Belajar ilmu sosiologi pertanian gratis. Belajar ilmu agribisnis gratis. Dan pertemanan yang sudah pasti gratis. Mudah-mudahan bulan depan ditambah numpang tidur gratis. Khas TDA. Hasil silaturahim ini telah saya rasakan saat itu juga berupa rasa syukur kepada Allah karena ada kesempatan yang diisi pertemanan yang tulus. Dan hasil silaturahim ini saya yakin nantinya juga akan saya rasakan lagi. Tidak harus berupa bisnis. Tapi juga tidak harus tidak berupa bisnis. Karena: Ini TDA, Bung!
Cikarang Baru, 19 Januari 2008
Atau 10 Muharram 1429H, saatnya mulai menjalin juga silaturahim dengan anak yatim dan dhuafa.
Selasa, Agustus 21, 2007
Tangan di Atas
Oleh: Choirul AsyharKembali ke laptop! Eh... kembali ke topik. Berarti memberi adalah suatu amalan yang tinggi derajatnya. Karena perintahnya selalu disandingkan dengan perintah sholat.
Tapi betapa banyak kita tak peduli dengan ajaran ini. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Banyak pengemis di mana-mana. Di perumahan pengemis banyak berdatangan. Hampir setiap hari 2-3 pengimis mampir ke rumah saya. Apalagi kalau kita beri beberapa rupiah, bisa dipastikan besok atau lusa akan datang lagi.
Rasulullah mengatakan mengemis diperbolehkan jika benar-benar tidak ada yang dimakan untuk hari ini. Artinya boleh dalam keadaan darurat saja. Jadi tidak boleh dijadikan profesi. Apalagi sampai-sampai dengan mengemis bisa menabung, membiayai kebutuhan lainnya, bahkan membangun rumah.
Ngomong-ngomong membangun rumah, kabarnya di salah satu sudut Jawa ada desa yang sebagian besar penghuninya berprofesi sebagai pengemis di kota. Tapi kalau kita mampir ke sana, kita akan berdecak kagum. Ternyata rumah-rumah mereka di sana jauh lebih luas dan indah dibandingkan rumah kita sendiri yang sering mereka kunjungi.
Ada satu lagi gejala baru. Tidak hanya rumah pribadi yang dibangun dengan mengemis. Banyak rumah Allah yang dibangun dengan mengemis di jalanan. Panitia menyebar petugas-petugas yang siap dengan jaring untuk menangkap uang yang dilempar oleh pengemudi dan penumpang mobil yang lewat di jalan raya. Tidak jauh dari tempat mesjid akan dan sedang dibangun, di sana juga ada seorang yang bertindak sebagai MC untuk menyampaikan maksud dan tujuan diadakannya ‘jaringan amal’ ini. Serta menyemangati pengguna jalan untuk beramal dengan segala imbalan do’a-do’anya.
Anda sedang memasuki daerah Jaringan Amal. Kalimat ini memang pernah saya baca ketika melintasi sebuah daerah di pantura. Saya kaget istilah apa pula ini. Teman saya memelesetkan dengan Amal Network. Padahal maksud jaringan adalah menangkap sedekah yang dilempar oleh pengendara mobil dengan sebuah jaring yang biasa dipakai anak-anak untuk menangkap kupu-kupu itu.
Mengemis atau tangan di bawah ternyata tidak Cuma dilakukan oleh orang miskin (yang lalu jadi kaya) dan panitia pembangunan masjid. Di banyak tempat juga banyak pengemisnya. Di kantor-kantor pemerintah maupun di kantor swasta.
Ketika memasuki kantor kelurahan, siapkan uang kecil sebagai uang lelah pak sekdes mengetik surat. Kalau tidak dikasih, kemungkinan besar –saya tidak berani mengatakan ‘pasti’- beliau cemberut. Kata anak muda, ”minta sih enggak, tapi kalau nggak ngasih ‘awas lo!”. Di kantor kecamatan juga demikian. Mengurus KTP, kita tidak bisa memberi uang sekedarnya. Meskipun itu berarti 5-10 ribu yang berarti sudah lebih dari biaya sebenarnya. Sudah ada tarip tak resmi tapi besarannya pasti. Kalau ini jelas-jelas diminta oleh petugas. Di kantor polisi ketika melapor kehilangan dompetpun, kita diminta uang administrasi. Padahal uang kita sudah hilang bersama dompetnya. Di kantor bea cukai apalagi. Setiap dokumen berarti uang. Mengeluarkan barang minta uang, memasukkan barang minta uang.
Di kantor swasta juga banyak pengemis. Kalau mau dagangan kita dibeli, bagian pengadaan barang minta komisi. Tidak ada komisi, tidak ada repeat order.
Tapi yang menggembirakan adalah adanya komunitas yang semangat untuk menjadi tangan di atas. Saking semangatnya bahkan karyawan atau buruh yang terima gaji bulanan itu disebut kelompok tangan di bawah. Karena selalu menerima uang dari majikan setiap bulan. Bayangkan, menerima gaji setiap bulan sebagai hak saja disebut kelompok tangan di bawah. Apalagi yang sengaja minta-minta pungli dan komisi. Entah apa mereka menyebutnya.
Mental tangan di bawah apalagi yang berarti mengemis, malak, minta komisi, pungli dan sebagainya harus sedikit demi sedikit dikikis. Diganti dengan mental beramal, berikhtiar dan berdo’a. Selalu memberi. Tidak selalu meminta. Dengan menyebut komunitas tangan di atas mereka punya cita-cita menjadi orang yang menggaji. Bukan lagi jadi orang yang terima gajian setiap bulan. Mereka pengen menjadi pengusaha yang menebar rahmat bagi umat. Apa ada? Lihat aja di: http://www.tangandiatas.com/.
Semoga Allah selalu membimbing mereka menggapai cita-cita mulia.
Cikarang Baru, 21 Agustus 2007

