Hidayatullah.com--Al Jazeera melansir, bahwa 15 relawan dari Turki yang ikut serta bersama “Armada Kebebasan” meninggal, disebabkan serangan brutal Israel terhadap kapal Mavi Marmara, yang memimpin perjalanan penyaluran bantuan untuk Gaza.
Disamping, itu Syeikh Raid Shalah, salah satu tokoh Islam Palestina, yang juga ikut menjadi korban kebrutalan serangan pasukan Israel kini dikabarkan menjalani operasi medis, setelah mengalami luka parah, disebabkan serangan tersebut.
Diketahui juga yang ikut terluka disebabkan serangan Israel adalah Dr. Hani Sulaiman, Ketua Utusan dari Libanon, yang bergabung dalam “Armada Kebebasan”. [tho/jzr/hidayatullah.com]
Senin, Mei 31, 2010
15 Relawan yang Meninggal dari Turki
Delegasi Indonesia Sempat Nyanyikan Halo Halo Gaza
Hidayatullah.com—Semenjak Israel melakukan penyerangan terhadap Armada “Freedom Flotilla” yang menyebabkan lebih dari 19 korban meninggal dan puluhan luka berat, masyarakat Indonesia bertanya-tanya siapa saja 12 orang asal Indonesia yang ikut dalam rombongan itu
2. dr Arief Rachman
3. Abdillah Onim
4. Nur Ikhwan Abadi
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)
2. Muhendri Muchtar (Wakil Ketua Kispa)
3. Okvianto Baharudin
4. Hardjito Warno
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto
Israel Menyerang Kapal Kemanusiaan Mavi Marmara
Rabu, April 28, 2010
Kalau L/C jadi Dokumen Politik
Kasus L/C ”fiktif” banyak dihembus-hembuskan polisi, politikus, media berita dan lain-lain. Tidak ada penjelasan yang lengkap apa bagaimana L/C fiktif itu. Hal ini membawa ingatan saya saat pertama kali belajar L/C lebih dari 15 tahun yang lalu. Dikatakan dalam buku, bahwa L/C (singkatan dari Letter of Credit) adalah suatu jaminan pembayaran dari bank dalam perdagangan luar negeri. Atau perdagangan ekspor impor.
Karena itu bank menjembatani dengan menerbitkan L/C. Jadi Anda cukup memohon kepada banker Anda untuk membukakan L/C untuk Anda. Isinya kurang lebih: Anda akan membeli barang tertentu sekian unit dengan harga sekian kepada penjual Anu dengan alamat lengkap. Tak hanya itu disitu tercantum pengiriman dengan kapal atau pesawat terbang, tanggal berapa terakhir harus dikirim. Boleh dikirim parsial atau harus sekaligus dalam satu pengiriman. Yang terakhir Anda mencantumkan tanggal kadaluarsa L/C tersebut. Artinya jika melewati tanggal tersebut L/C sudah tak berlaku lagi. Jadi jika penjual tidak mengirim barang pada tanggal yang ditentukan, atau membiarkan L/C sampai kadaluarsa, berarti transaksi tak terjadi.
Setelah banker Anda menerbitkan L/C maka banker Anda menyampaikan L/C ini ke bank korespondensinya di negara asal penjual di luar negeri. Biasanya bank korespondensi ini adalah bankernya si penjual. Lalu bank di luar negeri ini akan menyampaikan kepada si penjual. Begitu menerima L/C ini maka penjual menyiapkan pengiriman barang.
Setelah barang dikirim, penjual akan menyetorkan dokumen-dokumen bukti pengiriman barang kepada bankernya di negaranya. Dokumen itu adalah Bill of Lading yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran penerima titipan barang penjual. Atau Airway bill jika penjual mengirimkan melalui pesawat terbang. Selain dokumen itu biasanya ada dokumen Invoice yang berisi nilai barang, Packing List yang berisi kemasan barang, serta dokumen-dokumen lain yang diminta dalam L/C. Sebagai pembeli, Anda biasanya mencantumkan syarat selain tiga dokumen itu, juga dokumen-dokumen lain yang biasanya disyaratkan oleh negara kita. Misalnya untuk produk makanan, ada dokumen Phitosanitary Certificate, Country of Origin, sertifikat fumigasi dan lain-lain.
Sepanjang dokumen yang diminta di dalam L/C itu lengkap, maka banker si penjual di luar negeri akan membayar nilai barang itu kepada penjual atau pengirim barang. Lalu banker si penjual akan menagih pembayaran kepada banker Anda di Indonesia. Dan pada gilirannya Anda akan ditagih membayar oleh banker Anda.
Sampai disini kita akan paham bahwa L/C adalah dokumen bisnis yang dikeluarkan oleh bank. Kalau ada yang fiktif siapa yang diuntungkan?
Sampai saat ini saya belum menemukan penjelasan bagaimana L/C itu bisa disebut fiktif. Maka saya bertanya-tanya apa untungnya importir ”membuat” L/C fiktif, kan dia yang beli. Kalau dia beli barang yang tak pernah ada, berarti dia akan ditagih pembayaran oleh bankernya. Apa untungnya?
Kata Bea Cukai, impor barang itu tak pernah ada. Kalau demikian berarti bank tidak membayar apapun kepada pengirim barang. Jadi siapa yang dirugikan?
Saya ingat beberapa kali saya menerima L/C dari pembeli di luar negeri, tapi karena produksi sedang jatuh, kami tidak bisa memenuhi order yang diminta di L/C. Akhirnya kami hanya gigit jari karena melewatkan peluang ini. Pembelipun akhirnya maklum dan memutuskan untuk membeli ke produsen lain. Kalau pembeli tetap ngotot mau beli dari kami, dia tinggal minta banker nya untuk mengamandemen tanggalnya. Atau mengeluarkan L/C baru. Gitu aja....
Jadi sepuluh tahun lebih berkecimpung dengan L/C, kami tidak pernah dipersoalkan jika akhirnya transaksi tak terjadi. Tidak jadi ekspor bukan berarti L/C yang saya terima fiktif.
Kalau ada yang dirugikan itu adalah pembeli, yang sudah capek menunggu barang. Dan penjual sendiri yang tidak jadi dapat untung karena tak jadi menjual barangnya. Ini namanya opportunity loss. Tapi ini wajar saja. Karena L/C memang murni dokumen bisnis.
Kalau L/C sudah jadi dokumen politik muncullah hal-hal yang aneh-aneh.
Ada yang bisa menambah informasi? Sehingga saya jadi paham kenapa gonjang-ganjing ini terjadi?
Cikarang Baru, 12 Jumadil Ula/ 27 April 2010
Minggu, Januari 03, 2010
Alhamdulillah Allah Mengendalikan Mobilku
Menyaksikan foto ban mobil seperti ini terpasang di mobil yang berjalan dengan kecepatan 100 km/jam. Apakah yang terpikirkan oleh Anda?
Di jalan tol Jagorawi, aku melaju dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam.
Menuju Mega Mendung, aku membawa anak istriku dan keluarga iparku. Semuanya ada 11 jiwa termasuk aku. Jalanan lancar Alhamdulillah. Aku perkirakan dengan kondisi seperti ini, jam sembilan atau sepuluh aku sudah akan sampai di tujuan. Insya Allah.
Tiba di KM 19 sebuah bis melaju di kiri mobilku. Biasanya kalau bis atau truk melaju di sebelah mobil kecil, pasti kita merasa mobil kita goyang karena bis yang besar itu membelah angin. Dan anginnya tersibak menggoyang mobil-mobil kecil di kiri kanannya.
Ini pula yang kurasakan saat ini. Tapi goyangan mobilku tak seperti biasa. Setelah bis melaju menyalip mobilku, mobilku seperti terbanting ke kiri. Aku mencoba mengendalikannya dengan mengarahkan setir mobilku kembali ke kanan. Tapi mobil kembali mengarah ke kiri.
“Bannya kempes ‘kali?” Tanya iparku yang duduk di sebelahku. Aku mengiyakan, dan berusaha tenang mengarahkan mobilku ke kiri ke bahu jalan tol. Terbayang ban kiri belakang mobil kempes dan sedikit sobek karena kecepatan tinggi.
Begitu mobil berhenti, semua penumpang turun. Istriku langsung berkata keras.
“Ayah, bannya sobek!” Aku yang terakhir turun membayangkan ban sobek seperti biasa yang pernah saya saksikan.
Begitu melihat langsung, “Masya Allah.” kataku dalam hati. Apa yang terjadi sampai ban mobilku bisa pecah berkeping-keping seperti ini? Tapi aku tak mau berlama-lama memikirkan apa mengapa seperti ini. Langsung aku mengambil dongkrak dan menggantinya dengan ban serep. Ternyata ban serepnya kempes pula. Maka aku harus keluar pintu tol terdekat di KM 23. Cari pompa angin dan ban baru untuk persediaan.
Oh, ini tahun baru masehi, banyak toko dan bengkel tutup. Maka aku cuma mengisi angin saja. Lalu kembali ke KM 20 menjemput anak istri dan keluarga iparku yang menunggu di rerumputan di pinggir jalan tol.
Sekitar satu jam, kami menyelesaikan urusan ini. Dalam perjalanan menuju Puncak, aku hanya berjalan 80 Km per jam, sebelum akhirnya macet sekeluar dari tol Ciawi.
Sepanjang jalan aku berusaha menenangkan diri. Suara merdu Sheikh Abdurahman Sudais melantunkan Juz 30 di dalam mobil sangat membantu memberi suasana tenang, teduh dan pasrah.
Terbayang, demikianlah kalau Allah berkehendak. Tak hanya waktu yang kupatok yang meleset karena kehendak Allah. Tapi juga Allah masih berkehendak kami sehat wal afiat semuanya. Allah masih berkehendak, nyawa-nyawa kami masih bersemayam dalam raga kami. Sambil mendengar kaset murottal Sheikh Sudais oleh-oleh haji adikku, aku bersyukur dan beristighfar.
Bersyukur karena Allah masih berkenan menyentil kami dengan kejadian ini. Ini pertanda Allah menyayangi kami. Setelah ini kami harus meningkatkan intensitas muhasabah atas aktifitas kami selama ini. Kami harus memelihara segala anugerah-Nya dengan mensyukurinya.
Teringat doa sebelum berangkat yang kami –aku, istri, dan anak-anakku- lantunkan sesaat ketika mobil mulai melaju di depan rumah.
“Subhanalladzi sakhkhara lana hadza, wa ma kunna lahu muqrinin. Wa inna ilaa rabbina lamun qalibun.”
"Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya" (QS. Az Zukhruf: 13)
Maha suci Allah yang telah mengendalikan kendaraan ini. Ini doa kami. Dan Allah telah menjawabnya. Alhamdulillah. Tanpa pertolongannya entah apa yang terjadi. Tak mampu kami membayangkannya.
Aku juga beristighfar. Kejadian ini pasti teguran atas kesalahan-kesalahan kami selama ini. Tak ada kejadian yang patut disyukuri melebihi teguran kasih sayang Allah kepada kita. Tanpa teguran-teguran-Nya mungkin kita termasuk orang yang dibiarkan Allah dalam kesesatan yang bertambah-tambah sesat jalannya karena kemaksiatan yang kita lakukan. Betapa banyak Allah telah memberikan anugrah kenikmatan hidup kepada kita, tapi justru kita membalasnya dengan kemasiatan dan dosa.
Alhamdulillah. Astagfrullah.
Subhanaka Allahumma wa bihamdika Allahummaghfirlii….
Maha Suci Allah, dengan memujimu ya Allah ampunilah aku.
Mega Mendung, 15 Muharram 1431/1 Januari 2010.

