Kurang lebih itulah gambaran orang yang ikhlas bersedekah. Tangan kanan memberi, tangan kirinyapun tak tahu. Kalau tangan kirinya saja tak tahu apatah lagi orang di sekitarnya.
Ada sebuah cerita nyata, seorang Ustadz mendapatkan amplop ketika selesai berceramah. Sambil berbasa-basi seorang pengurus masjid telah memasukkan amplop itu ke dalam kantong baju koko sang Ustadz. Tapi sang Ustadz menolaknya. “Wah, apa ini, tak usahlah…” Karena pengurus masjid itu memaksanya maka sang Ustadz mengatakan “Sudahlah… untuk dana masjid saja.” Katanya sambil mengembalikan amplop itu ke kantong baju koko Pak pengurus masjid itu.
Saya merenungkan kejadian itu. Lalu teringat gambaran keikhlasan di atas.
Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Artinya tangan kanan tetap tahu berapa jumlah yang disedekahkan. Tapi kini, dalam kisah di atas, jangankan tangan kiri, tangan kanan sang Ustadz pun tak tahu berapa yang disedekahkan kepada masjid dari hasil ceramahnya itu. Karena Sang Ustadz tak sempat membuka amplopnya.
Saya membuat simulasi asal-asalan, bagaimana jika amplop itu diterima dulu?
Lalu saya berandai-andai:
1. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan tetap mensedekahkan seluruhnya. Tapi dia akan ‘dihantui’ perasaan bahwa hari ini dia telah bersedekah sekian ribu ke masjid. Perasaan ini sering membawa kepada penyakit hati. Ada rasa ujub, menyanjung dirinya sendiri, meskipun tak tampak oleh orang lain.
2. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan mensedekahkan separohnya karena ternyata jumlahnya cukup besar. Dia akan segera teringat bahwa persediaan susu anaknya sudah habis. Dan separoh honornya itu bisa untuk membeli susu anaknya.
3. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan berfikir beberapa kali untuk bersedekah. Berarti dia menunda sedekahnya. Dalam masa jeda itu akan muncul bisikan agar dia menerima saja honornya itu, toh ilmu yang disampaikannya nilainya sebenarnya lebih besar dari pada honor yang diterima saat itu.
4. ……….
Astaghfirullah… saya stop saja tulisan ini, karena tak mau berandai-andai yang berujung pada prasangka buruk yang ternyata tak pernah terjadi. Toh sang Ustadz sudah menginfakkan semua honornya tanpa pernah tahu berapa jumlahnya.
Sebuah keikhlasan yang insya Allah, menjadi tambahan tabungannya yang setiap saat dapat dicairkan dalam jumlah yang berlipat ganda di dunia ini atau pahala yang tak ternilai di akhirat kelak.
Subhanallah…. Jangankan tangan kirinya, tangan kanannyapun tak tahu….
Cikarang Baru, 17 Mei 2009 (Cha)
Senin, Mei 18, 2009
Jangan sampai tangan kirimu tahu!
Minggu, Mei 17, 2009
Kasih Tak Berbalas
Itulah kasih sayang Ibu kita. Benar-benar tak berbalas. Seberapa besar kita berbaktipun. Saat seorang sahabat kesana kemari menggendong Ibunya yang sudah jompo, Rasulullah mengatakan bahwa itu belum bisa membalas jasa Ibunya.
Astaghfirullah…
Lalu bagaimana aku, yang selama ini tidak pernah melakukan itu? Kalau hanya tegur sapa melalui sms, telepon, atau kunjungan pulang kampong, tiket pesawat dan materi lainnya itu tak pernah dibahas oleh Rasullullah, artinya itu masih kecil. Maka betapa GR-nya aku ketika merasa cukup berbakti dengan melakukan itu saja.
Benar-benar tak bakalan berbalas….
Apalagi ketika kita mau sedikit saja membalasnya Ibu menolaknya. Katanya tak mau merepotkan anak-anaknya. Saya iri ketika mendengar seorang teman memberikana kamar utamanya kepada Ibunya ketika Ibunya berkunjung ke rumahnya. Dan dia cukup tidur di sofa saja. Ketika saya coba menawarkan hal yang sama, Ibuku menolaknya. Dia memilih kamar anakku yang luasnya hanya separo ukuran kamarku.
Ketika pagi-pagi aku menawari membuatkan minuman, Ibu menolaknya dengan mengatakan “biar Ibu bikin sendiri nanti.” Saya tahu Ibu suka minum teh atau kopi panas-panas. Kalau saya nekat menyiapkannya juga, sedangkan beliau sekarang belum mau minum, pasti nanti dingin.
Setiap pagi Mbak tukang cuci datang jam setengah enam. Langsung dia mencuci baju kotor yang sudah ada di bak cucian. Sekitar jam delapan, aku mendengar Ibu di belakang mencuci sendiri baju-bajunya. Ketika aku tanya, kenapa tidak sama-sama dicucikan mbak, jawabnya “kasihan dia kerjaannya jadi nambah… ini juga cuma dikit kok.”
Ya, benar-benar tak bakalan berbalas….
Seakan kita tak punya kesempatan membalasnya. Sementara Ibu terus mengalirkan kebaikannya kepada kita. Ketika istriku sakit dan harus berobat jalan ke rumah sakit di Bekasi dan Jakarta, beliau beberapa kali menemani istriku, karena ada kerjaan rutin. Ketika aku melepas beliau pergi, aku mencium tangannya, megucapkan terima kasih sambil minta maaf sudah segede ini masih merepotkannya saja. Apa jawaban beliau?
“Doakan saja Ibu sehat dan kuat…” permintaan yang sederhana. Dan saya tahu jika Ibu diberi Allah kesehatan dan kekuatan, pasti digunakannya lagi untuk berda’wah di masyarakat, menengok anak cucunya dan menebarkan lagi kebaikan di mana-mana….
Ya, Allah, benar-benar aku tak mampu membalasnya….
Ketika anakku yang ketiga berulang tahun. Dia merayu neneknya. Saya tahu Ibu selama ini tak pernah merayakan ulang tahunnya atau anak-anaknya, maka demikian pula aku terhadap anak-anakku.
Tapi kini beliau takluk terhadap rengekan anakku.
“Cuma kasih makanan kecil ke teman semobil jemputan dan beberapa teman di kelas.” kata anakku. Maka malam menjelang hari ulang tahun itu, saya lihat Ibu bersama anakku pulang dari minimarket dekat rumah membawa makanan dan minuman lalu dibungkus plastic untuk dibagi-bagikan kepada teman-teman anakku besok.
Skor ku makin jauh saja tertinggal.
Ketika anakku yang di pesantren menelpon minta dikirimi makanan dan jas hujan, Ibuku mendengarnya. Malamnya sudah ada beberapa barang keperluan mandi untuk diselipkan ke dalam paket. Plus amplop berisi uang.
Aduuuh makin jauh saja aku tertinggal, sementara akau tak ada kesempatan untuk membalasnya.
Ketika musim hujan, air meluap melalui bak kontrol sehingga membanjiri kamar dan dapurku. Melihat hal ini Ibu cepat bergerak. Sambil minta izin kepadaku untuk membuatkan tanggul agar air tidak masuk ke ruang tamu dan kamar-kamar di sekitarnya. Beliau membuat tanggul dengan tangannya sendiri! Semen, pasir, dan batu bata serta potongan keramik sudah siap. Wal hasil, tanggul buatannya benar-benar bermanfaat. Aku tak lagi kelabakan ketika banjir datang. Ketika ini kuceritakan kepada Ibu, beliau tertawa senang. Ada kegembiraan yang menyembul dibalik tawanya karena bisa terus berbuat apapun demi anak-anaknya.
Gagal membalas kasih sayangnya, maka setiap selesai sholat aku hanya membalasnya dengan melibatkan kasih sayang Allah. Karena Rahman dan Rahim Allah sajalah yang bakal mengalahkan kasih sayang Ibu….. dengan sebuah baris doa:
“Allah Ya Allah, sayangilah dia sebagaimana dia selalu menyayangi kami sejak kami kecil sampai aku setua ini."
Awal bulan ini beliau pulang ke Surabaya. Saya sempat menawarkan kepadanya agar tinggal saja di Cikarang. Rumah di Surabaya dijual saja untuk dibelikan rumah di Cikarang. Jawabnya, “Ibu malah wanti-wanti jangan pernah menjual rumah yang di Surabaya. Kita orang Surabaya masak tidak punya rumah di sana.” Ini adalah jawaban romantisme kampong halaman yang bisa dimaklumi. Lalu beliau melanjutkan, “Lagian kalau di sini Ibu seperti pensiunan yang tak berguna. Cuma makan tidur saja.” Semangat berbaginya kepada masyarakat sekitarnya tak pernah pudar.
Masih sangat banyak lagi kasih sayang Ibu kepada ku, yang tak mampu aku menuliskannya semuanya saat ini. Suatu saat nanti aku akan menuliskannya menjadi sebuah buku.
Sayup terdengar nyayian pendek di lorong-lorong hatiku…..
Lima baris yang berisi lengkap gambaran seorang Ibu..
Kasih Ibu sepanjang beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Cikarang Baru, 17 Mei 2009
Sabtu, April 25, 2009
Undat-Undat
Nasihat itu sangat melekat di kepala saya. Maka kalau sekarang ada orang meminta kembali pemberiannya, sangat tidak masuk di akal saya. Apalagi untuk itu sampai harus membongkarnya kembali. Pompa air yang sudah disumbangkan kepada rakyat dibongkar kembali. Paving blok-pun dicongkel dari tanah lalu diangkut lagi dengan ke dalam truk.
Yang lebih masuk akalpun tetap tidak masuk di akal saya.
Fenomena yang tak masuk akal ini, kini memang sedang jadi tontonan menggelikan di televise. Pemberinya adalah para caleg. Diberikan kepada rakyat. Lalu diminta lagi karena ternyata dia gagal jadi anggota legislative. Karena pemberiannya tidak menuai dukungan rakyat.
Dalih yang juga tidak masuk di akal saya adalah rakyat ingkar janji. Karena rakyat tidak memenuhi janjinya untuk mendukung si caleg, maka si caleg menarik sumbangannya. Lho,…. Benarkah perjanjian itu ada? Kalau ada bukankah itu sama dengan suap yang bias dijerat dengan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008?
Dalam Pasal 286 tertulis “… Menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu …..”
Jadi para caleg gagal yang sedang mengundat-undat pemberiannya ini sebenarnya sedang mempertontonkan money politics yang telah dilakukannya selama kampanye. Dalam UU Pemilu, yang demikian ini diancam hukuman pidana maksimal 36 bulan. Nah, lho…. Sudah gagal jadi aleg, stress, undat-undat, dijebloskan ke penjara pula.
Apakah Panwaslu menunggu pengaduan untuk hal ini? Sementara sang caleg-gagal telah secara tak sadar telah mengakuinya dengan mempertontonkan aksi konyolnya itu.
Cikarang Baru, 24 April 2009
Rabu, April 22, 2009
SUARA RAKYAT
Lima tahun suara rakyat bagai teriakan di padang gersang nan luas membentang. Tak ada siapapun yang mendengar. Kalaupun ada, hanya beberapa orang yang tak punya apa-apa untuk memutuskan suatu tindakan. Karena keputusan harus dibicarakan di dalam sidang dan atas suara terbanyak. Maka kalau banyak yang tidak mau mendengarnya, suara rakyat menjadi debu yang ditiup angin.
Kini tiba-tiba suara itu ada yang mendengarnya. Dan tidak hanya itu, suara itu tidak cuma ditampung tapi langsung dipenuhi kebutuhannya. Kalau dulu banyak yang pura-pura tuli, kini banyak yang pura-pura peduli. Itulah para caleg yang terhormat.
Maka mengetahui suara rakyat sedang laku-lakunya, rakyatpun berbondong-bondong menjualnya.
"Pak, kami butuh sirtu untuk jalan becek di kampong kami." Kata sebuah suara, lalu meluncurlah ke kampong mereka bertruk truk sirtu.
"Pak, musholla kami butuh MCK." kata suara yang lain.
Maka berdatanganlah truk membawa material lengkap dengan tukangnya.
"Pak, klub sepak bola kami sudah lima tahun tak berseragam."
Maka seminggu kemudian dikirimlah seragam sepak bola untuk sebuah kesebelasan.
"Pak, grup kosidah kami rebananya sudah pada jebol."
Maka satu set rebana pun dikirimkan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi.
"Pak, pemerintah tidak becus memelihara bendungan Situ Gintung."
Maka dikirimkanlah selimut, makanan, minuman dan obat obatan untuk para korbannya. Lebih cepat daripada pemerintah setempat.
"Pak, jembatan kali di kampong kami sudah reot."
Maka secepat kilat esoknya sudah ada jembatan baru.
"Pak, kami harus jalan kaki tiga empat kilometer untuk mengambil air."
Maka kini sumber air su dekat…… perpipaan sudah terpasang rapi lengkap dengan pompanya.
"Pak, disini korban demam berdarah makin banyak." Maka keesokan harinya tim fogging-pun turun tangan.
"Pak, kami anak muda pengen main band untuk kampanye bapak."
Maka seperangkat alat band besok menjadi ajang unjuk kebolehan dan kepedulian sang caleg.
Tanpa rapat panjang, tanpa survey. Semua dipenuhi dengan cepat. Setiap lima tahun sekali suara rakyat memang sedang laku keras. Maka karena inikah kenapa pemilu disebut sebagai pesta demokrasi… pestanya rakyat?
Wallahu'alam
Sabtu, April 18, 2009
Senyum Caleg 1
Pemilu 9 April sudah lewat. Perhitungan tingkat kecamatan belum juga selesai, tapi perhitungan di TPS sudah membuat para caleg senyum senyum. Para saksi dan tim sukses dengan cepat melaporkan suara yang diperoleh caleg di berbagai TPS.
Bagi yang beroleh suara memuaskan, diapun tersenyum lebar/lebar. Dan siap siap menggelar acara syukuran. Kalau pada masa kampanye sudah keluar dana ratusan juta, apalah artinya beberapa puluh juta untuk mengungkapkan rasa syukurnya.
Bagi yang suaranya sedang/sedang saja, senyumnya tertahan tahan. Setiap hari menelpon tim suksesnya. Dengan harap harap cemas berharap ada salah perhitungan suara dan dapat direvisi di tingkat desa atau kecamatan. Sambil terbayang uang ratusan juta yang telah digelontorkan untuk kampanye dan uang bensin bagi calon pemilihnya. Sesekali terlintas rasa takut bagaimana nanti kalau tak terpilih. Bagaimana cara mendapatkan kembali uang kampanyenya itu.
Bagi yang suaranya segelintir dua gelintir di setiap TPS, terpaksa harus tersenyum kecut. Sambil menenang nenangkan hatinya. Bahwa dia sudah berusaha maksimal, tapi Tuhan belum menghendaki. Maka meski hatinya teriris, senyum berusaha dikembangkan di bibirnya. Jadinya yang senyum kecut itu.
Syukurlah dia masih bias tersenyum.
Terbayang para caleg yang terhormat menebar senyum selama lebih dari enam bulan kampanyenya. Senyumnya tercetak dari wajah wajah sumringahnya di banner yang tergantung di pohon pohon, tiang listrik. Balihonya juga terpasanag gagah di setiap perempatan jalan. Dan dengan royal para caleg menghambur hamburkan uangnya untuk itu. Bukan hanya itu, mereka juga membelanjakan uangnya untuk membeli sirtu (pasir batu) untuk menutup jalan jalan becek di kampong kampong. Karang taruna pun mendapatkan kostum bola yang baru. Kelompok hadrah kebagian satu set rebana baru. Rumah rumah yang kompornya sudah absent tidak ngebulpun, kini ngebul lagi untuk beberapa minggu. Karena caleg yang memberi uang tidak Cuma satu orang.
Calegpun membayangkan dia bakal jadi orang terhormat di gedung dewan. Bisa berinteraksi dengan Bupati dan jajarannya. Juga para pengusaha yang royal demi memenangkan tender. Kedudukan yang sangat tinggi, padahal selama ini tidak pernah ngantor alias pengangguran. Juga uang komisi yang berlimpah disamping gaji yang juga sangat tinggi.
Dan ketika hari perhitungan tiba…….,
ternyata suaranya tak cukup untuk satu kaki kursipun, lemas lunglailah badan. Terbayang jelas di kelopak matanya hutang yang menumpuk. Maka terlontar caci maki di hatinya dan mulutnya. Karena caleg telah dikhianati oleh rakyat yang telah dimanjakannya dengan uang saat kampanye dulu.
Ya, caleg yang terhormat telah dikhianati rakyat yang bakal di’wakilinya’.
Maka tak heran jika sementara caleg yang lolos, segaiannya telah siap siap membalaskan dendam koleganya yang gagal. Menuntut balas terhadap rakyat. Dengan mengkhianati mereka nanti saat kaki telah menjejakkan kakinya di gedung dewan nan megah. Dengan memperkaya diri, demi menabung sebanyak banyaknya uang untuk membeli suara rakyat lima tahun yang akan dating.
Meskipun ribuan caleg kalah perang. Senyum tetap mengembang di mulut para caleg yang lolos. Demi merayakan kemenangannya….. mengelabui para pemilihnya.
*Cerita diatas bukan senyata nyatanya. Tapi banyak yang demikian. Mespi demikian, Insya Allah masih ada yang tidak sesuai dengan gambaran di atas.

