Berbekal satu juta rupiah saya nekat take action. Ibu dan Ayah mendukung. Mungkin mereka juga urun beberapa ratus ribu rupiah atau lebih. Aku tak tahu pasti. Demikian juga dengan kakakku. Ya, atas dorongan kuat believe yang ada dalam diriku akau melakukan action. Kalau menurut kurikulum TDA yaitu BDSA. Aku mengabaikan D dan S. Aku gak punya dream yang jelas untuk melakukan action ini. Apalagi strategy. Pokoke action. Melobby ortu untuk mendukung action ku! Menyurati partnerku untuk melakukan actionku. Apakah ini strategy? Entahlah saya belum pernah ikut sekolah entrepreneur dan belum kenal TDA waktu itu. Karena TDA memang belum lahir.
Ya, action itu saya lakukan sekitar 14 tahun yang lalu. Setelah mengalami perasaan ragu gamang beberapa tahun. Padahal aku punya keinginan kuat. Rasa takut sering menghantui. Mampukah saya.
Akhirnya keputusanpun diambil. Ayah Ibu dan kerabatkupun datang menemui ortu calon partnerku. Melamarnya. Untuk menjadi partnerku. Membangun bahtera rumahtangga yang kokoh menghadapi bagaimanapun badai yang datang.
Ya, action itu adalah keputusan menikah. Setelah kurang lebih 6 bulan aku berkenalan melalui surat dengan seorang perempuan, melalui adik sepupuku. Karena dia di Jakarta dan aku di Wonosobo, maka kenalannya hanya lewat surat. Setelah beberapa surat, saya memberanikan diri bertandang ke rumahnya ditemani adik sepupuku. Setelah itu kami tak pernah ketemu lagi. Surat menyurat masih berlangsung. Tapi tidak ada basa-basi kecuali membicarakan hal-hal prinsip dan rencana pernikahan sesegera mungkin. Karena meskipun tidak bertatap muka, surat-menyurat bisa saja menjerumuskan kedalam perzinaan jika ngelantur. Kata perempuan yang sekarang jadi istri saya itu, ”boros perangko!”
Maka setelah pertemuan itu maka beberapa bulan kemudian, yang datang adalah Ayah dan Ibu serta beberapa kerabatku. Aku sendiri tidak ikut serta. Mereka datang untuk melamar wanita itu menjadi istriku. Aku hanya titip uang satu juta. Mungkin kalau dihitung dengan uang sekarang, ya sekitar 4 jutaan lah. Saya benar-benar nekat. Karena memang aku gak punya tabungan apa-apa, selain sebuah rumah kredit di Wonosobo yang waktu itu cicilannya Cuma sekitar 135.000 per bulan.
Kini setelah empat belas tahun, kami tetap hidup rukun, tenang meski kadang bergerak bergelombang karena ada riak-riak besar kecil yang kami lalui. Kami dikarunia Allah 4 anak yangg insya Allah soleh dan cerdas. Dua lak-laki dan dua perempuan. Sebagai penyejuk pandangan mata kami insya Allah.
Tulisan pendek ini, sebagai penyemangat untuk take more action for our live in the earth and the heaven. Just take an action!
Cikarang Baru, 18 April 2008
PS. Untuk istri tercinta, Ayah dan Ibu yang selalu kirim do’a. Anak-anak yang menyenangkan hati dan mata. Aku tetap butuh dukungan kalian!
Jumat, April 18, 2008
Action!
Selasa, April 15, 2008
Satu Tulisan Lagi Buat Anakku Athaya
Kini giliranmu, Nak, membaca tulisan Ayah. Kamu kan sudah klas dua SD, sudah pandai membaca. Dan kaupun pandai menulis. Ayah tahu bakatmu menulis karena ketika kau ngambek, kau suka menulis surat kepada Ayah atau Ibu menyampaikan masalahnya atau sekedar meminta maaf. Juga kau paling rajin titip surat untuk kakakmu saat Ayah menengok kakakmu di Solo.
(Tapi maaf ya, tulisan ini terlambat sehari. Soalnya dua hari ini Ayah sibuk membantu mengurusi perhelatan besar di Jawa Barat yaitu pemilihan gubernur 2008-2013. Syukurlah pasangan yang Ayah dukung dan Ayah repot memperjuangkannya dan puncaknya dua hari terakhir ini berhasil memenangkan pilgub kali ini. Semoga Allah senantiasa membimbing mereka menjadi pemimpin yang amanah, adil dan mensejahterakan rakyatnya. Amin)
Sekali lagi, Ayah sampaikan, akhir-akhir ini Ayah sedang belajar menulis. Menulis kebaikan dengan harapan akan menjadi passive income bagi pundi-pundi pahala Ayah untuk bekal hidup di akhirat nanti.
Maka, semoga kamu bisa menerima dengan senang kado tulisan ini, sebagaimana kegembiraanmu menerima kado sepatu baru dari Ibumu.
Athaya, rasanya baru kemarin kamu dilahirkan oleh Ibumu ditolong oleh Bidan Nur di Cikarang Baru, 14 April 2000.
Waktu itu, ba’da ashar, Ibumu menelepon Ayah di kantor. Menyampaikan kabar yang tidak mengembirakan. Air ketubanmu pecah. Dengan berusaha tenang, Ayah menyampaikan kepada Ibu, jika Ibu kuat sebaiknya Ibu segera pergi duluan ke Bidan Nur. Sebuah saran yang terdengar aneh. Untuk apa menelepon Ayah kalau sarannya demikian.
”Ayah khawatir kalau Ibu menunggu Ayah tiba di rumah setengah jam lagi, keadaan menjadi lebih parah. Dengan Ibu berangkat ke rumah bersalin lebih awal Ibu mendapatkan pertolongan lebih cepat. Ini lebih baik daripada menunggu.” Dan Alhamdulillah, Ibumu melaksanakan pesan aneh Ayah ini. Dan tidak hanya itu, Ibumu tidak minta tolong tetangga. Mungkin karena Ibu tahu, tetangga yang siap hanya para Ibu rumah tangga. Tidak ada mobil yang siap. Mungkin nanti malah merepotkan. Maka Ibu berangkat menuju tempat pemberhentian angkot. Beberapa tetangga, menyapa Ibumu, sebagaimana biasa. Ibumu juga menyapa sebagaimana biasa.
Setengah jam kemudian Ayah tiba di rumah bersalin. Alhamdulillah, Ibumu sudah istirahat dengan tenang setelah mendapat pertolongan yang memadai. Ayah dan Ibu bersyukur kepada Allah karena kamu dapat diselamatkan. Kandungan Ibumu masih sehat dan kuat untuk kamu bersemayam di dalamnya sampai saat kelahiranmu nanti.
Sampai maghrib belum ada tanda-tanda kelahiran. Kakakmu Ahsana dan Abyan mulai datang diantar mBak Suginah. Adzan Isya’pun tiba. Awan gelap di luar pertanda akan turun hujan. Ayah meminta mBak Suginah membawa kedua kakakmu pulang sebelum hujan turun. Jam delapan malam Ibumu sudah lelah menunggu. Tiba-tiba listrik padam. Emergency lamp pun menyala. Tak lama, karena beberapa menit kemudian mati entah kenapa. Maka Bu Bidan pun menyalakan beberapa lilin. Ruang bersalin pun jadi remang-remang. ....... Ibumu sudah mulai mules-mules.
Di tengah kegelapan malam di ruang bersalin tanpa penerangan dan pendingin ruangan, dari nyala lilin Ayah melihat wajah lelah Ibumu karena menunggu sejak sore tadi. Beberapa teguk air minum menyegarkannya. Kaupun makin keras mendesak ingin keluar dari rahim Ibumu.
Seperti dua kelahiran sebelumnya Ibumu menunjukkan keikhlasannya dan mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk mendorongmu keluar. Ayah cuma bisa sekedar menyemangati dan mendo’akannya. Kalimat thoyyibah bersahut-sahutan Ayah dan Ibu lantunkan. Bidan Nur dengan sabar juga terus memberikan aba-aba yang menyejukkan dan menyemangati. Rasa cape, sangat jelas tampat diraut wajah ibumu di sela nyala lilin. Bidan Nur terus menyemangati. Kepalamu mulai sedikit demi sedikit tampak.
”Ya...., terus...., terus.... sedikit lagi......” kata Bu Bidan.
Tiba-tiba bayi mungil perempuan sudah berpindah ke tangannya. Alhamdulillah. Darah mengalir dari rahim ibumu. Tali pusarpun digunting. Kau dibersihkan oleh asisten Bidan. Bidan merawat Ibumu. Melakukan beberapa jahitan. Dan membersihkan darah di tempat tidur Ibumu. Lalu lampupun menyala. Kipas angin menyejukkan dan membawa pergi kelelahan Ibumu. Tampak senyum puas dan gembira tersungging dibibirnya. Ayahpun menyalaminya. Mencium pipinya. Mencium keningnya.
Setelah dibersihkan, kau diserahkan kepada Ayah. Ayahpun mengenalkan suara adzan dan iqomah di telingamu. Dengan harapan dan do’a nanti setelah saatnya nanti kau akan menjadi hamba Allah yang peka terhadap panggilan Allah. Segera datang memenuhi panggilan da’wah kapanpun dan dimanapun.
Untuk melengkapi do’a itu, Ayah menamaimu Athaya Nadiya Asyhar. Asyhar adalah nama Ayah, agar kau tak lupa pada orang tuamu. Dan pentingnya memelihara silsilah keluarga agar nasab terjaga rapih sesuai syari’ah. Athaya bermakna sebuah pemberian atau rizki. Sebagai wujud syukur kepada Allah atas pemberian ini. Perempuan cantik akhlak dan parasnya. Dan Nadiya berarti berani mengajak kepada kebaikan. Karena kita semua adalah da’i sebelum menjadi apapun lainnya. Atau menjadi apapun kita nanti, tugas da’wah selalu melekat dalam diri kita.
Nanti kamu akan menemukannya di dalam Al Quran, bahwa kita adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan itu perlu keberanian. Itulah makna Nadiya.
Nak, Ayah menulis ini agar kau tahu bagaimana beratnya perjuangan Ibumu melahirkanmu. Belum lagi kalau Ayah menuliskan sembilan bulan kau di kandungnya. Pasti panjang sekali tulisan Ayah. Juga dari tulisan ini kau akan tahu betapa mulianya harapan Ayah dan Ibu dengan melekatkan rangkuman do’a-do’a dalam bentuk nama dirimu.
(Pada saat yang sama, Ayahpun bisa membayangkan bagaimana beratnya Mbah Putrimu dulu saat mengandung dan melahirkan Ayahmu. Bahkan sampai kinipun, seperti yang kau tahu, kasih sayang Mbah Putri kepada Ayah, Om dan Tantepun tak pernah pupus, tak habis-habisnya meskipun kasih sayangnya juga dicurahkan untuk kau dan para cucu lainnya. Rabbighfirlii wali waalidayya, warhamhuma kamaa rabbayaani shoghiroo. Ya, Rabbi, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak aku masih kecil. Amiin).
...... Nak, nanti ketika kau belajar sastra, akan kau temui sastrawan dunia yang pernah mengatakan ”What is in a name?” Maka saat itu kaupun bisa menjawabnya. Betapa pentingnya nama. Maka arti sebuah nama itu harus dipersiapkan. Nama adalah dreams. Dreams Ayah dan Ibu terhadap anak-anaknya. Doa Ayah dan Ibu, demi kebaikan anak-anaknya. Kebaikan bagi dunianya dan kebaikan bagi akhiratnya.
Allahu Akbar.....
Cikarang Baru, 15 April 2008
Senin, April 07, 2008
Kado Buat Anakku di Solo
Nak, seperti saat ulang tahun kakakmu Februari lalu, Ayah tidak kirim apa-apa kecuali tulisan ini.
(Akhir-akhir ini memang Ayah mulai berlatih menulis. Tulisan berumur lebih panjang daripada barang, karena itu Ayah melakukannya. Dan kata orang akan menambah panjang umur penulisnya. Artinya jika Ayah tiada, tulisan Ayah masih bisa dinikmati dan diambil manfaatnya oleh pembacanya. Maka Ayah menulis hal-hal yang bermanfaat. Menghindari menulis yang berbau maksiat. Kalau manfaatnya dirasakan pembaca, maka pahala akan terus mengalir melapangkan kubur penulisnya. Pahalanya menerangi kegelapannya. Dan juga meringankan siksanya. Insya Allah. Jika demikian, apalah jadinya jika tulisan itu mengajak orang bermaksiyat. Naudzubillahi mindzalika).
Nak, telah kusiapkan namamu ketika ibumu hamil sebulan setelah Ayah dan Ibu menikah 14 tahun yang lalu. Menyiapkan nama ternyata tidak mudah. Apalagi dalam Islam, kita diajarkan oleh Rasulullah memberi nama-nama yang indah pada anak-anak kita. Tidak hanya indah, tapi bermakna. Tidak hanya makna, tapi itu adalah doa. Seperti dalam teori The Law of Attraction, nama anak adalah harapan yang terus menerus kita panjatkan saat kita memanggil anak-anak kita. Getarannya akan menarik pemberian Allah, memenuhi harapan yang kita pinta. Bukankah Allah Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha Mengabulkan doa.
Dari sepuluh nama lebih, mengerucut menjadi dua nama. Satu nama laki-laki dan satu nama perempuan. Satu nama perempuan telah Ayah kenakan kepada kakakmu Ahsana Nabila Asyhar. Maka ketika kamu lahir di rumah Bidan Arti, Ayah gembira karena namamu masih rapi tersimpan di buku agenda Ayah. Maka tanpa berfikir dua kali, kuberikan nama itu kepadamu:
Abyan Naufal Asyhar
Nama yang indah menurut kami. Sama dengan kakakmu. Ini nama dari bahasa Arab. Meskipun mungkin sekali lagi belum benar tasyrifnya. Karena Ayah dan Ibu hanya comot dari buku nama-nama indah yang banyak dijual di toko buku. Doa dari nama itu adalah arti yang terkandung di dalamnya menurut versi kami. Abyan Naufal artinya ”Laki-laki tampan yang pandai menjelaskan ilmu dengan jelas dan gamblang”. Sedangkan Asyhar dinukil dari nama belakang saya. Sebagai tanda bahwa ia adalah anak saya sebagai buah cinta kami berdua istri terkasih.
Ya, tanggal 7 April 1996 kamu lahir dari perut Ibumu. Sehari setelah Ibu mengikuti sebuah ujian di Unsoed Purwokerto. Ditemani kakakmu yang baru berusia setahun yang di asuh oleh Yu Sri, kalian pergi ke Purwokerto mengendarai sebuah bis umum. Perjalanan dari Wonosobo adalah perjalanan yang melelahkan karena harus melintasi jalan yang berkelak-kelok, naik turun dan sebagaimana layaknya kendaraan umum, seringakali berhenti mendadak. Ayah saat itu tidak mengantar kalian, karena Ayah masih dalam perjalanan pulang dari Surabaya setelah melepas kepergian Mbah Kakung dan Mbah Putri menunaikan ibadah haji.
Alhamdulillah, Ayah datang tepat waktu. Kamu lahir, seperti kakakmu dulu. Kamu lahir dengan Ayah sudah berada di sisi Ibumu. Membantu menyemangati Ibumu dengan doa dan genggaman tangan erat pada tangan ibumu agar Ibumu kuat hati dan tenaga dalam melahirkanmu ke dunia ini. Maka kamu lahir sesaat setelah adzan isya’ dikumandangkan.
Dan.... kini kamu telah berusia 12 tahun. Usia remaja telah kau masuki. Transisi menuju ke kedewasaan. Siap-siaplah dengan tugas dan tanggungjawab baru. Tanggungjawab di depan ayah dan ibu, guru, tetangga, masyarakat dan utamanya tanggungjawab di hadapan Allah. Di dalamnya ada tugas dan kewajiban. Juga hak-hak yang akan kamu peroleh setelah melaksanakan tugas dan kewajiban-kewajiban itu.
Karena itu, untuk menyongsong tugas dan kewajiban dan menjemput hak-hak itu, Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang mungkin awalnya sangat melelahkan. Penuh pengorbanan untuk menjalaninya. Tapi belakangan menjelang akhir studimu, Ayah dan Ibu melihat kamu dan kakakmu Ahsana sangat menikmatinya. SD kamu sekolah di Bekasi, kurang lebih 20 km dari rumah. Untuk menemani kakakmu, Ayah dan Ibu memindahkanmu ke sana dari sebuah sekolah di Cikarang. Meskipun, akhirnya justru kamu yang ditemani oleh kakakmu. Kakakmu lah yang membimbing kamu, melindungi kamu, dan menambal kekurangpedeanmu di sana-sini. Tapi prestasimu yang konsisten dalam 5 besar menyenangkan hati Ayah dan Ibu. Meskipun saat wisuda, namamu tidak dipanggil ke atas panggung.
Ayah ingat pada hari pertama kamu pindah ke sekolah ini, kamu menangis tidak mau masuk kelas. Bu Nyimas, gurumu merayumu masuk kelas. Juga temanmu, Assyam mengajakmu masuk kelas. Kamu masuk kelas. Tapi tak lama, kamu keluar menangis dan akhirnya tertidur pulas di sebuah sofa di ruang Pak Muhammad, sang kepala sekolah.
Pada tahun pertama di sekolah ini, yaitu di klas 2, kamu mendapatkan ranking 7. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya kamu pernah bilang targetmu ranking 3, karena kamu tahu siapa pesaing-pesaingmu. Dan benar, kamu mencapai target! Ayah senang kamu bisa membaca situasi. Bisa mengenal medan.
Perjalanan yang melelahkan, setiap hari berangkat jam 6.15 dan tiba dirumah jam 5 sore atau setengah enam, kamu dan kakakmu lakoni dari Senin sampai Jumat. Sedangkan Ayah saja berangkat ke kantor jam 7 pagi dan jam setengah enam sudah tiba di rumah karena kantor ayah cuma 10 km dari rumah.
Ada yang bilang, mestinya kita pindah ke Bekasi saja. ”Ayahnya dong yang ngalah, jauh dari kantor. Asal anaknya dekat dengan sekolah.” Tentu tak semudah itu. Karena itu ayah membeli mobil untuk kalian berdua. Coba hitung, berapa hari sepekan ayah memakai mobil ini. Paling Sabtu atau Ahad saja. Sedangkan kamu dan kakakmu, 5 hari sepekan. Memang mobil ini bukan untuk Ayah. Tapi untuk kalian. Syukur Alhamdulillah, ada teman-temanmu yang bisa iuran untuk menutup biaya operasional mobil ini sampai pada tahun ke enam engkau lulus menyelesaikan SD mu.
Ayah dan Ibu berdoa, semoga engkau menjadi anak yang sholeh dan cerdas, sebagaimana motto SD-mu itu.
Dan kini setelah perjalan asyik yang melelahkan itu selesaikah jihadmu? Jihad Ayah dan Ibumu? Belum, Nak. Ada etape kedua: Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang lebih jauh lagi. Di Solo. Di sebuah pesantren yang insya Allah bagus bagi akidah dan pengusaanmu terhadap diinul Islam. Di sini kamu tidak perlu berangkat pagi-pagi dan pulang sore atau malam seperti dulu. Tidak perlu terjebak kemacetan jalan tol. Karena….. kamu menginap di sana…. Di pondok pesantren! Sekolah 24 jam. Kata ustadz kita Dr. Hidayat Nurwahid, pesantren adalah lembaga yang akan menciptakan manusia unggul karena 24 jam menggembleng santri-santrinya.
Lebih santai? Ya. Perjalanan dari asrama ke sekolah tidak sampai lima menit. Waktunya bisa kamu simpan untuk kegiatan belajar. Dari pagi sampai malam. Di kelas, di masjid, di lapangan bola, di kelas malam, di kantin, di tempat cucian, di tempat jemuran. Belajar, shalat, menghafal Quran, main basket, main bola atau sepak takraw, mengantri mandi, mengantri makan, mencuci baju seragam sendiri, menjemur dan mensetrikanya. Bahkan berobat sendiri jika kamu sakit.... Oh, ternyata tidak santai ya........ Tapi Ayah lihat ada benih-benih kemandirian yang ditanam sedikit demi sedikit dalam dirimu. Penanaman benih yang insya Allah akan tumbuh subur, karena kamu berada di tanah yang gembur dan subur pula. Yang sulit dilakukan jika kamu masih di rumah saja.
Kadang-kadang Ayah membaca kalimat gelisah dalam raut wajahmu. Dalam lelehan air matamu ada rasa kangen menjalani kehidupan bersama Ayah, Ibu dan adik-adikmu di rumah seperti dulu. Tapi kamu harus tegar, Nak..... Demikian juga dengan Ayah dan Ibu. Jangan dikira Ayah dan Ibu sudah memiliki ketegaran yang berlapis-lapis..... Sama, Nak. Ayah Ibu juga selalu menyemangati diri: ”Kamu harus tegar!” Berpisah dengan Anak bukan perkara mudah. Apalagi biayanya juga tidak sedikit. Di tengah krisis ekonomi ini, yang entah sudah berakhir atau belum.
Ini jihad! Jihadmu, jihad Ayah dan Ibu. Tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Dan pasti Allah memberi kemudahan, kenikmatan, ketegaran di balik ’ketedakenakan’ yang kita rasakan ini.
Nanti engkau akan merasakan nikmatnya. Saat berjihad ataupun saat menikmati hasilnya.
Demikian juga Ayah dan Ibu. .... Pada saatnya nanti..... di dunia ini apalagi di akhirat nanti.
Allahu Akbar.....
Cikarang Baru, 7 April 2008
Sabtu, Februari 02, 2008
Kado Untuk Anakku
(Ahsana 13 Tahun)
Kusiapkan dua nama ketika istriku hamil sebulan setelah kami menikah 14 tahun yang lalu. Menyiapkan nama ternyata tidak mudah. Apalagi dalam Islam, kita diajarkan oleh Rasulullah memberi nama-nama yang indah pada anak-anak kita. Tidak hanya indah, tapi bermakna. Tidak hanya makna, tapi itu adalah doa. Seperti dalam teori The Law of Attraction, nama anak adalah harapan yang terus menerus kita panjatkan saat kita memanggil anak-anak kita. Getarannya akan menarik pemberian Allah, memenuhi harapan yang kita pinta. Bukankah Allah Maha Mendengar, Maha Pemberi, Maha Mengabulkan doa.
Maka saya mencari-cari kosa kata atau ungkapan kata yang bermakna indah di dalam Al Quran maupun di buku-buku tentang ini.
Ada lebih dari sepuluh kombinasi nama saya tuliskan dalam buku catatan saya. Yang akhirnya muncul dua nama. Satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan.
Maka ketika anak pertama kami lahir perempuan, nama yang sudah ada dikantong tinggal kusetorkan kepada Bidan Arti di Wonosobo, tempat kelahiran putriku ini, untuk diurus akta kelahirannya.
Ahsana Nabila Asyhar.
Nama yang cantik menurut kami. Dari bahasa Arab. Meskipun mungkin belum benar tasyrifnya. Ahsana Nabila artinya ”sebaik-baik perempuan cantik dan cerdas”. Sedangkan Asyhar dinukil dari nama belakang saya. Sebagai tanda bahwa ia adalah anak saya (tentu hasil buah cinta bersama istri terkasih).
Ya, dia telah lahir 2 Ramadhan 1415 H atau 2 Februari 1995. Jadi menurut kalender hijiriyah, tanggal 15 September 2007, yang bertepatan dengan 2 Ramadhan 1428, dia telah berusia 13 tahun. Sedangkan menurut kalender masehi, baru 2 Februari yang akan datang dia berusia 13 tahun.
Terserah mau pake kalender yang mana, kamu Nak. Yang jelas usiamu makin bertambah. Menuju ke kedewasaan. Dewasa dalam tanggungjawab di depan ayah dan ibu, guru, tetangga, masyarakat dan utamanya tanggungjawab kepada Allah, dengan kewajiban-kewajiban fardhiyyah.
Karena itu, Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang sangat melelahkan. Penuh pengorbanan untuk menjalaninya. SD kamu sekolah di Bekasi, kurang lebih 20 km dari rumah. Untuk itu Ibumu harus mengantarkanmu ke sekolah dan menjemputmu jam 2 siang di sekolah. Padahal Ibu juga punya kewajiban lain mengajar di sekolah di Cikarang.
Pagi kita bertiga mengendarai motor tua ayah sampai pintu tol. Lalu kamu bersama Ibu melanjutkan naik angkot menuju Bekasi Timur. Keluar tol, kamu dan Ibu turun, lalu jalan kaki –atau sesekali naik ojek, jika Ibu punya uang lebih, menuju sekolahmu. Sampai di sekolah, tak jarang kamu menangis karena datang terlambat, capek dan emoh ditinggalkan Ibu pulang.
Benar, padahal Ibu harus pulang lagi ke Cikarang karena dia ditunggu murid-muridnya, dan baru nanti jam satu siang harus pulang lebih dulu untuk pamit menjemputmu, karena jam 2 siang kamu sudah siap pulang.
Perjalanan yang melelahkan. Pantas kamu nangis kecapean, malu karena terlambat datang. Padahal umurmu baru 6 tahun.
Semangatmu bangkit ketika suatu haru seorang ibu guru menyambutmu. Dan mengatakan, ”Ayo Ahsana, perjalanan yang melelahkan demi menuntut ilmu itu jihad.”
Ayah senang bahasa Bu Guru itu menyemangatimu, berarti kau telah mengerti makna jihad.
Setengah tahun kamu menjalani rutinitas amat melelahkan ini bersama Ibumu. Setelah itu Ayah mendapatkan rizki untuk membeli sebuah mobil carry secara kredit. Dan menggaji seorang sopir untuk mengantar jemputmu ke dan dari sekolah.
Tahun ajaran baru, kamu naik kelas. Adikmu pun disekolahkan di sana, agar kamu punya teman sepanjang perjalanan pulang pergi Cikarang-Bekasi. Tahun berikutnya Allah membuka jalan lebih lapang. Beberapa temanmu yang tinggal di Bekasi, pindah ke Cikarang. Dan beberapa anak mendaftar masuk ke sekolah itu. Mereka menjadi penumpang mobil carry kita. Mobil kita menjadi mobil antar jemput. Ayah bernapas lega karena ada yang menutup biaya bensin, tol, oli, tambal ban, ganti ban gaji sopir dan lain-lain. Alhamdulillah, sampai pada tahun ke enam engkau lulus menyelesaikan SD mu. Ayah dan Ibu berdoa, semoga engkau menjadi anak yang sholeh dan cerdas –sebagaimana motto SD-mu itu.
Selesaikan jihadmu? Jihad Ayah dan Ibumu? Belum, Nak. Ayah dan Ibu menyekolahkanmu di sekolah yang lebih jauh lagi. Di Subang. Kamu tidak perlu berangkat pagi-pagi dan pulang sore atau malam seperti dulu. Karena kamu bisa menginap di sana…. Di pondok pesantren!
Lebih santai? Ya. Perjalanan dari asrama ke sekolah tidak sampai tiga menit. Waktunya bisa kamu simpan untuk kegiatan belajar. Dari pagi sampai malam. Di kelas, di masjid, di lapangan, di sawah, di kantin, di tempat cucian, di tempat jemuran. Belajar, shalat, menghafal Quran, main basket, menanam padi, mencuci baju seragam sendiri, menjemur dan mensetrikanya. .... Oh, tidak terlalu santai ternyata.
Betul, Nak.
Ini jihad! Tidak ada jihad dengan bersantai-santai.
Tapi nanti engkau akan merasakan nikmatnya. Saat berjihad ataupun saat menikmati hasilnya.
Allahu Akbar..... !
Cikarang Baru, 2 Februari 2008

