Senin, Februari 04, 2008

The Law Of Attraction

Sebelum Sir Isaac Newton menemukan hokum grafitasi, setiap benda sudah jatuh ke tanah jika dilemparkan. Daun gugur dari pohon juga sudah jatuh ke tanah. Tidak terbang ke udara. Buah jatuh dari pohon bukan melayang. Jadi ditemukan hukum gravitasi atau tidak, hukum benda jatuh ke tanah sudah ada sejak bumi ini diciptakan oleh Allah.

Api juga sudah panas sebelum ilmuwan menemukan teori kalor, kekekalan energi dan sejenisnya. Bahkan tanpa teori-teori itu ilmu yang paling dahsyat mengajari balita kita tentang panasnya api adalah ketika mereka usil menyentuhkan tangannya ke nyala lilin.

Newton menemukan hukum kelembaman, di mana setiap benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak dengan kecepatan tetap dan setiap benda yang diam akan terus cenderung diam, jika tidak ada gaya yang mempengaruhinya. Newton mendapatkan teori ini setelah dia melakukan berbagai penelitian kejadian-kejadian di alam semesta ini. Berbagai simulasi dilakukan untuk akhirnya menemukan hukumnya itu. Jadi Newton ’hanya’ merangkai sebuah kesimpulan dari kejadian-kejadian yang ada. Karena belum ada orang lain yang menyatakan sebelumnya, maka hukum ini disebut Hukum Newton. Semua femomena gerakan dan diamnya benda di bumi ini tunduk pada Hukum Newton ini. Tetapi itu tidak berarti tunduk pada Newton sendiri sebagai manusia. Malahan Newton sendiri juga tunduk pada teorinya itu. Kalau jatuh juga ke bawah. Kalau dia sedang diam berdiri, akan njrungup ketika tiba-tiba di dorong dari belakang dengan kekuatan cukup.

Lalu belakangan ada ilmu yang sebenarnya sudah lama didengungkan oleh para filsus kuno, tapi jadi tren baru sejak munculnya film the Secret. Yaitu the Law Of Attaction (Hukum Daya-Tarik) atau disingkat LoA, yang menyatakan bahwa manusia itu seperti magnet. Sehingga setiap detil peristiwa yang dialaminya adalah atas undangan (daya tarik) dirinya sendiri.

Sama dengan hukum-hukum sebelumnya, sebelum muncul istilah dan definisi ini, Allah juga telah menjadikan itu sebagai rangkaian ke-Mahapenciptaan-Nya. Allah menciptakan alam semesta lengkap dengan berbagai sistemnya. Sangat sempurna. Ada api panas, ada air dingin. Ada grafvitasi, ada orbit. Ada energi, ada kekekalannya. Ada gerak, ada kelembamannya. Di Indonesia dan daerah tropis lainnya ada musim hujan ada musim kemaraunya. Di kawasan utara ada 4 musim yang tidak saling berkejaran urutannya. Agar manusia dapat menghitungnya. Agar manusia dapat memanfaatkannya. Ketika musim dingin tiba, produsen mantel telah bersiap-siap dengan produknya. Tidak sampai terjadi, ketika musim hujan, pabrik payung lalai memproduksi payung karena tidak tahu kapan musim hujan datang. Siang dan malam tidak akan tertukar. Malam tidak dapat mengejar siang (QS. Yaasin : 40)

Demikian juga dengan LoA. Allah telah menyatakan dalam al Qur’an ”Ud’unii astajib lakum”. Berdoalah kepadaku niscaya aku kabulkan bagimu (Al Mu’min: 60). Ujibu da’wataddaa’i idza da’ani, Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku (QS. Al Baqarah: 186). Ini sudah janji Allah. Tapi Allah juga mengatakan dalam kelanjutan ayat itu, jika kita mau selamat dan selalu dalam kebenaran maka kita harus memenuhi perintah-Nya dan tetap beriman kepada-Nya. (Falyastajiibulii wal yu’minu bii. La’allahum yarsyuduun).

Maka LoA itu ada. Dia Allah sebagai Rabbul ’Alamin (Rab seluruh alam) akan mengabulkan keinginan seluruh hamba-Nya. Hanya saja, Dia mengingatkan bahwa dengan hukum LoA yang bermakna dikabulkannya do’a kita, janganlah kita berpuas diri, lengkapi dengan iman dan menjalankan perintah-Nya agar kita tidak menjadi orang yang rugi.

Alangkah indahnya jika kita sadar bahwa doa kita bisa menjadi magnet yang menarik detail peristiwa yang kita inginkan, ketika si Pemilik Peristiwa itu berkenan melepaskannya untuk kita.

Alangkah indahnya jika kita tidak terbius dengan kehebatan magnet yang kita miliki. Alangkah indahnya jika kita bisa mengendalikan diri tidak merasa hebat sendiri.
Maka dengan kesadaran yang indah ini, akan mengatarkan kita tersungkur bersujud kepada-Nya. Melaksanakan perintah-perintah-Nya, patuh kepada-Nya sehingga kita selalu dalam kebenaran.

Bagaimana jika kita tidak mau melaksanakan perintah-Nya dan tidak beriman kepada-Nya? Apakah the power of feeling masih bekerja? LoA masih efektif? Insya Allah jawabnya ya. Karena memang Allah Maha Rahman kepada semua makhluknya tanpa kecuali. Bukankan Allah memberikan oksigen dan alat pernafasan lengkap kepada semua makhluknya baik mereka mengakui keberadaan-Nya maupun atheis? Bahkan bukan hanya itu. Bukankah Allah sudah berjanji:

من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها وهم فيها لا يبخسون

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. Huud : 15).

Tidak dirugikan di dunia! Tapi bagaimana dengan kehidupan akhirat jika kita ingkar kepada perintah dan larangan-Nya serta tidak mengimani-Nya?

أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Huud : 16)

Sedahsyat apapun energi vibrasi jantung kita, kedahsyatannya tetap masih di bawah the Power of God, si Pencipta, Pemilik, Pemelihara jantung itu sendiri. Sepanas apapun api yang disiapkan oleh Raja Namrud untuk membakar Nabi Ibrahim a.s, tetap menjadi dingin ketika Allah si Pemilik-Hukum-Panasnya-Api mengatakan ”Wahai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” (QS. Al Anbiya : 69).

Jadi........?
Mari ber LoA dengan do’a-do’a kita hanya kepada Allah semata.

Cikarang Baru, 4 Februari 2008

Sabtu, Februari 02, 2008

Kado Untuk Anakku

(Ahsana 13 Tahun)

Kusiapkan dua nama ketika istriku hamil sebulan setelah kami menikah 14 tahun yang lalu. Menyiapkan nama ternyata tidak mudah. Apalagi dalam Islam, kita diajarkan oleh Rasulullah memberi nama-nama yang indah pada anak-anak kita. Tidak hanya indah, tapi bermakna. Tidak hanya makna, tapi itu adalah doa. Seperti dalam teori The Law of Attraction, nama anak adalah harapan yang terus menerus kita panjatkan saat kita memanggil anak-anak kita. Getarannya akan menarik pemberian Allah, memenuhi harapan yang kita pinta. Bukankah Allah Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha Mengabulkan doa.

Maka saya mencari-cari kosa kata atau ungkapan kata yang bermakna indah di dalam Al Quran maupun di buku-buku tentang ini.

Ada lebih dari sepuluh kombinasi nama saya tuliskan dalam buku catatan saya. Yang akhirnya muncul dua nama. Satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.

Maka ketika anak pertama kami lahir perempuan, nama yang sudah ada dikantong tinggal kusetorkan kepada Bidan Arti di Wonosobo, tempat kelahiran putriku ini, untuk diurus akta kelahirannya.

Ahsana Nabila Asyhar.

Nama yang cantik menurut kami. Dari bahasa Arab. Meskipun mungkin belum benar tasyrifnya. Ahsana Nabila artinya ”sebaik-baik perempuan cantik dan cerdas”. Sedangkan Asyhar dinukil dari nama belakang saya. Sebagai tanda bahwa ia adalah anak saya (tentu hasil buah cinta bersama istri terkasih).

Ya, dia telah lahir 2 Ramadhan 1415 H atau 2 Februari 1995. Jadi menurut kalender hijiriyah, tanggal 15 September 2007, yang bertepatan dengan 2 Ramadhan 1428, dia telah berusia 13 tahun. Sedangkan menurut kalender masehi, baru 2 Februari yang akan datang dia berusia 13 tahun.

Terserah mau pake kalender yang mana, kamu Nak. Yang jelas usiamu makin bertambah. Menuju ke kedewasaan. Dewasa dalam tanggungjawab di depan ayah dan ibu, guru, tetangga, masyarakat dan utamanya tanggungjawab kepada Allah, dengan kewajiban-kewajiban fardhiyyah.

Karena itu, Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang sangat melelahkan. Penuh pengorbanan untuk menjalaninya. SD kamu sekolah di Bekasi, kurang lebih 20 km dari rumah. Untuk itu Ibumu harus mengantarkanmu ke sekolah dan menjemputmu jam 2 siang di sekolah. Padahal Ibu juga punya kewajiban lain mengajar di sekolah di Cikarang.

Pagi kita bertiga mengendarai motor tua ayah sampai pintu tol. Lalu kamu bersama Ibu melanjutkan naik angkot menuju Bekasi Timur. Keluar tol, kamu dan Ibu turun, lalu jalan kaki –atau sesekali naik ojek, jika Ibu punya uang lebih, menuju sekolahmu. Sampai di sekolah, tak jarang kamu menangis karena datang terlambat, capek dan emoh ditinggalkan Ibu pulang.

Benar, padahal Ibu harus pulang lagi ke Cikarang karena dia ditunggu murid-muridnya, dan baru nanti jam satu siang harus pulang lebih dulu untuk pamit menjemputmu, karena jam 2 siang kamu sudah siap pulang.

Perjalanan yang melelahkan. Pantas kamu nangis kecapean, malu karena terlambat datang. Padahal umurmu baru 6 tahun.

Semangatmu bangkit ketika suatu haru seorang ibu guru menyambutmu. Dan mengatakan, ”Ayo Ahsana, perjalanan yang melelahkan demi menuntut ilmu itu jihad.”
Ayah senang bahasa Bu Guru itu menyemangatimu, berarti kau telah mengerti makna jihad.

Setengah tahun kamu menjalani rutinitas amat melelahkan ini bersama Ibumu. Setelah itu Ayah mendapatkan rizki untuk membeli sebuah mobil carry secara kredit. Dan menggaji seorang sopir untuk mengantar jemputmu ke dan dari sekolah.

Tahun ajaran baru, kamu naik kelas. Adikmu pun disekolahkan di sana, agar kamu punya teman sepanjang perjalanan pulang pergi Cikarang-Bekasi. Tahun berikutnya Allah membuka jalan lebih lapang. Beberapa temanmu yang tinggal di Bekasi, pindah ke Cikarang. Dan beberapa anak mendaftar masuk ke sekolah itu. Mereka menjadi penumpang mobil carry kita. Mobil kita menjadi mobil antar jemput. Ayah bernapas lega karena ada yang menutup biaya bensin, tol, oli, tambal ban, ganti ban gaji sopir dan lain-lain. Alhamdulillah, sampai pada tahun ke enam engkau lulus menyelesaikan SD mu. Ayah dan Ibu berdoa, semoga engkau menjadi anak yang sholeh dan cerdas –sebagaimana motto SD-mu itu.

Selesaikan jihadmu? Jihad Ayah dan Ibumu? Belum, Nak. Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang lebih jauh lagi. Di Subang. Kamu tidak perlu berangkat pagi-pagi dan pulang sore atau malam seperti dulu. Karena kamu bisa menginap di sana…. Di pondok pesantren!

Lebih santai? Ya. Perjalanan dari asrama ke sekolah tidak sampai tiga menit. Waktunya bisa kamu simpan untuk kegiatan belajar. Dari pagi sampai malam. Di kelas, di masjid, di lapangan, di sawah, di kantin, di tempat cucian, di tempat jemuran. Belajar, shalat, menghafal Quran, main basket, menanam padi, mencuci baju seragam sendiri, menjemur dan mensetrikanya. .... Oh, tidak terlalu santai ternyata.

Betul, Nak.
Ini jihad! Tidak ada jihad dengan bersantai-santai.
Tapi nanti engkau akan merasakan nikmatnya. Saat berjihad ataupun saat menikmati hasilnya.

Allahu Akbar..... !

Cikarang Baru, 2 Februari 2008

Rabu, Januari 30, 2008

Dari Tukang Sapu Sampai Guru

Ini adalah mimpiku. Sudah lama ada di kepala, tapi baru kali ini berani menuliskannya. Gara-gara ada acara Milad ke-2 TDA. Untuk membuktika kerja LoA. Semoga dimudahkan Allah Ta'ala.

Dari Tukang Sapu Sampai Guru

“Jangan bermimpi!”
Itu kata orang di sekitar kita jika kita punya cita-cita yang menurut ukuran budaya dan kebiasaan lingkungan dianggap sebagai hal yang tak mungkin dicapai.

Ketika melihat seorang gila berdiri di tepi jalan raya berpidato bak seorang politikus, saya membayangkan mungkin dulu semasa waras dia punya cita-cita terlalu tinggi. Mungkin dia memang pernah bercita-cita jadi presiden, gubernur, walikota atau bupati atau bahkan sekedar ketua RT pun. Sementara dia hanya lulusan sekolah dasar. Sehingga cita-citanya tidak kesampean. Kata peribahasa “Bagai pungguk merindukan bulan”. ….. He… he… sebab persisnya, sih, saya tidak pernah tahu. Karena tidak bisa konfirmasi ke keluarganya. Apalagi pada orang gila itu sendiri.

”Bahasa adalah bangsa” ini adalah kata-kata mutiara yang artinya kurang lebih adalah cara kita berbicara, berbahasa menunjukkan siapakah kita sebenarnya. Lha, ternyata nenek-kakek moyang kita punya peribahasa tadi. ”Bagai pungguk merindukan bulan.” Maka kita diajarkan untuk tahu diri. Jangan berkeinginan muluk-muluk. ”Ngaca, atuh” bahasa gaulnya. Jadi dengan dua peribahasa tadi, kita sudah dipersepsi untuk melihat keadaan kita sekarang. Jangan melihat jauh ke depan. Apalagi yang terlalu jauh. Lihatlah yang di bawah. Jangan melihat yang di atas. Apalagi yang di langit. Nanti stress! Gila! Nah, apakah nation culture kita memang demikian? Kurang menyemangati. Kurang mendorong. Kurang visioner, kata para morivator. Cukup apa yang ada di tangan saja. Syukuri. Berarti memang segitu jatah rezki dari Allah untuk kamu. Lho, ikhtiar belum maksimal kok kita diminta menyimpulkan dengan kata ‘memang segitu rizkimu’.

Persepsi demikian memang sering melintas dalam kepala saya. Bahkan sampai sekarang juga sekali-sekali muncul. Jangan-jangan saya bakal gila, kalau gagal mewujudkan mimpiku untuk memiliki rumah toko sendiri. Apalagi mengikuti saran-saran teman-teman TDA. Tulis mimpimu. Gambar mimpimu. Tulis selembar cek berisi angka satu milyar. Fotokopi. Gede’in 200%. Laminating. Tempel di kamar tidur, kamar makan, kamar mandi. Wow, belum gila beneran pasti anak-istri, ayah-ibu, tetangga kiri-kanan sudah mencap saya sebagai orang gila. Boro-boro datang LoA, jangan-jangan datang jin! Hiii......... Jin yang berupa cemooh dari kiri-kanan. Cemooh yang menakutkan bagai jin hantu ifrit kuntilanak sundelbolong. Hiiii...........

Ya, saya bermimpi punya rumah toko yang berlantai dua. Mungil. Berdiri di tempat strategis. Dari situ saya bisa menjual apa saja. Yang jelas pelanggan bakal tahu di sanalah saya bisa dihubungi. Untuk keperluan apa saja. Jaraknya akan sangat mengenakkan jika tidak jauh dari rumah saya. Toko saya akan menjadi kantor saya. Tempat saya melayani pelanggan. Jika tidak ada pelanggan, saya bisa melanjutkan hobbi saya menulis. Post ke blog saya. Menerima tamu: teman-teman saya dari beberapa komunitas. Dan yang sangat menggembirakan pula, lewat kantor sekaligus outlet saya ini, siapa saja dapat memesan kebutuhannya. Dan saya akan menyanggupi memenuhinya karena saya punya komunitas yang kompak yang selalu besinergi, bekerja sama, membangun ekonomi umat, yang siap mensupport saya dengan berbagai barang dagangannya, yaitu komunitas TDA yang punya motto ”Bersama Menebar Rahmat”.

Sebenarnya dua tahun terakhir saya sudah punya kantor sendiri. Saya sudah memiliki lembaga kursus Bahasa Inggris. Di sana, karena masih bayi, saya merangkap beberapa pekerjaan. Pagi-pagi membuka pintu, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kaca. Memungut daun-daun yang berguguran di halaman depan. Menyiapkan alat-alat tulis untuk keperluan guru. Membersihkan karpet dengan penyedot debu. Memfotokopi soal-soal ulangan. Membukukan penerimaan dari pembayaran SPP. Membuat laporan bagi hasil dengan franchisor. Memesan buku-buka modul. Menyiapkan gaji guru setiap akhir bulan. Dan jika ada guru yang absen, saya masuk kelas menggantinya mengajar. Pendeknya saya ini office boy yang merangkap menjadi direktur. Dan sesekali jagi guru.

“Kerjaan banyak. Gajinya banyak dong?” Ya, itu pikiran teman-teman yang sudah bertahun-tahun keenakan jadi TDB. Kalau TDA, apalagi yang masih orok ini?…. Ya, gajian kalau kebagian aja…… yang penting guru-guru saya dan staf lainnya dapat gaji dulu.

Setahun pertama bisnis, saya membayar seorang pegawai administrasi dan seorang manager. Tapi karena usaha masih orok, maka setiap bulan saya tekor untuk menggaji mereka dan tiga orang guru. Meskipun demikian saya sangat senang bisa memberikan pendapatan bagi guru dan karyawan. Hanya karena manager dan staff admin saya mengundurkan diri, maka sekarang saya merangkap semuanya. Alhamdulillah, sekarang saya basah kuyup oleh pengalaman ngurusi semuanya sendirian. Jadi basah kuyup oleh ilmu dan pengalaman dan juga....... oleh keringat!

Banyak hikmah yang saya peroleh dengan mengerjakan semuanya seperti sekarang ini. Yang paling penting, bahwa pekerjaan yang dulu saya anggap sepele ternyata tidak demikian ketika saya harus melakukannya sendiri. Benar sepele kalau hanya sesekali saja. Tapi kalau setiap hari, tentu akan menimbulkan masalah kejenuhan. Misalnya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalau di komputer: tempatkan file pada foldernya. Sementara jumlah foldernya ini cukup banyak. Sehingga harus pandai mengingat apa diletakkan di mana. Padahal kejenuhan sering membuat kita lalai. Menunda pekerjaan, sehingga akhirnya lupa.

Menjaga kebersihan kelas, misalnya. Dulu saya marah besar jika staf saya lalai terhadap hal ini. Sekarang saya harus marah pada diri sendiri, karena sesekali saya juga melakukan kesalahan yang sama. Tentu sulit marah pada diri sendiri. Sebagai gantinya akhirnya saya menjadikannya pelajaran bahwa staf saya dulu sudah berusaha, tapi khilaf sehingga saya marah. Dan dulu saya bisanya cuma marah-marah. Tapi ketika mengerjakan sendiri tidak semudah dan sesempurnya yang saya inginkan. Kalau karyawan lalai karena dia tidak ikut memiliki, maka saya sebagai pemiliknya harus menekan kelalaian-kelalaian itu.

Kemudian pemasukan dan pengeluaran uang, saya bisa tahu persis. Ternyata agar saya kebagian rizki setelah menggaji semua jasa guru, maka saya harus kerja lebih keras. Salah satunya adalah harus ngantor dari jam delapan pagi sampai delapan malam. Lho, kayak TDB dong? Siapa bilang? Bahkan lebih parah, tau! Dulu waktu TDB saya ngantor jam setengah delapan pagi sampai jam setengah lima sore. Senin sampai Jum’at. Maghrib sudah di rumah dan setelah maghrib bisa becanda sama anak-anak dan istri. Sabtu dan Ahad bisa jalan-jalan. Sekarang jam kerja 12 jam sehari. Hari kerja Senin sampai Sabtu. Lebih berat, to? Ternyata demikianlah adanya. Apalagi setelah gabung milis TDA. Ternyata semua pengusaha-pengusaha sukses selalu : Mulai dari bawah. Mulai dari susah. Mulai dari diri sendiri. Dan biar gak terlambat start: ikuti kata Aa Gym ”Mulai sekarang juga!”

Alhamdulillah, sekarang usaha saya berubah menjadi lebih baik. Karena kerja keras dan mulai dikenal lebih banyak orang. Jumlah murid setiap bulan selalu bertambah. Yang berarti bertambah pula penghasilan lembaga kursus saya ini. Jumlah pengeluaran juga semakin mudah ditekan. Karena saya tahu persis mana yang perlu dan mana yang hanya buang-buang biaya. Dan yang terpenting juga adalah saya bersyukur karena saya sudah dapat gaji meskipun belum besar.

Jadi orang gajian lagi dong? Ya…. Tapi yang menggaji adalah diri sendiri. Dan dapat bonus pula setiap bulan. Yaitu: bisa menggaji orang lain!

Lalu kenapa pengen punya ruko sendiri? Karena sekarang cuma ngontrak. Setiap tahun sewanya naik dan terancam diusir pula.

Punya ruko pasti biayanya mahal ya. Bisa-bisa saya gak gajian lagi karena uangnya habis untuk angsuran KPR. Maka saya bermimpi ruko ini jadi markas bisnis saya. Selain jadi tempat kursus, bisa jadi outlet saya jualan apa saja. Karena ruangnya gak cukup untuk simpan barang, maka saya buka toko online saja dulu. Masalah dagangan kayaknya banyak member TDA yang bisa support. Tapi DP untuk ruko besar banget ya. Mungkin harus jual rumah saya atau mobil carry saya. ...... Lalu kami sekeluarga tidur di mana?
....... Sudahlah, Rul, jangan mikirin tidur. Bukankah selama ini kamu sudah banyak tidur? Ayo bangun! Kerja! Wujudkan mimpimu! Jadi TDA beneran!

Cikarang Baru, 13 Desember 2007

Kaya Itu Hanya Akibat

"Mengalir saja!" Demikian kesimpulan rahasia sukses seorang Bob Sadino saat diwawancarai oleh majalah WK-nya Pak Isdiyanto. Majalah lama, karena terbit Mei 2007, tapi sangat baru bagi saya yang awam dengan pembelajaran bisnis. Karena isinya tidak kadaluarsa maka saya ucapkan terima kasih buaaanyak kepada Pak Is atas majalah gratisnya yang saya peroleh dalam Milad ke-2 TDA yang baru lalu.

Bagi yang sudah sering mendengar pernyataan-pernyataan beliau, mungkin hal ini bukan hal yang aneh. Aneh sih.... tapi biasa saja kalau yang ngomong Om Bob. Emang begitulah Om Bob. Ceplas-ceplos dan keluar dari pakem akademis teori kewirausahaan. Ini juga kebaruan yang saya temukan dari majalan lama ini. Ini bagi saya suatu pencerahan dari sisi lain yang indah untuk dicermati.

"Lakukan saja, ikuti perencanaan Tuhan!" Itu kesimpulan berikutnya. Allah yang Maha Merencanakan, kita tinggal bekerja saja. Tidak ada tujuan. Kesuksesan bukan tujuan, kekayaan bukan tujuan. Kesuksesan dan kekayaan hanya akibat dari bekerja.
Wow, indah sekali. Just do it. Setelah pasrah maka bekerjalah. Apapun hasilnya ikhlaskan. Saya berguman dalam hati mungkin ini salah satu makna dari firman Allah dalam Surat At Taubah : 105. ”Beramallah, nanti Allah, Rasulnya dan orang-orang yang beriman akan melihatnya.” Wallahu’alam.

Karena tidak ada tujuan maka otomatis tidak ada perencanaan untuk mencapai tujuan itu. "Saya senang aja melakukannya." Demikian kata Om Bob menirukan ucapan anaknya yang jauh-jauh sekolah di Swiss ternyata akhirnya hanya jual pecel lele di pinggir jalan.

Lalu apakah pake intuisi sehingga tanpa perencanaan dan tujuan bisa mencapai sukses demikian? Tanya wartawan. Maka sekali lagi Om Bob mengatakan bahwa wartawan otaknya telah diracuni teori kewirausahaan yang menurut beliau isinya hanya sampah saja. Om Bob menganggap pertanyaan itu tidak muncul dari diri wartawan murni tapi dari otak yang sudah menelan sampah berbagai informasi teori kewirausahaan.

Kalau Tuhan memberi intuisi yang hebat untuk seorang Bob Sadino, sementara tidak memberikan intuisi itu kepada yang lain, maka betapa tidak adilnya Tuhan. Demikian kata Om Bob. Bahwa apa yang dilakukannya dan mengakibatkan kesuksesan bisa jadi adalah langkah ke seribu dari 999 langkah gagal sebelumnya yang telah ditempuh oleh beliau. Jadi bukan intuisi yang tiba-tiba muncul. Thomas Alfa Edison juga demikian. Bola lampu bukan hasil kehebatan intuisinya tapi hasil percobaannya yang ke 1000 setelah 999 kali gagal. Kolonel Sanders membuka KFC bukan karena naluri bisnisnya yang hebat, tapi hasil perjalanan gagalnya menawarkan resepnya kemana-mana dan selalu ditolak. Maka dia membuka warung sendiri. Jadi bukan intuisi tapi hasil dari pantang menyerah dan tahan banting.

Jadi... untuk menjadi wirausahawan tidak ada pembelajarannya yang njelimet dan baku. Nanti bikin bingung dan kapan mau mulai. Lakukan saja. Bebas saja lakukan. Lalu evaluasi hasilnya. Hasil yang hebat hanya akibat dari keuletannya sendiri. Ketika menjual lima kilogram telor bersama istri, Bob Sadino tidak pernah bermimpi bakal bisa naik mobil jaguar atau punya rumah mewah dari hasil jualan telur yang marjinnya Cuma Rp 150,- per hari itu. Mengalir saja. Kalau ada kegagalan, kekecewaan dan sejenisnya rangkullah, belailah karena itu adalah bagian dari kesuksesan itu sendiri.

Tidak ada pembelajaran dalam kewirausahaan. Yang ada hanyalah melangkah, melangkah dan melangkah. Untuk bisa melangkah itu kita perlu membebaskan dari rasa takut, jangan punya keinginan macam-macam, dan bebaskan dari belenggu pikiran sendiri.

Bingung? Tidak perlu bingung, karena Om Bob tidak memaksakan kita untuk mengikuti jalan pikirannya yang sering dianggap gila oleh banyak orang. Ini hanya sharing beliau –karena ditanya oleh wartawan- bagaimana dia bisa menjadi Bob Sadino seperti sekarang ini. Kalau mau jadi duplikasi Bob Sadino silakan ditiru. Kalau mau jadi diri sendiri ya silakan pake cara lain.

Peace, …..

Cikarang Baru, 30 Januari 2008.

Senin, Januari 28, 2008

Mengapa Saya Ikut Lomba Menulis Mimpi?

Gara-gara Bu Aning Harmanto ngojok-ojoki (bahasa kerennya: mem-provokasi) member milis TDA, maka saya memberanikan diri ikut lomba menulis mimpi dalam rangka MILAD ke-2 TDA Community ini.

Motovasi saya ada tiga. Pertama: Kasihan sama Bu Ning... eh Bu Aning, karena sebagai penggagas sekaligus juri, ide lomba menulis mimpi ini tidak selaku jualan jamunya. Waktu saya terojok-ojoki (cocok nggak ya untuk terjemahan dari kata ”terprovokasi”?) jumlah pesertanya belum sampai 15 orang. Padahal member milis ini ada 1600 orang lebih. Kalau yang sepertiga (optimis!) sudah gak punya mimpi lagi (ada nggak ya?) jadi gak minat ikut lomba ini, berarti seharusnya ada 1000-an peserta. Karena menulis itu gak seperti makan kacang goreng, yang lancar sampai ludes dan terus renyah sampai masuk kerongkongan, maka jika hanya 20% saja dari 1000 yang ikut lomba menulis, maka seharusnya ada 200 peserta. Tapi memang meski mimpi itu gratis, banyak orang yang takut bermimpi, maka wal hasil pesertanya Cuma 25 orang (kalau nggak salah, karena saat diumumkan kemarin saya sedang asyik ngobrok dengan Pak ’Luar Biasa Prima’ Wuryanano pemenang TDA Blogger Award pada Milad ke-2 ini)

Motivasi yang kedua adalah saatnya saya menulis mimpi saya! Siapa tahu gatel-gatel yang sering muncul pada kulit kaki saya bisa sembuh. Lho? Ya, katanya ahlinya sih, selain alergi makanan, gatel-gatel juga bisa muncul jika kita stress. Dan yang penting lagi, jika sudah ditulis akan tertanam dalam otak bawah sadar saya lalu kekuatan otak ini akan menggerakkan berbagai aktivitas menuju cita-cita itu.

Ketiga adalah hadiahnya. Paket herbalnya bu Aning Harmanto. Karena dulu saya sebenarnya pernah kontak dengan salesnya untuk menjadi resellernya. Sekarang pengen nyicipin gratis dulu. Hadiah selanjutnya adalah tulisan akan dimuat dan dibukukan oleh Pak Isdiyanto big boss-nya majalah Wirausaha dan Keuangan. Siapa tahu kalau berhasil jadi pemenang dan dimuat dan dibukukan menjadi pintu gerbang pembukuan tulisan-tulisan saya yang lain. Amiin.....

Duar!...... ternyata nama saya dipanggil diurutan paling akhir pengumuman yang disampaikan oleh Bu Aning.

Alhamdulillah, ternyata mimpi di balik tulisan tentang mimpi ini terealisasi. Saya jadi pemenang. Pemenang hiburan! Ya.... ini benar-benar menghibur saya. Di sela-sela ngobrol dengan Pak Nano yang ternyata sangat hangat menerima salam kenal saya yang selama ini belum pernah ketemu muka, kecuali sekedar kirim-kiriman foto di blog, nama saya dipanggil sebagai salah satu pemenang hiburan.... Ha... ha... ha... benar-benar menghibur saya dan semoga juga bisa menghibur pembaca majalahnya Pak Isdiyanto nanti.

Dan sebentar lagi mimpi di balik mimpi yang lain bakal terwujud juga yaitu dibukukannya tulisan para pemimpi ini. Dan tulisan saya menjadi salah satu diantaranya. Lalu gatel-gatel saya bakal sembuh. Lalu .... rasanya indah sekali kalau saya punya ruko sendiri. Semua aktivitas bisnis dan sosial dapat saya ’nakhodai’ dari markas saya ini. Karena dalam simulasi yang dibimbing oleh Pak Yusef Hilmi di akhir acara Milad kemarin, mimpi ini jugalah yang saya telah tanam dalam otak bawah sadar saya.

Semoga Allah membimbing selalu dalam mewujudkannya. Amiin. Amiin. Amiin.

(Maaf, foto sebagai buktinya, saya gak punya. Tapi saya yakin Pak Nano punya karena Bu Nano saya lihat dari atas panggung mengabadikan lengkap kegiatan ini. Saya tunggu sharingnya ya Pak. Matur Nuwun).