Jumat, Juli 24, 2009

Dua Tahun Terakhir Ini Aku..........

Alhamdulillah….

Dua tahun terakhir ini aku berada dalam komunitas yang penuh semangat. Semangat mandiri. Semangat bangkit dari keterpurukan. Semangat menggaji diri sendiri. Semangat berbagi. Semangat bersinergi. Semangat keluar dari zona nyaman. Semangat meraih sukses. Sukses untuk diri sendiri dan sukses untuk orang lain. Semangat mendapatkan penghasilan berlipat-lipat. Agar bisa sedekah lebih banyak lagi. Semangat mengeksplorasi otak anugrah ilahi. Untuk lebih khusyuk ibadah kepada-Nya.

Alhamdulillah, alhamdulillah….

Dua tahun terakhir ini aku berada dalam lingkungan komunitas yang penuh kepedulian. Peduli kepada teman senasib. Yang sedang merangkak-rangkak menuju kemandirian. Peduli kepada teman yang penuh semangat hendak bangkit dari kebangkrutan. Dengan sharing pengalaman dan saling memfasilitasi. Peduli kepada tetangga kiri kanan yang di PHK dari kantor dan pabrik-pabrik. Dengan mempekerjakannya sebagai karyawannya. Peduli kepada yatim piatu dhuafa. Dengan menyisihkan sebagian keuntungannya untuk bersama-sama mengadakan acara santunan demi santunan. Demi membahagiakan para yatim piatu duafa itu.


Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…..

Dua tahun terakhir ini aku "tenggelam" dalam komunitas yang meyakini rumus “banyak memberi agar banyak menerima”. Mereka banyak berbuat kebaikan karena yakin akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Mereka banyak menolong, karena yakin suatu saat mereka juga butuh pertolongan itu. Mereka banyak mengulurkan tangan, karena yakin setiap orang membutuhkannya termasuk diri mereka sendiri. Mereka banyak menanam, karena yakin suatu saat akan memanen. Mereka banyak berkorban, karena yakin Allah tak bakalan mendiamkannya. Mereka banyak menebar rahmat, karena yakin Allah yang Maha pemberi rahmat senang kepada orang yang menerbar kebaikan. Maka nanti Allah akan memberikan rahmat-Nya lebih banyak lagi.


Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah……

Dua tahun ini aku berada dalam lingkungan komunitas yang suka saling berkunjung. Silaturahim. Membangun ikatan persaudaraan. Saling menengok ketika ada yang sakit. Saling mendoakan ketika ada yang ditimpa musibah. Saling memaafkan ketika ada kesalahpahaman. Yang pada gilirannya bermakna membangun jejaring bisnis, jejaring pertemanan, jejaring informasi. Yang selanjutnya akan membuka pintu-pintu kemudahan. Kemudian mendatangkan rizki yang berkelimpahan. Menyaksikan janji Rasulullah bekerja dengan baik.


Alhamdulillah, ya Rabb…..

Teguhkan kami dalam kedudukan yang kokoh di jalan-Mu.

Pertajam kepekaan kami dalam menangkap peluang usaha dalam koridor keridhaan-Mu.

Luruskan niat kami dalam berbagi….

Luruskan niat kami dalam bersilaturahim….

Luruskan niat kami dalam bersinergi…

Cukupkan kami sehingga kami mandiri….

Cukupkan kami sehingga kami bisa membantu tetangga kami yang baru di PHK……

Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji diri sendiri……

Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji karyawan kami.....

Cukupkan kami sehingga kami bisa menggaji karyawan kami dengan layak …..

Sehingga kesejahteraan ada pada diri kami, keluarga kami, karyawan kami, masyarakat kami, kampong kami, dan negeri kami……


Amiiin…….

Kamis, Juni 11, 2009

PANGGILAN ITU….

Panggilan itu dikumandangkan muadzin dari masjid dan surau pada waktu yang bersamaan. Lima kali sehari. Sepertinya Allah memberikan kita fasilitas jeda pada aktifitas kita sepanjang hari. Bahkan hari-hari kita pun dimulai dengan panggilan menghadap kepada-Nya. Subuh kita dibangunkan oleh panggilan-Nya. Seketika sejak bangun tidur, kita dipanggil oleh-Nya untuk menyembah-Nya sebelum memulai aktifitas kita.

Lalu dzuhur. Jeda diberikan kepada kita. Disamping untuk mengisi energi fisik, kita juga mengisi energi ruhiyah dengan shalat. Maka Allahpun memanggil kita melalui lisan para muadzin.

Ashar, setelah lelah bekerja kita perlu rehat. Maka sebaik-baik istirahat adalah shalat. Maka Allahpun sekali lagi memanggil kita.

Memasuki malam, Allah memanggil kita sekali lagi. Mungkin banyak kejahatan di gelapnya malam. Alangkah indahnya jika dimulai dengan kepasrahan shalat kepada-Nya. Yang dilanjutkan dengan shalat isya untuk menutup hari, jika kita hendak istirahat berselimut malam. Allahpun memanggil kita lagi.

O indahnya panggilan itu. Menjadikan kita rehat dalam keletihan mencari nafkah. Menjadikan kita kembali ke jalan-Nya dalam kesibukan kita yang mungkin kita sedikit-sedikit kepleset ke luar dari jalur keridhaan-Nya.

Jika saja kita penuhi panggilan itu, pasti keseimbangan perjalanan kita menuju ke keridhaan-Nya bisa saja kita peroleh. Betapa Allah sayang kepada kita. Allah melakukan ‘quality control’ untuk menjamin kita menjadi pribadi mukmin yang berkualitas. Dalam statistical quality control, ada upper line dan lower line untuk mengontrol kualitas produk di pabrik. Garis atas dan bawah adalah garis toleransi deviasi. Jika sudah melewati garis itu, produksi harus dihentikan. Mesin harus disetting ulang. Timbangan harus dicek kembali akurasinya.

Panggilan shalat lima kali sehari bagaikan perangkat Allah untuk mengontrol kualitas kita secara periodic. Agar kita menjadi pribadi mukmin yang terjamin mutunya. Saat-saat kita bersimpuh di masjid memenuhi panggilan-Nya adalah saat-saat adjusting dan kalibrasi perangkat-perangkat pendengaran, penglihatan dan hati yang kita miliki yang telah diinstal oleh Allah dalam diri kita, agar tak menyimpang dari standar kualitas yang ditetapkan Allah.

Jika barang pabrikan ‘pasrah’ saja dicek kualitasnya setiap saat, kita punya nafsu untuk menentang dicek secara periodic. Kadang-kadang ketika ada waktu kita mau datang memenuhi panggilan itu. Jika kita sibuk, kita mengabaikan panggilan itu. Jika demikian maka bisa jadi potensi penyimpangan terjadi. Deviasi kualitas akan terdeteksi secara terlambat. Setelah terjadi komplain –keluhan- dari konsumen kita, yaitu siapa saja yang berinteraksi dengan kita. Ketidakpuasan muncul setelah produk yang kualitasnya tidak konsisten beredar di masyarakat. Demikian pula dengan kita. Ketika kita tak konsisten dengan nilai-nilai kualitas yang ditetapkan Allah, maka jangan heran jika suatu saat muncul keluhan.

Dalam terminologi quality control produk yang menyimpang bisa di 'hold" untuk diamati penyimpangannya. Jika masih bisa diperbaiki segera diambil tindakan sebelum di release ke masyarakat. Jika serius penyimpangan di 'rejected" untuk di scrapped dan masuk keranjang sampah.


Panggilan Allah itu untuk kebaikan kita. Jangan sampai kita direject oleh masyarakat yang kemudian melemparkan kita ke dalam ruang-ruang inkubasi atau bahkan tempat sampah karena penyimpangan yang terjadi dari perbuatan tangan-tangan kita. Karena kita enggan memenuhi panggilannya.


Kalau kita menghendaki produk kita berkualitas dengan melakukan pengawasan kualitas yang ketat, kenapa kita tak mau menjadi produk Allah yang berkualitas dengan tunduk pasrah mematuhi perangkat quality control yang ditetapkan-Nya?


Cikarang Baru, 11 June 2009

Senin, Mei 18, 2009

Jangan sampai tangan kirimu tahu!

Kurang lebih itulah gambaran orang yang ikhlas bersedekah. Tangan kanan memberi, tangan kirinyapun tak tahu. Kalau tangan kirinya saja tak tahu apatah lagi orang di sekitarnya.

Ada sebuah cerita nyata, seorang Ustadz mendapatkan amplop ketika selesai berceramah. Sambil berbasa-basi seorang pengurus masjid telah memasukkan amplop itu ke dalam kantong baju koko sang Ustadz. Tapi sang Ustadz menolaknya. “Wah, apa ini, tak usahlah…” Karena pengurus masjid itu memaksanya maka sang Ustadz mengatakan “Sudahlah… untuk dana masjid saja.” Katanya sambil mengembalikan amplop itu ke kantong baju koko Pak pengurus masjid itu.

Saya merenungkan kejadian itu. Lalu teringat gambaran keikhlasan di atas.
Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Artinya tangan kanan tetap tahu berapa jumlah yang disedekahkan. Tapi kini, dalam kisah di atas, jangankan tangan kiri, tangan kanan sang Ustadz pun tak tahu berapa yang disedekahkan kepada masjid dari hasil ceramahnya itu. Karena Sang Ustadz tak sempat membuka amplopnya.

Saya membuat simulasi asal-asalan, bagaimana jika amplop itu diterima dulu?
Lalu saya berandai-andai:
1. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan tetap mensedekahkan seluruhnya. Tapi dia akan ‘dihantui’ perasaan bahwa hari ini dia telah bersedekah sekian ribu ke masjid. Perasaan ini sering membawa kepada penyakit hati. Ada rasa ujub, menyanjung dirinya sendiri, meskipun tak tampak oleh orang lain.
2. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan mensedekahkan separohnya karena ternyata jumlahnya cukup besar. Dia akan segera teringat bahwa persediaan susu anaknya sudah habis. Dan separoh honornya itu bisa untuk membeli susu anaknya.
3. Setelah mengetahui jumlahnya sang Ustadz akan berfikir beberapa kali untuk bersedekah. Berarti dia menunda sedekahnya. Dalam masa jeda itu akan muncul bisikan agar dia menerima saja honornya itu, toh ilmu yang disampaikannya nilainya sebenarnya lebih besar dari pada honor yang diterima saat itu.
4. ……….

Astaghfirullah… saya stop saja tulisan ini, karena tak mau berandai-andai yang berujung pada prasangka buruk yang ternyata tak pernah terjadi. Toh sang Ustadz sudah menginfakkan semua honornya tanpa pernah tahu berapa jumlahnya.

Sebuah keikhlasan yang insya Allah, menjadi tambahan tabungannya yang setiap saat dapat dicairkan dalam jumlah yang berlipat ganda di dunia ini atau pahala yang tak ternilai di akhirat kelak.

Subhanallah…. Jangankan tangan kirinya, tangan kanannyapun tak tahu….

Cikarang Baru, 17 Mei 2009 (Cha)

Minggu, Mei 17, 2009

Kasih Tak Berbalas

Itulah kasih sayang Ibu kita. Benar-benar tak berbalas. Seberapa besar kita berbaktipun. Saat seorang sahabat kesana kemari menggendong Ibunya yang sudah jompo, Rasulullah mengatakan bahwa itu belum bisa membalas jasa Ibunya.

Astaghfirullah…
Lalu bagaimana aku, yang selama ini tidak pernah melakukan itu? Kalau hanya tegur sapa melalui sms, telepon, atau kunjungan pulang kampong, tiket pesawat dan materi lainnya itu tak pernah dibahas oleh Rasullullah, artinya itu masih kecil. Maka betapa GR-nya aku ketika merasa cukup berbakti dengan melakukan itu saja.

Benar-benar tak bakalan berbalas….
Apalagi ketika kita mau sedikit saja membalasnya Ibu menolaknya. Katanya tak mau merepotkan anak-anaknya. Saya iri ketika mendengar seorang teman memberikana kamar utamanya kepada Ibunya ketika Ibunya berkunjung ke rumahnya. Dan dia cukup tidur di sofa saja. Ketika saya coba menawarkan hal yang sama, Ibuku menolaknya. Dia memilih kamar anakku yang luasnya hanya separo ukuran kamarku.

Ketika pagi-pagi aku menawari membuatkan minuman, Ibu menolaknya dengan mengatakan “biar Ibu bikin sendiri nanti.” Saya tahu Ibu suka minum teh atau kopi panas-panas. Kalau saya nekat menyiapkannya juga, sedangkan beliau sekarang belum mau minum, pasti nanti dingin.

Setiap pagi Mbak tukang cuci datang jam setengah enam. Langsung dia mencuci baju kotor yang sudah ada di bak cucian. Sekitar jam delapan, aku mendengar Ibu di belakang mencuci sendiri baju-bajunya. Ketika aku tanya, kenapa tidak sama-sama dicucikan mbak, jawabnya “kasihan dia kerjaannya jadi nambah… ini juga cuma dikit kok.”

Ya, benar-benar tak bakalan berbalas….
Seakan kita tak punya kesempatan membalasnya. Sementara Ibu terus mengalirkan kebaikannya kepada kita. Ketika istriku sakit dan harus berobat jalan ke rumah sakit di Bekasi dan Jakarta, beliau beberapa kali menemani istriku, karena ada kerjaan rutin. Ketika aku melepas beliau pergi, aku mencium tangannya, megucapkan terima kasih sambil minta maaf sudah segede ini masih merepotkannya saja. Apa jawaban beliau?
“Doakan saja Ibu sehat dan kuat…” permintaan yang sederhana. Dan saya tahu jika Ibu diberi Allah kesehatan dan kekuatan, pasti digunakannya lagi untuk berda’wah di masyarakat, menengok anak cucunya dan menebarkan lagi kebaikan di mana-mana….

Ya, Allah, benar-benar aku tak mampu membalasnya….
Ketika anakku yang ketiga berulang tahun. Dia merayu neneknya. Saya tahu Ibu selama ini tak pernah merayakan ulang tahunnya atau anak-anaknya, maka demikian pula aku terhadap anak-anakku.

Tapi kini beliau takluk terhadap rengekan anakku.
“Cuma kasih makanan kecil ke teman semobil jemputan dan beberapa teman di kelas.” kata anakku. Maka malam menjelang hari ulang tahun itu, saya lihat Ibu bersama anakku pulang dari minimarket dekat rumah membawa makanan dan minuman lalu dibungkus plastic untuk dibagi-bagikan kepada teman-teman anakku besok.

Skor ku makin jauh saja tertinggal.
Ketika anakku yang di pesantren menelpon minta dikirimi makanan dan jas hujan, Ibuku mendengarnya. Malamnya sudah ada beberapa barang keperluan mandi untuk diselipkan ke dalam paket. Plus amplop berisi uang.

Aduuuh makin jauh saja aku tertinggal, sementara akau tak ada kesempatan untuk membalasnya.

Ketika musim hujan, air meluap melalui bak kontrol sehingga membanjiri kamar dan dapurku. Melihat hal ini Ibu cepat bergerak. Sambil minta izin kepadaku untuk membuatkan tanggul agar air tidak masuk ke ruang tamu dan kamar-kamar di sekitarnya. Beliau membuat tanggul dengan tangannya sendiri! Semen, pasir, dan batu bata serta potongan keramik sudah siap. Wal hasil, tanggul buatannya benar-benar bermanfaat. Aku tak lagi kelabakan ketika banjir datang. Ketika ini kuceritakan kepada Ibu, beliau tertawa senang. Ada kegembiraan yang menyembul dibalik tawanya karena bisa terus berbuat apapun demi anak-anaknya.

Gagal membalas kasih sayangnya, maka setiap selesai sholat aku hanya membalasnya dengan melibatkan kasih sayang Allah. Karena Rahman dan Rahim Allah sajalah yang bakal mengalahkan kasih sayang Ibu….. dengan sebuah baris doa:

“Allah Ya Allah, sayangilah dia sebagaimana dia selalu menyayangi kami sejak kami kecil sampai aku setua ini."

Awal bulan ini beliau pulang ke Surabaya. Saya sempat menawarkan kepadanya agar tinggal saja di Cikarang. Rumah di Surabaya dijual saja untuk dibelikan rumah di Cikarang. Jawabnya, “Ibu malah wanti-wanti jangan pernah menjual rumah yang di Surabaya. Kita orang Surabaya masak tidak punya rumah di sana.” Ini adalah jawaban romantisme kampong halaman yang bisa dimaklumi. Lalu beliau melanjutkan, “Lagian kalau di sini Ibu seperti pensiunan yang tak berguna. Cuma makan tidur saja.” Semangat berbaginya kepada masyarakat sekitarnya tak pernah pudar.

Masih sangat banyak lagi kasih sayang Ibu kepada ku, yang tak mampu aku menuliskannya semuanya saat ini. Suatu saat nanti aku akan menuliskannya menjadi sebuah buku.

Sayup terdengar nyayian pendek di lorong-lorong hatiku…..
Lima baris yang berisi lengkap gambaran seorang Ibu..

Kasih Ibu sepanjang beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Cikarang Baru, 17 Mei 2009

Sabtu, April 25, 2009

Undat-Undat


Waktu kecil dulu ada wejangan ortu yang saya ingat. Kalau memberi sesuatu jangan di”undat-undat”. Ini adalah bahasa jawa. Artinya mengungkit-ungkit pemberian. Jadi kita harus ikhlas. Jangan mengungkit-unkit pemberian, nanti merusak keikhlasan. Mengungkit-unkit saja tidak boleh apalagi memintanya kembali.

Nasihat itu sangat melekat di kepala saya. Maka kalau sekarang ada orang meminta kembali pemberiannya, sangat tidak masuk di akal saya. Apalagi untuk itu sampai harus membongkarnya kembali. Pompa air yang sudah disumbangkan kepada rakyat dibongkar kembali. Paving blok-pun dicongkel dari tanah lalu diangkut lagi dengan ke dalam truk.


Yang lebih masuk akalpun tetap tidak masuk di akal saya.

Ada 2 ekor kambing yang sudah dihibahkan kepada peternakan rakyat ditarik kembali. Untung belum beranak, kalau sudah malah 3 ekor dong yang ditarik. Peralatan band yang sudah disumbangkan ke Karang Taruna pun diminta kembali.


Fenomena yang tak masuk akal ini, kini memang sedang jadi tontonan menggelikan di televise. Pemberinya adalah para caleg. Diberikan kepada rakyat. Lalu diminta lagi karena ternyata dia gagal jadi anggota legislative. Karena pemberiannya tidak menuai dukungan rakyat.


Dalih yang juga tidak masuk di akal saya adalah rakyat ingkar janji. Karena rakyat tidak memenuhi janjinya untuk mendukung si caleg, maka si caleg menarik sumbangannya. Lho,…. Benarkah perjanjian itu ada? Kalau ada bukankah itu sama dengan suap yang bias dijerat dengan UU Pemilu No. 10 Tahun 2008?

Dalam Pasal 286 tertulis “… Menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu …..”


Jadi para caleg gagal yang sedang mengundat-undat pemberiannya ini sebenarnya sedang mempertontonkan money politics yang telah dilakukannya selama kampanye. Dalam UU Pemilu, yang demikian ini diancam hukuman pidana maksimal 36 bulan. Nah, lho…. Sudah gagal jadi aleg, stress, undat-undat, dijebloskan ke penjara pula.


Apakah Panwaslu menunggu pengaduan untuk hal ini? Sementara sang caleg-gagal telah secara tak sadar telah mengakuinya dengan mempertontonkan aksi konyolnya itu.


Cikarang Baru, 24 April 2009