Banyak orang mencari beasiswa. Biar bisa terus sekolah. Agar bisa terus menambah ilmu, sebagai bekal hidup di dunia dan di akhirat.
Banyak yang mencari beasiswa. Tapi belum banyak yang mencari calon siswa untuk diberi beasiswa.
Anda termasuk yang mana? Yang mencari beasiswa atau yang mencari anak asuh untuk diberi beasiswa?
Kalau termasuk yang mencari beasiswa, jangan lanjutkan membaca tulisan ini. Karena Anda tak bakal menemukannya di sini.
Tulisan ini hanya untuk Anda yang mencari anak asuh untuk dibiayai sekolahnya. Tulisan ini untuk Anda yang ingin menjadikan tangan Anda di atas. Bukan di bawah. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?
Ya, beberapa hari ini kami, saya dan istri, memberanikan diri menjadi CALO beasiswa. Namanya calo, berarti kami mencari beasiswa untuk orang lain.
Ceritanya kami telah mendapatkan 13 anak lulusan SMP yang ingin melanjutkan ke SMA tapi tak ada biaya. Alhamdulillah, istri diserahi tugas yayasan untuk mengepalai sebuah SMAIT di Cikarang. Muncul ide, bagaimana jika ke-13 anak ini ditampung di SMA-nya? Lho, kan SMA swasta mahal? Biayanya dari mana?
Tapi kalau banyak dipikir, niat baik ini gak bakalan jalan. Sementara anak-anak ini, kalau di sekolah lain belum tentu diterima. Kalau toh diterima belum tentu dapat beasiswa. Maka kami memberanikan diri memberi kesempatan anak-anak dhuafa ini bersekolah agar nanti sukses dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat kelak.
Maka gerilya mendapatkan danapun dilakukan. Alhamdulillah, sudah ada jamaah masjid kantor yang menyanggupi mau menanggung SPP bulanannya. Sudah ada pula yang menanggung uang seragam dan bukunya. Uang gedung, pemilik Yayasan berbaik hati memberi diskon 50%.
Jadi kurang apa?
Ya, kurang uang gedung yang 50% sisanya, plus uang kegiatan bulanannya diluar SPP. Uang kegiatan ini dipakai untuk kegiatan ekstra kurikuler, biaya kegiatan outdoor, biaya laboratorium, penggandaan soal ulangan, biaya ulangan umum, biaya kenaikan sekolah, dan lain-lain.
Maka kami kelimpungan kemana-mana mencari sisanya yang cuma Rp 17 juta untuk ke-13 calon siswa itu. Dan uang kegiatan yang cuma Rp 75.000,- per bulan per anak.
Ya, terpaksa kami menjadi tangan di bawah mencari dana. Dana yang nilainya cuma sebesar uang masuk seorang anak ke sekolah Islam favorit. Tangan kami di bawah, mengetuk pintu hati Anda, agar Anda bersedia mengulurkan tangan Anda memberi beasiswa bagi ke-13 anak-anak yang secara finansial tidak mampu tapi memiliki semangat untuk terus sekolah.
Jadi, ...
Silakan isi lowongan ini: memberi beasiswa!
Anda bisa menjadi donatur tetap untuk membayarkan uang kegiatan bulanan yang Rp 75.000 itu. Boleh untuk 1 orang saja. Tentu saja boleh lebih. Boleh juga setengahnya. Karena kami yakin banyak yang berminat menjadi penyandang beasiswa ini.
Atau Anda menyumbang untuk membantu menutup uang yang Rp 17 juta,- itu. Sebagian kecil, setengah, sebagian besar, atau seluruhnya. :D
Atau kedua-duanya.
Kami menyiapkan tangan kami di bawah untuk memberi kesempatan Anda. Menjadikan tangan Anda di atas.
Insya Allah.
Melamar lowongan ini?
Bisa menghubungi:
Lembaga Bimbingan Belajar ibnuSina
Telp. (021) 898 32 140
Hp. 0878 821 883 55
Atau email ke al.asyhar@gmail.com
Atau langsung action dengan transfer donasi Anda?
Ini rekening kami:
Bank Syariah Mandiri
Rek. No.: 104 001 7693 a.n. Choirul Asyhar
Atau share note ini di wall Anda agar lebih banyak teman yang berkesempatan menjadi tangan di atas?
Tinggal klik "Share".
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dan jazakumullaha khoiron katsiro atas kebaikan Anda semua.
Pasti Allah akan membalas kebaikan Anda berlipat ganda, sesuai janji-Nya.
Salam kami,
Choirul Asyhar - Owner Lembaga Bimbingan Belajar ibnuSina
Dewindra Suwita Saleh - Kepala Sekolah SMAIT Al Ichwan.
Selasa, Juni 22, 2010
Lowongan Beasiswa!
Senin, Mei 31, 2010
15 Relawan yang Meninggal dari Turki
Hidayatullah.com--Al Jazeera melansir, bahwa 15 relawan dari Turki yang ikut serta bersama “Armada Kebebasan” meninggal, disebabkan serangan brutal Israel terhadap kapal Mavi Marmara, yang memimpin perjalanan penyaluran bantuan untuk Gaza.
Disamping, itu Syeikh Raid Shalah, salah satu tokoh Islam Palestina, yang juga ikut menjadi korban kebrutalan serangan pasukan Israel kini dikabarkan menjalani operasi medis, setelah mengalami luka parah, disebabkan serangan tersebut.
Diketahui juga yang ikut terluka disebabkan serangan Israel adalah Dr. Hani Sulaiman, Ketua Utusan dari Libanon, yang bergabung dalam “Armada Kebebasan”. [tho/jzr/hidayatullah.com]
Delegasi Indonesia Sempat Nyanyikan Halo Halo Gaza
Hidayatullah.com—Semenjak Israel melakukan penyerangan terhadap Armada “Freedom Flotilla” yang menyebabkan lebih dari 19 korban meninggal dan puluhan luka berat, masyarakat Indonesia bertanya-tanya siapa saja 12 orang asal Indonesia yang ikut dalam rombongan itu
2. dr Arief Rachman
3. Abdillah Onim
4. Nur Ikhwan Abadi
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)
2. Muhendri Muchtar (Wakil Ketua Kispa)
3. Okvianto Baharudin
4. Hardjito Warno
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto
Israel Menyerang Kapal Kemanusiaan Mavi Marmara
Rabu, April 28, 2010
Kalau L/C jadi Dokumen Politik
Kasus L/C ”fiktif” banyak dihembus-hembuskan polisi, politikus, media berita dan lain-lain. Tidak ada penjelasan yang lengkap apa bagaimana L/C fiktif itu. Hal ini membawa ingatan saya saat pertama kali belajar L/C lebih dari 15 tahun yang lalu. Dikatakan dalam buku, bahwa L/C (singkatan dari Letter of Credit) adalah suatu jaminan pembayaran dari bank dalam perdagangan luar negeri. Atau perdagangan ekspor impor.
Karena itu bank menjembatani dengan menerbitkan L/C. Jadi Anda cukup memohon kepada banker Anda untuk membukakan L/C untuk Anda. Isinya kurang lebih: Anda akan membeli barang tertentu sekian unit dengan harga sekian kepada penjual Anu dengan alamat lengkap. Tak hanya itu disitu tercantum pengiriman dengan kapal atau pesawat terbang, tanggal berapa terakhir harus dikirim. Boleh dikirim parsial atau harus sekaligus dalam satu pengiriman. Yang terakhir Anda mencantumkan tanggal kadaluarsa L/C tersebut. Artinya jika melewati tanggal tersebut L/C sudah tak berlaku lagi. Jadi jika penjual tidak mengirim barang pada tanggal yang ditentukan, atau membiarkan L/C sampai kadaluarsa, berarti transaksi tak terjadi.
Setelah banker Anda menerbitkan L/C maka banker Anda menyampaikan L/C ini ke bank korespondensinya di negara asal penjual di luar negeri. Biasanya bank korespondensi ini adalah bankernya si penjual. Lalu bank di luar negeri ini akan menyampaikan kepada si penjual. Begitu menerima L/C ini maka penjual menyiapkan pengiriman barang.
Setelah barang dikirim, penjual akan menyetorkan dokumen-dokumen bukti pengiriman barang kepada bankernya di negaranya. Dokumen itu adalah Bill of Lading yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran penerima titipan barang penjual. Atau Airway bill jika penjual mengirimkan melalui pesawat terbang. Selain dokumen itu biasanya ada dokumen Invoice yang berisi nilai barang, Packing List yang berisi kemasan barang, serta dokumen-dokumen lain yang diminta dalam L/C. Sebagai pembeli, Anda biasanya mencantumkan syarat selain tiga dokumen itu, juga dokumen-dokumen lain yang biasanya disyaratkan oleh negara kita. Misalnya untuk produk makanan, ada dokumen Phitosanitary Certificate, Country of Origin, sertifikat fumigasi dan lain-lain.
Sepanjang dokumen yang diminta di dalam L/C itu lengkap, maka banker si penjual di luar negeri akan membayar nilai barang itu kepada penjual atau pengirim barang. Lalu banker si penjual akan menagih pembayaran kepada banker Anda di Indonesia. Dan pada gilirannya Anda akan ditagih membayar oleh banker Anda.
Sampai disini kita akan paham bahwa L/C adalah dokumen bisnis yang dikeluarkan oleh bank. Kalau ada yang fiktif siapa yang diuntungkan?
Sampai saat ini saya belum menemukan penjelasan bagaimana L/C itu bisa disebut fiktif. Maka saya bertanya-tanya apa untungnya importir ”membuat” L/C fiktif, kan dia yang beli. Kalau dia beli barang yang tak pernah ada, berarti dia akan ditagih pembayaran oleh bankernya. Apa untungnya?
Kata Bea Cukai, impor barang itu tak pernah ada. Kalau demikian berarti bank tidak membayar apapun kepada pengirim barang. Jadi siapa yang dirugikan?
Saya ingat beberapa kali saya menerima L/C dari pembeli di luar negeri, tapi karena produksi sedang jatuh, kami tidak bisa memenuhi order yang diminta di L/C. Akhirnya kami hanya gigit jari karena melewatkan peluang ini. Pembelipun akhirnya maklum dan memutuskan untuk membeli ke produsen lain. Kalau pembeli tetap ngotot mau beli dari kami, dia tinggal minta banker nya untuk mengamandemen tanggalnya. Atau mengeluarkan L/C baru. Gitu aja....
Jadi sepuluh tahun lebih berkecimpung dengan L/C, kami tidak pernah dipersoalkan jika akhirnya transaksi tak terjadi. Tidak jadi ekspor bukan berarti L/C yang saya terima fiktif.
Kalau ada yang dirugikan itu adalah pembeli, yang sudah capek menunggu barang. Dan penjual sendiri yang tidak jadi dapat untung karena tak jadi menjual barangnya. Ini namanya opportunity loss. Tapi ini wajar saja. Karena L/C memang murni dokumen bisnis.
Kalau L/C sudah jadi dokumen politik muncullah hal-hal yang aneh-aneh.
Ada yang bisa menambah informasi? Sehingga saya jadi paham kenapa gonjang-ganjing ini terjadi?
Cikarang Baru, 12 Jumadil Ula/ 27 April 2010

