Pemilu 9 April sudah lewat. Perhitungan tingkat kecamatan belum juga selesai, tapi perhitungan di TPS sudah membuat para caleg senyum senyum. Para saksi dan tim sukses dengan cepat melaporkan suara yang diperoleh caleg di berbagai TPS.
Bagi yang beroleh suara memuaskan, diapun tersenyum lebar/lebar. Dan siap siap menggelar acara syukuran. Kalau pada masa kampanye sudah keluar dana ratusan juta, apalah artinya beberapa puluh juta untuk mengungkapkan rasa syukurnya.
Bagi yang suaranya sedang/sedang saja, senyumnya tertahan tahan. Setiap hari menelpon tim suksesnya. Dengan harap harap cemas berharap ada salah perhitungan suara dan dapat direvisi di tingkat desa atau kecamatan. Sambil terbayang uang ratusan juta yang telah digelontorkan untuk kampanye dan uang bensin bagi calon pemilihnya. Sesekali terlintas rasa takut bagaimana nanti kalau tak terpilih. Bagaimana cara mendapatkan kembali uang kampanyenya itu.
Bagi yang suaranya segelintir dua gelintir di setiap TPS, terpaksa harus tersenyum kecut. Sambil menenang nenangkan hatinya. Bahwa dia sudah berusaha maksimal, tapi Tuhan belum menghendaki. Maka meski hatinya teriris, senyum berusaha dikembangkan di bibirnya. Jadinya yang senyum kecut itu.
Syukurlah dia masih bias tersenyum.
Terbayang para caleg yang terhormat menebar senyum selama lebih dari enam bulan kampanyenya. Senyumnya tercetak dari wajah wajah sumringahnya di banner yang tergantung di pohon pohon, tiang listrik. Balihonya juga terpasanag gagah di setiap perempatan jalan. Dan dengan royal para caleg menghambur hamburkan uangnya untuk itu. Bukan hanya itu, mereka juga membelanjakan uangnya untuk membeli sirtu (pasir batu) untuk menutup jalan jalan becek di kampong kampong. Karang taruna pun mendapatkan kostum bola yang baru. Kelompok hadrah kebagian satu set rebana baru. Rumah rumah yang kompornya sudah absent tidak ngebulpun, kini ngebul lagi untuk beberapa minggu. Karena caleg yang memberi uang tidak Cuma satu orang.
Calegpun membayangkan dia bakal jadi orang terhormat di gedung dewan. Bisa berinteraksi dengan Bupati dan jajarannya. Juga para pengusaha yang royal demi memenangkan tender. Kedudukan yang sangat tinggi, padahal selama ini tidak pernah ngantor alias pengangguran. Juga uang komisi yang berlimpah disamping gaji yang juga sangat tinggi.
Dan ketika hari perhitungan tiba…….,
ternyata suaranya tak cukup untuk satu kaki kursipun, lemas lunglailah badan. Terbayang jelas di kelopak matanya hutang yang menumpuk. Maka terlontar caci maki di hatinya dan mulutnya. Karena caleg telah dikhianati oleh rakyat yang telah dimanjakannya dengan uang saat kampanye dulu.
Ya, caleg yang terhormat telah dikhianati rakyat yang bakal di’wakilinya’.
Maka tak heran jika sementara caleg yang lolos, segaiannya telah siap siap membalaskan dendam koleganya yang gagal. Menuntut balas terhadap rakyat. Dengan mengkhianati mereka nanti saat kaki telah menjejakkan kakinya di gedung dewan nan megah. Dengan memperkaya diri, demi menabung sebanyak banyaknya uang untuk membeli suara rakyat lima tahun yang akan dating.
Meskipun ribuan caleg kalah perang. Senyum tetap mengembang di mulut para caleg yang lolos. Demi merayakan kemenangannya….. mengelabui para pemilihnya.
*Cerita diatas bukan senyata nyatanya. Tapi banyak yang demikian. Mespi demikian, Insya Allah masih ada yang tidak sesuai dengan gambaran di atas.
Sabtu, April 18, 2009
Senyum Caleg 1
Rabu, Februari 18, 2009
SENYUM TULUS
Pendeknya dengan senyum kita mengekspresikan rasa senang yang kita miliki.
Ketika seorang tamu mengetuk pintu, senyuman ramah tuan rumah menandakan dia siap menerimanya. Ketika pengemis datang mengucap salam, jawaban minus senyum menandakan kita enggan menerimanya.
Ketika seorang datang meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi, senyuman ramah bersama uluran tangan menandakan kita dengan senang hati menerima persahabatan kembali.
Ketika seorang datang ke rumah tanpa senyum untuk menagih hutang, sebelum berkata apa-apa kita sudah tahu bahwa dia sedang tidak suka atas keterlambatan kita menyelesaikan kewajiban membayar hutang.
Yang ajaib, senyum itu tak bisa direkayasa. Kabarnya ada ribuan urat syaraf yang bekerja sehingga terbentuklah seuntai senyuman yang tulus ikhlas. Dan ini atas instruksi otak kita. Sebelumnya otak kita menerima pesan-pesan kebahagiaan dari dalam diri kita. Kebahagiaan yang sejati. Penerimaan yang sejati. Bukan dibuat-buat. Maka barangkali senyuman yang dibuat-buat tidak melibatkan full team urat syaraf senyum itu. Sehingga senyuman terasa hambar. Atau ’rasanya’ kurang pas.
Ketulusan senyuman sebab-sebabnya secara pasti hanya diketahui oleh pemilik senyum itu sendiri. Jika dia seratus persen bahagia dan puas maka senyumannya akan tulus seratus persen. Jika dia hanya 80% senangnya, maka ketulusannyapun berkurang kadarnya, sehingga senyumannya kurang manis. Demikian seterusnya, sehingga lama-lamanya senyumnya berasa agak kecut. Yang demikian kita sering menyebutnya dia ’tersenyum kecut’. Ada keajaiban dan kegaiban saat seseorang tersenyum. Apalagi ketika seseorang tersenyum ketika dia menurut pandangan mata kita sedang menderita. Ketika dalam ukuran kebanyakan orang dia pantas menangis karena serba kekurangan secara ekonomi, justru ternyata kita menyaksikan dia tak kehilangan senyuman tulusnya. Keikhlasan menerima cobaan Allah membuat lukisan senyum di wajahnya menjadi benar-benar indah.
Saksikanlah betapa kejadian-kejadian di sekitar kita menjadi guru terbaik.Ketika dalam ukuran kebanyakan orang dia pantas meringis kesakitan, ternyata justru kita menyaksikan dia mempersembahkan senyuman terindahnya kepada kita. Dan ini benar-benar terjadi. Bahkan justru pada orang-orang yang menurut kita dia telah mati mengenaskan. Tersungging sebuah senyuman yang benar-benar tak mungkin hasil rekayasa.
Wallahu’alam.
Jumat, Februari 13, 2009
BERKAH SENYUM
Oleh: Choirul Asyhar
Alhamdulillah, Allah memberikan perangkat ekspresi pada wajah kita yang bernama senyum ini. Bayangkan jika ‘senyum’ ini tidak ada di wajah manusia. Hidup terasa tegang, kaku, tertekan. Hubungan sesama manusia menjadi tidak akrab, tidak saling menyapa, bahkan bisa menjadi bermusuhan satu sama lain. ‘Hanya’ dengan saling melempar senyuman semua ketegangan, kekakuan, ketertekanan dan permusuhan bisa lumer. ‘Hanya’ dengan menebar senyuman keakbaran, persahabatan, saling kenal, saling dekat bisa terjalin.
Subhanallah. Karena itulah sungguh menakjubkan ketika Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa senyum itu juga sedekah. Bagai menebar sedekah materi yang bisa meningkatkan kesejahteraan si miskin, menebar senyum juga bisa menciptakan kesejahteraan ruhani pada lingkungan masyarakat.
Tiga-empat bulan terakhir ini sampai dua bulan ke depan wajah Indonesia juga banyak dibanjiri senyuman. Meskipun hanya berupa gambar. Yaitu senyuman ratusan ribu Caleg, yang poster wajahnya terpampang di seluruh pelosok negeri. Mulai dari jalan besar sampai jalan desa bahkan dusun dan jalan setapak di pematang sawah. Tiang listrik dan pohon-pohon tak luput dari kunjungan gambar-gambar Caleg-caleg yang selalu tersenyum ini.
Saya belum menemui gambar Caleg yang tegang tanpa senyuman. Dari yang senyuman lebar sehingga tampak gigi serinya, senyum simpul , sampai yang hanya tersungging sedikit. Tak masalah, asal dilakukan dengan tulus dari hati yang terdalam, insya Allah pesan senyum itu akan sampai ke hati rakyat calon pemilihnya.
Ya, ketulusan itu memang penting. Apalagi bagi seorang Caleg. Senyuman yang gambarnya ditebar di mana-mana itu semoga dilakukan dengan tulus. Bukan hanya karena ingin meraih simpati rakyat, agar terpilih dan duduk di kursi dewan. Ketulusan senyuman para Caleg akan terbukti nanti setelah mereka bekerja di gedung dewan dan benar-benar terjun di masyarakat. Sekarang Anda menebar senyuman kepada rakyat; nanti setelah menjadi wakil rakyat, giliran rakyatlah yang tersenyum. Karena kehidupannya menjadi lebih baik. Itu berkat perjuangan Anda yang mau bersusah payah dan bersakit-sakit memperjuangkan nasib rakyat di gedung dewan.
Jangan sampai Anda memonopoli senyuman. Kini Anda menebar senyuman untuk meraih simpati. Dan ketika menjadi anggota dewan Anda terus tersenyum menikmati kedudukan dan kekayaan. Sementara rakyat terus menangis meratapi nasibnya. Naudzubillahi min dzalika.
Semoga bertebarannya senyuman di seantero Indonesia ini mendatangkan berkah Allah bagi bangsa ini. Amin.
Cikarang Baru, 13 Februari 2009


