Tampilkan postingan dengan label Tulisan Tamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Tamu. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 04, 2008

Enterpreneur Zuhud

Cak Eko, trima kasih atas do'anya untuk ayah saya. Cak Eko ini menurut saya adalah pengusaha sukses yang zuhud. Siapalah saya ini sehingga beliaupun mau menyapa saya. Saya juga gak tahu blog saya dicantumkan di sebuah buku orang lain. Tapi tegur sapanya menyemangati saya untuk terus mencari jalan kesuksesan itu.

Sebagai apresiasi terhadap kezuhudannya, saya kutip tulisannya dari blognya juragan bakso Malang Kota ini:

Alangkah Indahnya Mengikuti Kebiasaan Entrepreneur Sukses Yang Zuhud (Rendah Hati)

Kesuksesan merupakan dambaan, keinginan dan impian setiap manusia di dunia ini. Segala daya upaya akan dijalankan untuk meraih kesuksesan tersebut. Walau ukuran sukses bagi setiap orang berbeda-beda tapi pada intinya semua orang pasti ingin sukses.

Guru besar di Amerika David C. Mc Clelland yang mendalami perjalanan orang-orang sukses di dunia mengatakan bahwa mereka yang sukses adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti mencoba, sekalipun harus dan sering mengalami kegagalan.

Bagi Anda yang ingin sukses, coba ikuti apa saja yang dilakukan oleh orang-orang sukses yang berupaya untuk Zuhud berikut ini :

1. Orang sukses yang Zuhud selalu percaya diri dan ingin memainkan peranan penting serta sesuatu demi kemaslahatan umat. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilannya masing-masing dan menyadari bahwa keterampilan inti tersebut juga memberikan nilai pada keterampilan yang lain. Mereka sadar bahwa karya terbaik akan menghasilkan kompensasi/hasil yang baik pula.

2. Orang sukses yang Zuhud tidak takut mengambil risiko. Mereka berusaha untuk menggapai mimpinya dengan melakukan penghematan, membangun jaringan/komunitas dengan banyak orang serta lincah dalam mencoba sesuatu yang dianggap baru untuk mengikuti perkembangan trend.

3. Orang sukses yang Zuhud selalu menikmati apa yang dikerjakan. Mereka selalu melihat pekerjaan adalah sebuah hobi sekaligus kesenangan. Mereka juga memilih pekerjaan yang dapat membangkitkan semangat juang dalam menghadapi tantangan.

4. Orang sukses yang Zuhud tidak pernah berhenti belajar karena mereka menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak aka nada habisnya walau terus digali dan digali.

5. Orang sukses yang Zuhud tidak pernah berpandangan negative terhadap apa yang dilakukan/dikerjakan. Mereka mampu menyemangati diri sendiri untuk meraih kesuksesan, karena pada umumnya orang sukses punya cara tersendiri untuk memotivasi dirinya untuk terus dan terus berkarya.

6. Orang sukses yang Zuhud, tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan pekerjaan dan mempunyai semangat luar biasa serta cerdik dalam memanfaatkan segenap waktu & kemampuannya dalam menggapai kesuksesan.

Salam Sukses Selalu
Cak Eko
www.cakeko.co.nr

Rabu, November 14, 2007

Mahalnya Nilai Sholat


Sering kita cepat terpanggil oleh azdan. Begitu azdan dikumandangkan kita cepat berangkat ke Masjid dan shalat. Masalahnya bagaimana jika tidak ada Masjid di sekitar kita. Bahkan tidak ada adzan. Berikut tulisan teman saya Ardiansyah Kimiawan yang saya pulung dari mailbox saya atas izinnya:

Shalat ?? ya tinggal shalat, apa susahnya. Kalau anda naik mobil, cari masjid di pinggir jalan, minggirkan mobil, lalu shalat. Kalau anda sedang berjalan-jalan, di mall megah sekali-pun, anda tinggal tanya ke satpam, lalu (biasanya) meluncur ke basement, ambil air wudhu, langsung Shalat.

Tapi bagi teman saya yang pekerjaannya travelling ke negara2 ( yang sebagian besar bukan negara komunitas muslim ) maka Shalat menjadi sebuah barang mewah, dan memerlukan perjuangan yang besar.
Untuk mengetahui waktu shalat, dengan bantuan teknologi, tidak ada masalah. tetapi ketika hendak melaksanakan shalat, masalah mulai muncul. Sebagai seorang yang sedang bekerja, bukan wisatawan, jam-jam shalat kadangkala bertepatan dengan waktu dia harus presentasi di depan klien, atau sedang menghadiri rapat, atau malah kadang sedang dijamu oleh kliennya. Jadi seringkali waktu shalatnya digabung ( di jama').
Kerepotan ditambah saat hendak berwudhu. Banyak toilet di negara maju yang menggunakan sistem toilet kering, jadi jangan sampai anda membayangkan ada bak mandi plus gayung tersedia. Akhirnya westafel pun jadi sasaran. Dan sudah pernah dia tegur satpam gara-gara menaikkan kakinya ke westafel saat membasuh kaki.
Lalu yang terakhir, tempat untuk shalat. Memang sang teman biasa bawa sajadah, tapi mau shalat dimana ? Kadang ada pojokan, tapi kotor. Yang rada bersih, penuh orang berlalu lalang. Benar-benar susah, sampai-sampai andalan terakhir bila memang tidak menemukan tempat shalat adalah shalat di Hotel pada malam harinya.
"Mungkin bila seminggu sekali-dua kali, saya masih bisa menghibur diri, pasti Allah akan mengerti. Tapi kalau setiap hari saya menghadapi hal ini, tentu saya jadi berpikir, impaskah ditukark akhirat-ku dengan urusan duniawi begini." Keluhnya sambil memandang sepiring nasi padang, saat kami bertemu di Jakarta.
Ketika hendak berpisah, sambil menjabat erat tangan saya, sang teman berkata."Shalat sangat mudah disini, nikmatilah, reguk-lah sepuas-puasnya. Jangan abaikan kenikmatan ini, sungguh kita baru akan sadar akan suatu rahmat bila rahmat itu sudah tidak kita temukan lagi.!"
Insya Allah, bisik saya. Betapa terbukanya mata saya betapa kita amat sangat dimanja. Adzan dari masjid atau TV akan mengingatkan kita akan waktu shalat, dengan mudah kita bisa bergegas ke masjid atau mushala, bahkan di waktu kerja pun, atasan ( non muslim sekalipun ) tidak berani melarang kita shalat, benar-benar sebuah kemewahan bagi saudara-saudara kita yang tidak tinggal di negara Muslim.

Sayangnya kita seringkali mengabaikan kemewahan yang kita punya.
Cikarang, 10 agustus 2007

Sabtu, September 15, 2007

Para Jundi Cilik Negeri Sakura

Oleh: Lizsa Anggraeny

Namanya Ibrahim, berumur kira-kira 4 tahun. Lahir dari pasangan muslim Pakistan dan muslimah Jepang. Jika ditanya cita-cita "Kalau sudah besar mau jadi apa?" Jawaban tegasnya selalu membuat bulu tangan berdiri. "Okikunattara Masjidil Haram no Imam ni naritai ! (Kalau sudah besar pengen jadi Imam di Masjidil Haram!). " Di usianya yang masih belia, Ibrahim hapal hampir seluruh juz ke-30 Al-Quran. Sebuah prestasi yang menggembirakan bagi seorang anak yang dididik dalam lingkungan negeri yang tidak mengenal agama seperti Jepang.

Namanya Ismail, berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Lahir daripasangan muslim Afrika dan muslimah Jepang. Jika ditanya tentang cita-cita, jawabannya akan polos terdengar. "Okikunattara suika ni naritai (Kalau sudah besar ingin jadi buah semangka)" Jawaban khas anak kecil yang mungkin akan membuat orang dewasa tersenyum geli. Namun tidak begitu jika ditanya "Ismail orang mana?" Sosok kecilnya akan tegas menjawab "Boku wa Isuramu jin da yo (Aku orang Islam). " Sosok kecil Ismail mungkin belum mengenal nama-nama negara di dunia, yang ia tahu hanyalah kebangaan menjadi orang Islam – seorang anak muslim yang lahir di negeri sakura.

Tidak hanya Ibrahim dan Ismail, ada si kecil yang bernama Aisha, Nurjanah, Sahar, Samar, Hasan, Jibril, Thalhah serta beberapa jundi cilik lainnya yang tinggal di negeri sakura. Umumnya mereka terlahir dari pasangan campuran muslim asing dengan muslim Jepang. Tidak seperti anak-anak muslim di Indonesia, mungkin mereka jarang sekali mendengarkan adzan di masjid, tidak bisa sering berkumpul dengan sesama anak muslim lainnya, sulit mendapatkan buku cerita anak tentang Islam serta kurang memiliki lingkungan kondusif untuk belajar agama.

Dengan kondisi seperti ini, tidak salah jika para orang tua mereka begitu giat ingin menanamkan jiwa mencintai Allah dan Rasulullah saw sejak masih dalam buaian. Setiap dua pekan sekali ataupun dalam acara khusus, saya memiliki kesempatan bertemu dengan para jundi ini di sebuah masjid di sekitar kawasan Tokyo. Jarak perjalanan yang jauh sepertinya tidak menjadi halangan. Semata semua dilakukan untuk menambah 'charge' ruhaninya tentang Islam.

Dalam keterbatasan waktu dan ruang, para jundi cilik ini tetap memiliki semangat. Mengikuti dengan mimik serius setiap mendengarkan cerita shirah nabawi ataupun sahabat, tertawa-tawa riang ketika diajarkan huruf hijaiyah dengan permainan kotak dadu, serta kadang terbata-bata berusaha menghapalkan setiap untaian ayat, surat-surat ataupun doa-doa pendek yang dilantunkan bersama di antara kelincahannya sebagai anak-anak. Tak berlebihan rasanya, jika melihat sosok mungilnya yang ceria dengan semangat menyala, ingatan saya selalu melompat pada beberapa cerita tentang para pahlawan cilik di masa Rasulullah saw.

Rafi bin Khudaij pemanah cilik ulung yang pernah ikut dalam jihad di Uhud. Zaid bin Tsabit dalam usianya yang masih belia, diberi kehormatan membawa bendera pasukan muslim saat perang Tabuk karena memiliki hapalan Qur`an yang baik. Salamah bin Akwa yang tekenal sebagai pelari cilik tercepat hingga dapat menahan para perampok unta-unta Rasulullah saw dengan teknik berlarinya. Aisyah binti As-Shiddiq gadis cilik cerdas banyak mengetahui tentang Al-Qur`an, hadits, ataupun syair. Pahlawan cilik yang dalam usia belia, begitu bangga dengan izzah sebagai muslim. Dengan gagah berani membela Islam. Memerangi kezaliman dengan kecerdasan dan keahlian, meski terkadang musuh yang dihadang lebih besar daripada badanya.

Para jundi negeri sakura, mungkin belum tahu tentang cerita kehebatan para pahlawan cilik di atas. Dan mungkin pula kehebatan para jundi negeri sakura belum sebanding dengan para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Namun tak berlebihan jika para orang tua termasuk saya, memiliki harapan yang sama. Bahwa para jundi cilik tersebut suatu saat akan menjadi pahlawan pembela Islam di negeri sakura. Dalam jiwa kecilnya, akan tumbuh kebanggaan menjadi seorang muslim. Dapat gagah berani membela Islam. Memiliki sikap tegas berjuang melawan kezaliman berupa serangan pemikiran barat. Tidak terimbas oleh lingkungan sekuler yang siap menghancurkan mutiara imannya.

Perlahan tapi pasti, jundi-jundi cilik di negeri sakura akan tumbuh menjadi generasi yang berjiwa kuat seperti para pahlawan cilik di zaman Rasulullah saw. Mereka akan menjadipenegak panji Allah swt. Yang selalu bangga mengatakan "Saya adalah muslim. " Yang dapat meluaskan syiar Islam hingga semakin menyebar dan kokoh tegak di bumi sakura. Insya Allah.

Yakumo -Sepenggal catatan aishliz et FLP Jepang –

Sebuah cerita menarik, dari Eramuslim, 6 Sep 07 12:54 WIB, untuk menyemangati kita menyiapkan pula anak-anak kita menjadi penerus da’wah di Indonesia.