Saat dengerin ceramahnya Pak Purdi dalam acara yang diadakan TDA Bekasi dan EU tanggal 2 Agustus 2009, saya sempat mencatat beberapa kamus singkatan dari Pak Purdi di antaranya:
BODOL = Berani Optimis (pakai) Duit Orang Lain
BONOL = Berani Optimis (pakai) Nama Orang Lain
BOTOL = Berani Optimis (pakai) Tenaga Orang Lain
BOWOL = Berani Optimis (pakai) Wajah Orang Lain
BISNIS = Berani Investasi Sedekah Nekad Insya Allah Sukses
BOSS = Berani Optimis Sedekah Sukses
Bahkan Optimis dan Pesimis itupun ada kepanjangannya…. Sayang saya lupa mencatat karena kecapekan ketawa dengar ‘kekonyolan’ Pak Purdi. Saking konyolnya sampai ada penanya yang mempertanyakan keseriusan Pak Purdi dalam seminar ini.
“Lho, saya serius ini…” katanya sambil tetap mengundang tawa.
Saat ditanya huruf E pada nama Purdi E. Chandra itu singkatan apa dengan enteng jawabnya itu artinya Entrepeneur! “Jadi, kalau Anda sudah sukses, boleh kasih huruf E di tengah nama Anda…”
Bener-bener Gila, kita jadinya….. eits bahkan bukunya yang berjudul Cara Gila Jadi Pengusaha itupun katanya gila itu maknanya ………….. (opo, yo … lagi-lagi aku lupa mencatat).
Intinya kita harus berani dalam bisnis. Jangan banyak hitung-hitungan…. Karena itu sekolah jangan pinter-pinter. Kalau pinter nanti setelah lulus, nglamar kerja pasti diterima. Kalau bodoh…. Gak diterima dimana-mana, ya jadilah Pengusaha akibat the Power of Kepepet!
Kalau sudah terjerumus jadi pengusaha gak usah mikir BEP, kapan baliknya modal…. Lha, jalan aja belum kok sudah mikir balik…. Sampai saat ini Pak Purdi juga gak mikir modal awalnya yang Rp 300 ribu itu sudah balik apa belum….. ha….ha…..
Lalu yang paling menyentuh saya adalah semangat bersedekah. Katanya:
“Hemat sedekah pangkal miskin. Boros sedekah pangkal kaya.”
Berboros-boroslah sedekah karena Allah jadi 'boros' ngasih rejeki sama kita. Weee lha enak tenan….. Enak toh…. (kata alm Mbah Surip).
Janji Allah, dia akan membalas sedekah kita minimal 10 kali lipat. Dan Allah tidak pernah menyalahi janjinya…. Karena janji itu hutang… maka Allah tidak mau berhutang sama kita…..
Dengan rumus-rumus itu kita bakal Sukses, insya Allah……
Sedang sukses itu sendiri ada tiga huruf S…. itu artinya Sedekah, sedekah, dan sedekah…
Tak lupa Pak Purdi minta kita mencatat rumus Sukses lainnya yaitu 9A. Semua yang hadir mencatat. No. 1 Action, ….. No 2. Juga Action, No. 3 …. Action lagi…….. Semua yang nyatet ketipu…….. Eits… ini bukan menipu karena action itu memang perlu! Tanpa Action kita tidak tahu apa yang terjadi atas rencana-rencana yang sudah kita susun.
Selamat Action dan Sukses Mulia!
Choirul Asyhar
Ps. Pak Eko Eshape, pinjam fotonya ya... tks.
Selasa, Agustus 04, 2009
Kamus Singkatan Ala Pak Purdi
Jumat, Juli 24, 2009
Dua Tahun Terakhir Ini Aku..........
Dua tahun terakhir ini aku berada dalam komunitas yang penuh semangat. Semangat mandiri. Semangat bangkit dari keterpurukan. Semangat menggaji diri sendiri. Semangat berbagi. Semangat bersinergi. Semangat keluar dari zona nyaman. Semangat meraih sukses. Sukses untuk diri sendiri dan sukses untuk orang lain. Semangat mendapatkan penghasilan berlipat-lipat. Agar bisa sedekah lebih banyak lagi. Semangat mengeksplorasi otak anugrah ilahi. Untuk lebih khusyuk ibadah kepada-Nya.
Alhamdulillah, alhamdulillah….
Dua tahun terakhir ini aku berada dalam lingkungan komunitas yang penuh kepedulian. Peduli kepada teman senasib. Yang sedang merangkak-rangkak menuju kemandirian. Peduli kepada teman yang penuh semangat hendak bangkit dari kebangkrutan. Dengan sharing pengalaman dan saling memfasilitasi. Peduli kepada tetangga kiri kanan yang di PHK dari kantor dan pabrik-pabrik. Dengan mempekerjakannya sebagai karyawannya. Peduli kepada yatim piatu dhuafa. Dengan menyisihkan sebagian keuntungannya untuk bersama-sama mengadakan acara santunan demi santunan. Demi membahagiakan para yatim piatu duafa itu.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…..
Dua tahun terakhir ini aku "tenggelam" dalam komunitas yang meyakini rumus “banyak memberi agar banyak menerima”. Mereka banyak berbuat kebaikan karena yakin akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Mereka banyak menolong, karena yakin suatu saat mereka juga butuh pertolongan itu. Mereka banyak mengulurkan tangan, karena yakin setiap orang membutuhkannya termasuk diri mereka sendiri. Mereka banyak menanam, karena yakin suatu saat akan memanen. Mereka banyak berkorban, karena yakin Allah tak bakalan mendiamkannya. Mereka banyak menebar rahmat, karena yakin Allah yang Maha pemberi rahmat senang kepada orang yang menerbar kebaikan. Maka nanti Allah akan memberikan rahmat-Nya lebih banyak lagi.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah……
Dua tahun ini aku berada dalam lingkungan komunitas yang suka saling berkunjung. Silaturahim. Membangun ikatan persaudaraan. Saling menengok ketika ada yang sakit. Saling mendoakan ketika ada yang ditimpa musibah. Saling memaafkan ketika ada kesalahpahaman. Yang pada gilirannya bermakna membangun jejaring bisnis, jejaring pertemanan, jejaring informasi. Yang selanjutnya akan membuka pintu-pintu kemudahan. Kemudian mendatangkan rizki yang berkelimpahan. Menyaksikan janji Rasulullah bekerja dengan baik.
Alhamdulillah, ya Rabb…..
Teguhkan kami dalam kedudukan yang kokoh di jalan-Mu.
Pertajam kepekaan kami dalam menangkap peluang usaha dalam koridor keridhaan-Mu.
Luruskan niat kami dalam berbagi….
Luruskan niat kami dalam bersilaturahim….
Luruskan niat kami dalam bersinergi…
Cukupkan kami sehingga kami mandiri….
Cukupkan kami sehingga kami bisa membantu tetangga kami yang baru di PHK……
Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji diri sendiri……
Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji karyawan kami.....
Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji karyawan kami dengan layak …..
Sehingga kesejahteraan ada pada diri kami, keluarga kami, karyawan kami, masyarakat kami, kampong kami, dan negeri kami……
Amiiin…….
Kamis, Juni 11, 2009
PANGGILAN ITU….

Panggilan Allah itu untuk kebaikan kita. Jangan sampai kita direject oleh masyarakat yang kemudian melemparkan kita ke dalam ruang-ruang inkubasi atau bahkan tempat sampah karena penyimpangan yang terjadi dari perbuatan tangan-tangan kita. Karena kita enggan memenuhi panggilannya.
Kalau kita menghendaki produk kita berkualitas dengan melakukan pengawasan kualitas yang ketat, kenapa kita tak mau menjadi produk Allah yang berkualitas dengan tunduk pasrah mematuhi perangkat quality control yang ditetapkan-Nya?
Cikarang Baru, 11 June 2009
Senin, Mei 18, 2009
Jangan sampai tangan kirimu tahu!
Kurang lebih itulah gambaran orang yang ikhlas bersedekah. Tangan kanan memberi, tangan kirinyapun tak tahu. Kalau tangan kirinya saja tak tahu apatah lagi orang di sekitarnya.
Ada sebuah cerita nyata, seorang Ustadz mendapatkan amplop ketika selesai berceramah. Sambil berbasa-basi seorang pengurus masjid telah memasukkan amplop itu ke dalam kantong baju koko sang Ustadz. Tapi sang Ustadz menolaknya. “Wah, apa ini, tak usahlah…” Karena pengurus masjid itu memaksanya maka sang Ustadz mengatakan “Sudahlah… untuk dana masjid saja.” Katanya sambil mengembalikan amplop itu ke kantong baju koko Pak pengurus masjid itu.
Saya merenungkan kejadian itu. Lalu teringat gambaran keikhlasan di atas.
Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Artinya tangan kanan tetap tahu berapa jumlah yang disedekahkan. Tapi kini, dalam kisah di atas, jangankan tangan kiri, tangan kanan sang Ustadz pun tak tahu berapa yang disedekahkan kepada masjid dari hasil ceramahnya itu. Karena Sang Ustadz tak sempat membuka amplopnya.
Saya membuat simulasi asal-asalan, bagaimana jika amplop itu diterima dulu?
Lalu saya berandai-andai:
1. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan tetap mensedekahkan seluruhnya. Tapi dia akan ‘dihantui’ perasaan bahwa hari ini dia telah bersedekah sekian ribu ke masjid. Perasaan ini sering membawa kepada penyakit hati. Ada rasa ujub, menyanjung dirinya sendiri, meskipun tak tampak oleh orang lain.
2. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan mensedekahkan separohnya karena ternyata jumlahnya cukup besar. Dia akan segera teringat bahwa persediaan susu anaknya sudah habis. Dan separoh honornya itu bisa untuk membeli susu anaknya.
3. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan berfikir beberapa kali untuk bersedekah. Berarti dia menunda sedekahnya. Dalam masa jeda itu akan muncul bisikan agar dia menerima saja honornya itu, toh ilmu yang disampaikannya nilainya sebenarnya lebih besar dari pada honor yang diterima saat itu.
4. ……….
Astaghfirullah… saya stop saja tulisan ini, karena tak mau berandai-andai yang berujung pada prasangka buruk yang ternyata tak pernah terjadi. Toh sang Ustadz sudah menginfakkan semua honornya tanpa pernah tahu berapa jumlahnya.
Sebuah keikhlasan yang insya Allah, menjadi tambahan tabungannya yang setiap saat dapat dicairkan dalam jumlah yang berlipat ganda di dunia ini atau pahala yang tak ternilai di akhirat kelak.
Subhanallah…. Jangankan tangan kirinya, tangan kanannyapun tak tahu….
Cikarang Baru, 17 Mei 2009 (Cha)
Minggu, Mei 17, 2009
Kasih Tak Berbalas
Itulah kasih sayang Ibu kita. Benar-benar tak berbalas. Seberapa besar kita berbaktipun. Saat seorang sahabat kesana kemari menggendong Ibunya yang sudah jompo, Rasulullah mengatakan bahwa itu belum bisa membalas jasa Ibunya.
Astaghfirullah…
Lalu bagaimana aku, yang selama ini tidak pernah melakukan itu? Kalau hanya tegur sapa melalui sms, telepon, atau kunjungan pulang kampong, tiket pesawat dan materi lainnya itu tak pernah dibahas oleh Rasullullah, artinya itu masih kecil. Maka betapa GR-nya aku ketika merasa cukup berbakti dengan melakukan itu saja.
Benar-benar tak bakalan berbalas….
Apalagi ketika kita mau sedikit saja membalasnya Ibu menolaknya. Katanya tak mau merepotkan anak-anaknya. Saya iri ketika mendengar seorang teman memberikana kamar utamanya kepada Ibunya ketika Ibunya berkunjung ke rumahnya. Dan dia cukup tidur di sofa saja. Ketika saya coba menawarkan hal yang sama, Ibuku menolaknya. Dia memilih kamar anakku yang luasnya hanya separo ukuran kamarku.
Ketika pagi-pagi aku menawari membuatkan minuman, Ibu menolaknya dengan mengatakan “biar Ibu bikin sendiri nanti.” Saya tahu Ibu suka minum teh atau kopi panas-panas. Kalau saya nekat menyiapkannya juga, sedangkan beliau sekarang belum mau minum, pasti nanti dingin.
Setiap pagi Mbak tukang cuci datang jam setengah enam. Langsung dia mencuci baju kotor yang sudah ada di bak cucian. Sekitar jam delapan, aku mendengar Ibu di belakang mencuci sendiri baju-bajunya. Ketika aku tanya, kenapa tidak sama-sama dicucikan mbak, jawabnya “kasihan dia kerjaannya jadi nambah… ini juga cuma dikit kok.”
Ya, benar-benar tak bakalan berbalas….
Seakan kita tak punya kesempatan membalasnya. Sementara Ibu terus mengalirkan kebaikannya kepada kita. Ketika istriku sakit dan harus berobat jalan ke rumah sakit di Bekasi dan Jakarta, beliau beberapa kali menemani istriku, karena ada kerjaan rutin. Ketika aku melepas beliau pergi, aku mencium tangannya, megucapkan terima kasih sambil minta maaf sudah segede ini masih merepotkannya saja. Apa jawaban beliau?
“Doakan saja Ibu sehat dan kuat…” permintaan yang sederhana. Dan saya tahu jika Ibu diberi Allah kesehatan dan kekuatan, pasti digunakannya lagi untuk berda’wah di masyarakat, menengok anak cucunya dan menebarkan lagi kebaikan di mana-mana….
Ya, Allah, benar-benar aku tak mampu membalasnya….
Ketika anakku yang ketiga berulang tahun. Dia merayu neneknya. Saya tahu Ibu selama ini tak pernah merayakan ulang tahunnya atau anak-anaknya, maka demikian pula aku terhadap anak-anakku.
Tapi kini beliau takluk terhadap rengekan anakku.
“Cuma kasih makanan kecil ke teman semobil jemputan dan beberapa teman di kelas.” kata anakku. Maka malam menjelang hari ulang tahun itu, saya lihat Ibu bersama anakku pulang dari minimarket dekat rumah membawa makanan dan minuman lalu dibungkus plastic untuk dibagi-bagikan kepada teman-teman anakku besok.
Skor ku makin jauh saja tertinggal.
Ketika anakku yang di pesantren menelpon minta dikirimi makanan dan jas hujan, Ibuku mendengarnya. Malamnya sudah ada beberapa barang keperluan mandi untuk diselipkan ke dalam paket. Plus amplop berisi uang.
Aduuuh makin jauh saja aku tertinggal, sementara akau tak ada kesempatan untuk membalasnya.
Ketika musim hujan, air meluap melalui bak kontrol sehingga membanjiri kamar dan dapurku. Melihat hal ini Ibu cepat bergerak. Sambil minta izin kepadaku untuk membuatkan tanggul agar air tidak masuk ke ruang tamu dan kamar-kamar di sekitarnya. Beliau membuat tanggul dengan tangannya sendiri! Semen, pasir, dan batu bata serta potongan keramik sudah siap. Wal hasil, tanggul buatannya benar-benar bermanfaat. Aku tak lagi kelabakan ketika banjir datang. Ketika ini kuceritakan kepada Ibu, beliau tertawa senang. Ada kegembiraan yang menyembul dibalik tawanya karena bisa terus berbuat apapun demi anak-anaknya.
Gagal membalas kasih sayangnya, maka setiap selesai sholat aku hanya membalasnya dengan melibatkan kasih sayang Allah. Karena Rahman dan Rahim Allah sajalah yang bakal mengalahkan kasih sayang Ibu….. dengan sebuah baris doa:
“Allah Ya Allah, sayangilah dia sebagaimana dia selalu menyayangi kami sejak kami kecil sampai aku setua ini."
Awal bulan ini beliau pulang ke Surabaya. Saya sempat menawarkan kepadanya agar tinggal saja di Cikarang. Rumah di Surabaya dijual saja untuk dibelikan rumah di Cikarang. Jawabnya, “Ibu malah wanti-wanti jangan pernah menjual rumah yang di Surabaya. Kita orang Surabaya masak tidak punya rumah di sana.” Ini adalah jawaban romantisme kampong halaman yang bisa dimaklumi. Lalu beliau melanjutkan, “Lagian kalau di sini Ibu seperti pensiunan yang tak berguna. Cuma makan tidur saja.” Semangat berbaginya kepada masyarakat sekitarnya tak pernah pudar.
Masih sangat banyak lagi kasih sayang Ibu kepada ku, yang tak mampu aku menuliskannya semuanya saat ini. Suatu saat nanti aku akan menuliskannya menjadi sebuah buku.
Sayup terdengar nyayian pendek di lorong-lorong hatiku…..
Lima baris yang berisi lengkap gambaran seorang Ibu..
Kasih Ibu sepanjang beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia
Cikarang Baru, 17 Mei 2009


