Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Desember 27, 2008

Haji, Kamu Mampu!

Oleh: Choirul Asyhar

Teman-teman yang sebulan lalu berangkat haji kini sudah bersiap siap pulang. Wow, pasti mereka senang sekali sebentar lagi bertemu keluarga dan kerabat di tanah air. Selain melepas rindu, mereka juga senang karena telah selesai melaksanakn rukun Islam ke lima ini. Wow, senang sekali menjadi orang yang berkemampuan menunaikan ibadah haji ini.

Ya, rukun Islam yang kelima adalah "melaksanakan ibadah haji jika mampu".

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)


Membaca hadist di atas ada dua cara orang membacanya:
Pertama, "karena saya belum mampu maka saya tidak wajib melaksanakan ibadah haji." Nanti kalau saya mampu maka saya dikenai kewajiban haji itu. Sekarang belum. Ada ‘rukhsyah’ untuk tidak melaksanakannya karena saya masih belum berkemampuan.
Jika membacanya demikian, maka akan muncul permakluman-permakluman diri yang lain. Seperti:
“Saya kan cuma buruh pabrik, mana mungkin bisa melaksanakan haji. Setiap bulan gaji pas-pasan untuk hidup, sekolah anak-anak dan lain-lain kebutuhan rumah tangga.”

Atau “Saya masih banyak hutang. Setiap bulan harus bayar angsuran rumah, motor, hape, panci, karpet, dan lain-lain.”

Atau pula “Kayaknya harus dapat rejeki nomplok nih, baru saya bisa naik haji.”
Atau “Pokoknya kalau dapat undian berhadiah mobil saya akan jual untuk ongkos naik haji.”

Ada juga, “wah, mana mungkin? Saya tidak punya sawah untuk dijual bakal ONH.”

Kalau terus didengarkan makin banyak lagi alasan-alasan yang justru melemahkan diri untuk justru menjadikannya orang yang tidak mampu berhaji. Padahal kalau ditanya mau nggak sih dia haji, pasti jawabannya “Mau dong, siapa yang nggak pengen?”

Pengen adalah cita-cita. Cita-cita adalah dream. Anak kecil jika ingin mainan bisa termimpi-mimpi untuk mendapatkannya. Sampai tidurnya mengigau menyebut-nyebut nama mainan itu. Ketika bangun tidur, merengek lagi kepada ayah ibunya agar dibelikan mainan itu.

Kalau kita pengen haji, mestinya juga demikian. Termimpi-mimpi saat tidur, lalu bekerja keras saat terbangun. Demi tercapainya cita-cita itu. Bukan sebaliknya melemahkan diri kedalam ketidakmampuan itu. Jika demikian, maka benarlah bahwa keinginannya untuk berhaji tak bakal terwujud karena dia selalu menenggelamkan dirinya dalam kelompok orang yang tak mampu. Sehingga tidak perlu pergi haji.

Itu adalah cara pertama. Bagaimana dengan cara kedua membaca hadis itu?
“Ini adalah rukun Islam, saya harus jadi orang mampu. Agar saya bisa berhaji!”
“Rukhsah bagi yang tak mampu itu, biar untuk orang lain saja. Saya harus mampu!”

Lalu targetkan kapan bisa naik haji. Kalau untuk rumah seharga 50 juta berani mencicil 10-15 tahun, kenapa tidak mencoba mencicil ONH? Ayo, ambil kalkulator. Masukkan angka 70 juta untuk ongkos haji suami-istri 10 tahun yang akan dating. Bagi dengan 10, maka itu berarti kita harus menabung 7 juta per tahun. Bagi lagi dengan 12. Itu berarti kita harus menyisihkan Rp. 584 ribu per bulan. Jika gaji kita 3 juta per bulan berarti dengan menyisihkan 20% setiap bulan, kita akan berkemampuan berhaji tahun 2018 nanti. Sambil berdoa semoga nilai rupiah tidak terus terdepresiasi terhadap dollar.

Kalau nilai ini dianggap terlalu besar, mari kita bikin urutan prioritas pengeluaran bulanan. Coret yang tidak perlu. Coret yang tidak akan membuat kita mati tanpanya. Coret yang justru membuat kita sakit jasmani dan rohani. Apa yang masuk criteria itu?
Banyak. Misalnya rokok yang merusak jasmani kita. Bioskop yang merusak kantong dan rohani kita. Jalan-jalan ke mall yang menyuburkan sifat konsumerisme dan hedonisme. Kurangi jajan, karena istri telah memasak di rumah. Kurangi jajan hanya karena hobbi. Misalnya makan bakso atau duren. Jadikan makan karena butuh, bukan karena nafsu. Kurangi memanjakan anak dengan jajanan tak bergizi dan menyuburkan penyakit. Yang menyebabkan biaya pengobatan membengkak dan tak dikover asuransi.

Kalau istiqomah dan terus berdoa kepada Allah niscaya Allah akan menguatkan niat kita menuju berkemampuan itu.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbbaik
Innal hamda wanni’mata
Laka walmulk
Laa syariikalak.

Cikarang Baru, 28 Dhulhijjah 2008/26 Desember 2008

Sabtu, November 29, 2008

Niat Haji

Setiap hari mendengar, membaca dan menonton jurnal haji di radio, koran dan TV, saya membayangkan betapa nikmatnya menjalani rukun Islam ke-5 ini. Kisah-kisah spiritual yang mencerahkan selalu menjadi oleh-oleh teman-teman saudara seiman yang pulang dari tanah suci. Ini semakin menyemangati kita untuk bersegera memenuhi panggilan-Nya.

Apalagi banyak anggapan, keislaman kita akan sempurna jika telah melaksanakan ibadah Haji. Karena itu cita-cita berhaji adalah cita-cita yang wajar ada dalam diri setiap muslim. Justru tidak wajar jika ada muslim yang tidak berkeinginan menunaikan ibadah Haji. Tapi karena besarnya biaya dan beratnya medan maka Rasulullah mengatakan bahwa Haji hanya wajib bagi yang mampu. Yang tidak mampu tidak diwajibkan bersusah payah menunaikan ibadah ini. Ibadah yang menuntut persiapan mal (harta), ruhi (keimanan) dan jasadi (badan).

Dari Umar bin Khottob r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Islam adalah engkau bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, shaum Ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu.
(HR. Muslim)

Dari segi biaya, tidak ada yang memungkiri tingginya biaya menunaikan ibadah Haji. Sekitar USD 2.500 – 3.000 harus disiapkan oleh setiap orang yang hendak berhaji. Jika berangkat suami-istri tinggal dikalikan dua saja. Belum termasuk biaya bagi keluarga yang ditinggalkan, biaya bimbingan haji, transportasi dalam mengurusi tetek bengek, kain ihrom, bekal pakaian, makanan dan sebagaianya.

Yang paling besar, dan sering dianggap sebagai factor ketidak mampuan adalah ongkos naik haji atau biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang sekitar USD 2.500 – 3.000 atau sekitar 25 – 30 juta rupiah itu. Maka tak heran jika sering kita dengar dialog seperti ini:

“Enak ya, bisa naik haji?”
”Pingin naik Haji?”
“Tentu, dong”
“Kapan berangkat?”
“Ya, saya kan cuma buruh. Nanti kali, kalau dapat rejeki nomplok!”.

Ya, bagi kebanyakan kita yang menggantungkan hidup sebagai karyawan, dengan kerja lembur akan mendapatkan 3 – 4 juta per bulan. Maka pergi haji bagai burung pungguk merindukan bulan. Maka pergi haji ke tanah suci sering hanya jadi sekedar niat suci saja.

Demikian juga yang saya alami. Niat dan kemauan ada sejak 15 tahun yang lalu. Tapi rezeki nomplok tak kunjung datang. Bahkan dengan perhitungan saya, seakan tak mungkin bisa pergi haji. Untuk nafkah keluarga yang terdiri dari satu istri dan 4 anak, gaji jadi pas-pasan. Paling-paling tambahannya THR yang habis untuk biaya mudik. Bonus tahunan tak kunjung ada. Ketika pindah kerja ke tempat yang menurut saya lebih baik, ternyata bonus tahunan nilainya cuma sekali gaji. Warisan? Nggak ada. Maka yang ada hanya pasrah. Nunggu panggilan Nabi Ibrahim. Paling banter minta do’a kepada tetangga yang berangkat haji, agar nama saya segera dipanggil ke sana. [hj] - bersambung ke http://lintasankatahati.blogspot.com/2007/12/niat-saja-tak-cukup.html

Sabtu, Desember 08, 2007

Niat Saja Tak Cukup

Hari ini, 8 Desember 2007, beberapa teman di kompleks perumahan kami termasuk Pak Afrizal, Pak Syawal dan istri, Pak Jefri dan istri, berangkat menuju asrama haji. Saya terbayang pasti mereka punya perencanaan sekecil apapun beberapa tahun yang lalu untuk menjadikan niatnya berangkat haji, insya Allah, terwujud hari ini.
Karena niat saja tidak cukup!
Berikut ini tulisan untuk menyemangati teman-teman yang ingin berhaji tapi belum dibarengi tindakan nyata untuk mewujudkannya.


Niat Saja Tidak Cukup

Ternyata niat saja tidak cukup। Harus ada ikhtiar. Usaha. Usaha apa yang bisa dilakukan oleh buruh seperti saya dan guru seperti istri saya? Menabung saja. Menyisihkan uang gaji untuk ditabung. Dan ternyata ini juga yang dilakukan oleh petani, pemulung, atau pedagang kecil di kampung saya.

Teringat oleh saya cerita Nenek Allahuyarham. Bahwa ada teman jamaah haji yang berangkat bersama Nenek dan Kakek tahun 70-an, yang ternyata adalah seorang pemungut puntung rokok. Ada pengusaha biting, yaitu lidi yang dipakai untuk memincuk daun sebagai pengganti piring para penjual bubur. Mereka menabung uang sedikit demi sedikit dalam kaleng susu. Sehingga terkumpul berpuluh-puluh atau beratus-ratus kaleng. Entah berapa puluh tahun sampai terkumpul uang ongkos naik haji.
Ada juga yang menabung uangnya ke tiang-tiang bamboo di rumahnya. Suatu usaha yang keras untuk merealisasikan sebuah niat.

Tapi apa yang sudah kami lakukan?
Belum ada. Hanya niat saja.

Maka merenungi hal ini, tahun 90-an saya mendatangi sebuah bank yang membuka produk baru saat itu, yaitu tabungan haji. Saya tertarik dengan iklannya yang terpampang di spanduk, yang kurang lebih bunyinya: “Kami akan wujudnya niat suci Anda.” Wow, niat saya pasti terwujud dengan membuka tabungan haji. Hebat.
Maka saya masuk ke Bank tersebut menemui customer service-nya untuk mengetahui bagaimana niat saya bisa terwujud. Di kepala saya yang terbayang adalah jalan pintas untuk mewujudkan niat saya. Dan Bank membantu saya melalui jalur cepat itu.
Ternyata jawabannya adalah, Anda cukup menabung sejumlah tertentu dan tidak boleh diambil sampai terkumpul senilai biaya perjalanan ibadah haji, yang waktu itu disebut ONH (ongkis naik haji). Semakin banyak uang yang ditabung setiap bulan semakin cepat niat Anda terwujud.
“Lha?” itu mah bisa saya lakukan di jenis tabungan apa saja. Termasuk juga nabung di rumah. Asal jangan diambil pasti terkumpul. Asal nabungnya banyak pasti cepat tercapai cita-cita saya. Saya merasa kenapa harus buka rekening baru, kalau saya sudah punya rekening tabungan lain di bank. Yang penting niatnya. Maka sayapun keluar dari bank, tidak jadi membuka rekening tabungan haji.
Sampai suatu hari di tahun 1998 atau 1999-an saya dikejutkan oleh telepon seorang teman yang dulu pernah sekantor. Saya terkejut sekaligus terharu dengan kabar yang dibawanya. Bahwa dia dan istri akan berangkat haji tahun ini. Subhanallah. Dengan gembira saya menyambutnya dan mendo’akan dengan tulus agar semua berjalan lancar; dan dia beserta istri menjadi haji mabrur. Lalu kami bertanya bagaimana dia bisa dapat rejeki nomplok ini? Ternyata jawabnya adalah dengan tabungan haji yang telah dibukanya beberapa tahun yang lalu.
Maya Allah. Saya terhenyak! Kalau saya dulu tahun 1990-an jadi membuka tabungan haji, mungkin sekarang saya juga akan terbang ke tanah suci. Sedangkan sekarang, tabungan yang saya punya karena bebas di tarik setor di mana saja tak kunjung terkumpul untuk ongkos naik haji.
Ternyata niat saja tidak cukup. Harus disertai dengan perencanaan yang matang dan komitmen untuk mencapainya. Salah satunya dengan menabung rutin dan tidak menariknya sampai terkumpul senilai biaya naik haji. Terbayang teman Nenek Allahuyarham. Kalau dia tarik setor seenaknya ke dalam tiang bamboo rumahnya berapa kali dia harus ganti tiang bambunya, sementara itu tak kunjung terkumpul uang ongkos naik hajinya.

Selasa, Desember 04, 2007

Di Atap Bis Antara Mina-Makkah


Sejak berangkat dari tanah air saya dan istri berketetapan hati untuk melaksanakan haji sebagaimana tata cara ibadah (manasik) haji yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah menuju Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah, sementara rombongan KBIH kami langsung menuju Arafah.

Tetapi ternyata tidak mudah. Untuk jamaah Indonesia, Pemerintah Arab Saudi hanya menyediakan bis sesuai dengan route yang diminta oleh Depag RI. Dalam hal ini bis yang disiapkan adalah langsung menuju Arafah. Demikian penjelasan petugas haji pemerintah SA yang masih keturunan Indonesia dan beristri gadis Surabaya itu. Meskipun demikian karena kami berenam (tiga pasangan suami istri), petugas berjanji menyediakan satu mobil untuk mengantar kami ke Mina. Syukurlah.

Dengan perkiraan matang, kami berpamitan kepada pimpinan KBIH. Pimpinan mewanti-wanti jangan sampai mengejar sunnah mabit di Mina pada hari tarwiyyah tapi gagal wuquf di Arafah. Kami optimis. Bismillah. Maka kami berihrom setelah dhuha. Targetnya bisa shalat qasar Dhuhur, Asar , Magrib dan Isya’ juga di Mina tanpa jama’. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah.

Tapi sampai ba’da dzuhur kami masih di Makkah. Mobil yang dijanjikan tak kunjung tiba. Maka kami melaksanakan sholat jama qasar Dzuhur dan Asar di Makkah. Lalu berangkat ke Mina menggunakan mobil omprengan yang banyak beroperasi di SA. Sebuah mobil minibus, yang tak begitu bagus lagi. Tapi taripnya 20 riyal perorang! Tarip yang fantastis mahalnya untuk jarak Makah-Mina yang hanya 10 km yang biasanya hanya 3 riyal.

Alhamdulillah, menjelang sore hari kami tiba di Mina. Hanya berbekal semangat, kami minta sopir menghentikan mobilnya. Lalu kami turun di atas sebuah jembatan. Di mana kami bisa melihat banyak tenda berbendera Merah Putih di bawah sana. Maka kesanalah tujuan kami. Sambil menyeret trolley kami masing-masing, kami mengikuti jalan menurun menuju tenda-tenda itu. Ternyata setelah kesulitan ada kemudahan. Dan kemudahan yang kami jumpai adalah ternyata kami turun mobil di tempat yang tepat! Karena di bawah sana ada tenda-tenda maktab kami. Bahkan tenda untuk rombongan KBIH kami pun kami temukan dengan mudah. Lalu kami menggelar sajadah kami. Bersiap melaksanakan shalat Magrib yang sebentar lagi masuk.

Demikian sampai keesokan harinya ba’da dhuha kami berencana berangkat menuju Arafah. Karena wuquf di Arafah dimulai dengan shalat dzuhur dan ashar yang di jama’ ta’dim dan qasar. Alhamdulillah sekali lagi Allah memberi kemudahan. Ternyata pemerintah SA telah menyiapkan bis yang terus bergerak menyisir jamaah yang masih berada di Mina menuju Arafah. Dan kami berenam masuk ke dalam bis jamaah dari Bandung, yang juga melaksanakan mabit di Mina sejak tanggal 8 kemarin. Wal hasil jam 9.00 kami sudah masuk Arafah. Dan sopir berbaik hati mengantarkan kami ke perkemahan maktab kami. Subhanallah. Allah memberikan banyak kemudahan dalam kami.

Tekat kami terus tak pupus untuk mengikuti napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW. Kami bertekad segera meninggalkan Mina setelah melaksanakan jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah untuk melaksanakan thawaf ifadah. Dan hari itu juga harus kembali ke Mina sampai tanggal 13 nanti.

Dan rombongan kami bertambah 1 pasang suami istri. Kini kami ber delapan. Sekali lagi kami pamit kepada pimpinan KBIH kami.

Sayang, pada hari pertama di Mina, bayangan kesemrawutan di jamarat membuat kami takut untuk berangkat sendiri. Maka pada jumrah aqabah ini kami tidak bisa melaksanakan pada waktu afdhal. Karena kami takut berpisah dari rombongan. Maka kami mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan, yaitu melempar jumrah menjelang sore. Tentu saja akibatnya kami tidak bisa berangkat ke Makkah hari itu juga. Maka kami merencanakan ke Makkah esok harinya. Sebelum melempar jumrah ba’da dzuhur.

Ketika kami tiba di jalan besar di Mina, banyak bis menawarkan jasanya mengantar jamaah haji yang hendak melaksanakan tawaf ifadhah. Jadi kendaraan tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah ongkosnya. Berkisar antara 10 – 20 riyal perorang. Tarip dibedakan berdasarkan kenyamanan tempat duduknya. Kalau duduk di dalam bis bisa 15-20 riyal. Kalau mau murah yaitu 10 riyal, boleh duduk di atap bis, yang biasanya tempat menaruh bagasi.

Untuk mengirit biaya dan menambah pengalaman berhaji yang tidak serba enak, para suami ingin memilih duduk di atap. Tapi bagaimana dengan para istri? Di luar dugaan ternyata mereka menerima dengan antusias. Maka tidak berapa lami kami sudah meluncur ke Makkah di atas atap bis. Menyusuri sepanjang jalan, kami bisa menikmati pemandangan tanah SA yang gersang, gunung-gunung yang penuh dengan bebatuan, lalu pertokoan yang penuh dengan papan reklame produk jepang dan korea yang ditulis dengan huruf Arab. Bahkan sesekali kami harus menundukkan kepala, karena bis harus menembus terowongan yang membelah gunung. (meskipun tanpa menunduk kepala kami tak akan terantuk, karena terowongannya cukup tinggi).

Beruntung bis berjalan lambat, karena lalu lintas memang agak padat. Jadi ketakutan saya agak terhibur dengan pemandangan yang indah tadi. Dan syukur alhamdulillah saya dan istri yang suka mudah masuk angin tidak mengalaminya.

Sekitar jam 10 pagi kami telah tiba di Makkah. Karena banyak jalanan ditutup, bis berhenti sekitar 500 meter dari area Masjidil Haram. Kami berjalan kaki ke Masjidil Haram dan segera melaksanakan thawaf ifadah dilanjutkan dengan sa’i. Lalu duduk menunggu waktu dzuhur.

Ada kejadian aneh ketika kami selesai melaksanakan sa’i. Banyak sampah plastik dan debu-debu beterbangan di area mas’a. Sampai setinggi 3-4 meter. Ternyata kemudian kami ketahui dalam perjalanan pulang ke Mina. Ternyata angin kencang itu adalah pertanda akan turun hujan lebat yang kemudian menjadi banjir di Makkah dan Mina. (cerita tentang ini akan saya tulis nanti).